Skip to main content

Belajar Bahasa Lain = Belajar Ikhlas

Sejak anak-anak sering nonton film Boboi Boy, mereka jadi kenal Bahasa Malaysia. Kadang-kadang mereka juga menirukan dialog dalam film bahkan mulai menerapkannya dalam keseharian mereka. Contohnya kata "Ya lah" dengan logat Malaysia.

Gambar dari www.boboiboy.com

Ketika belum kenal Boboi Boy dan hanya nonton Upin dan Ipin, perbendaharaan bahasa anak-anak saya belum seperti sekarang. Sepertinya faktor daya tarik film dan intensitas menonton sangat berpengaruh. Makin tertarik dan makin sering menonton, makin cepat ilmu terserap.

Tapi suami saya punya tambahan lain: faktor ikhlas. Mmm...maksudnya?

Jadi begini, ketika seseorang belajar bahasa lain (termasuk bahasa daerah lain dan bahasa asing), ia bisa segera menguasainya jika ada perasaan ikhlas menerima bahasa lain tersebut memiliki kedudukan yang sama dengan bahasa ibu. Semakin ikhlas, semakin cepat. Coba bayangkan jika seseorang belajar bahasa lain namun menganggap bahasa lain itu lebih rendah kastanya atau lebih buruk kedudukannya dari bahasa ibunya, bisa dipastikan kemajuannya berbahasa lain akan seret. Mau bicara dengan bahasa lain itu gengsi, malu, enggan. Kapan majunya?

Ikhlasnya pun bukan hanya harus datang dari diri sendiri, tapi juga dari orang-orang terdekat. Pengalaman pribadi saya saat belajar Bahasa Inggris. Bahasa Inggris punya kedudukan yang baik di masyarakat, maka mempelajarinya pun relatif mudah. Orang tua mendukung dan bangga jika saya bisa berbahasa Inggris. Lain halnya saat saya belajar Bahasa Mandarin. Dukungan orang tua kurang, sehingga ilmu yang saya pelajari tidak mendapatkan tempat dan akhirnya memudar.

Di zaman sekarang mungkin lebih mudah lagi belajar bahasa asing. Ada situs bahasa, video-video di youtube, grup di media sosial hingga aplikasi yang dapat diunduh gratis. Namun, fasilitas tanpa keikhlasan tetap bisa menghambat.

Jadi, sekiranya kita sedang belajar bahasa lain dan kurang ikhlas atau kurang mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, segeralah mencari stok ikhlas agar proses belajar kita tidak surut.

Comments

  1. Klo ikhlas sih ikhlas mbak...tp klo belajarnya udah gede, yang sering kumat penyakit tidak pede nya itu lho.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha...itu penyakit degeneratif bu.

      Delete
  2. Replies
    1. Kelihatan kalo di sekolah dulu tuh, mbak. Belajar bahasa daerah gak pinter-pinter, hahaha...

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.