Skip to main content

Lampu Riting dan Perilaku di Jalan Raya

Lampu riting atau juga disebut lampu sein, sejatinya adalah alat komunikasi antarpengendara di jalanan. Dengan menyalakan lampu sein, berarti seseorang sedang minta jalan untuk berbelok, mendahului atau minta agar tidak didahului. Lampu riting juga bisa digunakan untuk memberi tanda bahwa kendaraan akan segera berjalan setelah sebelumnya diam terparkir. Fungsi lampu riting ini sangat penting. Tanpanya, bisa-bisa sering terjadi tabrakan di jalanan.

Sayangnya, lampu riting yang penting ini seringkali diabaikan penggunaannya. Masih ingat dengan lampu riting dengan bunyi di sepeda motor merk Yamaha keluaran tahun 1990-an? Lampu riting dibuat ada bunyinya supaya si pengendara ingat bahwa ia tengah menyalakan lampu riting. Ini menandakan bahwa sebagian pengendara sering lupa mematikan lampu riting saat sudah selesai berbelok. Akibatnya, kendaraan berjalan lurus tapi lampu riting masih menyala sehingga membuat bingung pengguna jalan yang lain. "Ini mau belok apa nggak sih, kok dari tadi riting tapi jalannya lempeng aja?"

Berikut ini beberapa kesalahan penggunaan lampu riting yang biasa dilakukan pengendara:

Riting Mendadak

Beberapa hari lalu saya menyaksikan sebuah hasil tabrakan antara dua sepeda motor. Satu sepeda motor hendak menyeberang lalu ditabrak dari belakang. Kedua pengendara terluka. Banyak cerita beredar, namun yang paling masuk akal adalah yang tertabrak menyalakan lampu riting secara mendadak dan langsung memotong jalan. Jelas saja yang di belakangnya gelagapan.

Perilaku seperti ini sudah sangat sering saya saksikan, meski tak berakhir dengan tabrakan, setidaknya membuat pengguna jalan lain senam jantung. Sebaiknya, seharusnya, lampu riting dinyalakan tidak mendadak. Kemudian jangan pula langsung memotong jalan. Mentang-mentang sudah menyalakan lampu langsung sikat saja. Ya kalau yang di belakangnya siap, kalau tidak? Belum lagi tak jarang lampu riting kurang jelas menyalanya.

Prosedur menyeberang bagi sepeda motor yang aman adalah: menepi, nyalakan lampu riting, tunggu hingga jalanan cukup lengang, baru menyeberang. Ini berlaku bagi jalanan yang tidak macet, ya. Untuk jalanan yang macet apalagi yang parah, saya belum ada pengalaman dengan itu.

Riting tapi Slengekan

Yang ini biasanya begini: kendaraan dari sisi luar kiri jalan, menyalakan lampu riting, langsung masuk jalur tanpa lihat depan-belakang. Bisa jadi kendaraan baru saja diparkir atau turun dari badan jalan. Sepeda motor yang berbuat begini saja sudah bikin kesal, apalagi mobil.

Kalau mau masuk jalur harap diingat bahwa jalan raya itu milik umum, jadi banyak yang menggunakannya. Setelah riting tengoklah dulu kondisi lalu-lintas. Amankah? Jika sudah aman, baru masuk jalur.

Minta Jalan tapi Ngawur

Paling banyak kejadian riting minta diberi jalan itu di jalur luar kota. Biasanya truk, bis dan mobil sering melakukan ini: riting kanan supaya diberi jalan untuk mendahului kendaraan di depannya.

Tapi, seringkali riting kanannya ini tidak pakai tepa selira, tanpa toleransi. Mentang-mentang minta jalan lalu ambil jalur kanan sebanyak yang disukai. Ya kalau jalanan sepi-pi-pi, nah kalau ada sepeda atau sepeda motor di sana? Parahnya lagi, kadang sudah merebut jalur, nglakson pula. Waduh...ke mana perginya etika?

Berkendara di jalan raya jelas bukan pekerjaan sepele. Perlu ilmu dan ketrampilan. Kalau masih menganggap jalan raya sebagai tempat latihan, sebaiknya jangan menyetir. Jalan raya bukan tempat unjuk kekuasaan ataupun tempat menyabung nyawa.

Comments

  1. Wah. Satu hal bisa bencana ya Mba. Sering tuh kalau lg sama kakak naik mobil. Tiba2 dr kiri ada yang nyelip n belok ke kanan. Mbok ya kalau mau belok kanan ya dari kanan gitu ya.
    Soal yang buat nyalip kanan, jadi inget pas jalan malam2 dr Cirebon ke Sumedang. Wuidihhh. Ngeri. Hahaha. Supir bus n truck pada berani semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalur luar kota itu yang paling bikin stres. Pada nekat-nekat! Apalagi yg asal motong jalan...duuuh...memprihatinkan!

      Delete
  2. Dari pengamatan.....biasane usia sing rawan ngawur berkendar tu para ABG usia SMP-SMA, seakan-akan punya nyawa serep aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan-jangan sekarang nyawa dijual online ya. Hehe...

      Delete
  3. Banyak yang ngasih lampu sen tapi pas uda mau belok banget.. Bahaya iss.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mepet gitu ya mbak. Terus yang repot tuh kalau ada apa-apa nyalahin pihak lain. Haduuuh...

      Delete
  4. Pengalaman paling sering itu ibu" naik motor yang menyalakan riting untuk belok tetapi justru dia belok ke arah sebaliknya.. entah panik, cemas atau apa... dan sepertinya ragu" dijalan..

    ReplyDelete
  5. Iya mas. Bisa jadi karena saking senangnya nyalakan riting sampe nggak mau matikan ya. Haha...

    ReplyDelete
  6. Saya kalo dibonceng suami, ritingnya dobel mbak..sen motor sama tangan saya..hehe..daripada diseruduk or serempetan ama pengendara blkg yang ga konsen :p

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.