Skip to main content

Belajar Kerendahan Hati Dari Ash-habul Kahfi

Manusia dianugerahi akal untuk berpikir. Akal digunakan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang mengepung. Binatang, meski juga memiliki cara-cara khusus untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan, namun mereka tak berakal, hanya berinsting semata. Oleh karena itu, binatang tak bisa mengembangkan kebudayaan, sedangkan manusia bisa.

Manusia yang menggunakan akalnya dengan baik akan mudah menemukan kebenaran. Kebenaran akan adanya Tuhan adalah kebenaran yang utama. Lewat pengetahuan itu, tumbuhlah keimanan, sebuah pokok dan alasan utama manusia beragama.

Namun seringkali manusia mengandalkan akal terlalu banyak dan memberikan porsi terlalu sedikit kepada petunjuk Tuhan. Itulah sebab muncul kesombongan. Manusia merasa bisa menaklukkan dunia hanya berbekal akal. Hidayah hanya dianggap sesuatu yang tidak ilmiah. Seolah-olah segala persoalan tak melibatkan kuasa Tuhan di dalamnya. Maka muncullah teori-teori aneh yang tak masuk akal, seperti teori evolusi.

Manusia yang beriman menggunakan akalnya untuk memahami duduk persoalan. Tak jarang mereka mendapati penyelesaian masalah bukan dari akal, namun dari petunjuk Tuhan.

Simaklah kisah penghuni gua dalam surat Al-Kahfi berikut:
َﻛَﺬَٰﻟِﻚَ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻟِﻴَﺘَﺴَﺎﺀَﻟُﻮﺍ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ۚ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻛَﻢْ ﻟَﺒِﺜْﺘُﻢْ ۖ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺒِﺜْﻨَﺎ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﺾَ ﻳَﻮْﻡٍ ۚ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺒِﺜْﺘُﻢْ ﻓَﺎﺑْﻌَﺜُﻮﺍ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﺑِﻮَﺭِﻗِﻜُﻢْ ﻫَٰﺬِﻩِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺃَﺯْﻛَﻰٰ ﻃَﻌَﺎﻣًﺎ ﻓَﻠْﻴَﺄْﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺮِﺯْﻕٍ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻟْﻴَﺘَﻠَﻄَّﻒْ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﻌِﺮَﻥَّ ﺑِﻜُﻢْ ﺃَﺣَﺪًﺍ
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali- kali menceritakan halmu kepada seorangpun."

Gambar dari https://www.islampos.com/dimana-letak-gua-ashabul-kahfi-153161/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C6525063458

Perhatikanlah kalimat yang dicetak tebal tadi: " Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). "

Subhanalloh, tampak betapa rendah hatinya penghuni gua ini, menurut mereka, pengetahuan Tuhan jauh lebih banyak daripada pengetahuan mereka, bahkan untuk urusan mengenai keadaan diri mereka. Pantaslah jika mereka disebut sebagai orang-orang yang beriman dan mendapat petunjuk. Pantas pula jika Tuhan mengabadikan kisah mereka di dalam Al-Quran.

Segala pengetahuan adalah milik-Nya. Kepada Dia kita bergantung. Semoga kita dapat meneladani para pemuda ini. Aaamiiin.

Comments

  1. Setuju sekali dengan artikel ini, teladan seumur hidup nabi kita Rasullulah As..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panutan terbaik memang Rosulullaah saw mbak.

      Delete
  2. Rendah hati itu susah banget, sering ingin menunjukkan bahwa saya bisa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang besar pahalanya memang sulit ya mak. Semoga kita bisa.

      Delete
  3. Rendah hati bukan minder loch
    Orang yang tinggi hati bisa celaka atau dijauhi sahabatnya
    Terima kasih pecerahannya
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Pakde. Bukan rendah diri. Senang kalau bertemu orang rendah hati.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.