Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2014

Hutan Jati

Berjalan-jalan di hutan jati di saat musim kemarau itu berkesan. Tanah kering, pohon jati yang nyaris tanpa daun, langit biru bersih. Langkah kaki pun bersuara.
Akan lebih indah ketika matahari baru saja menggeliat dari tidur malamnya. Lokasi: hutan jati Grape, Kabupaten Madiun.

Istri Lemah

"Aku mangkel sama yang jualan perabot di pasar."
"Kenapa?"
"Jualan kok nggak ramah."
"Lho, ya salahmu, kenapa beli di sana?"Itulah percakapan saya dengan suami saya sepulang saya beli timbangan kue di sebuah kios di pasar. Bukannya dapat dukungan, saya malah dikritik. "Kamu itu," kata suami saya, "Kayaknya

Pikiran Ngeres

"Masak kek gitu porno? Pikiran lo tu yg ngeres.""Jangan ngeres ya. Ini cuma guyonan, kok." Pernah ketemu kalimat-kalimat semacam itu? Apa? Sering? Anda yang ngucapkan atau Anda yang dikatain?Pikiran ngeres artinya pikiran yang nyerempet ke hal-hal porno atawa cabul. Pikiran ngeres alias pikiran kotor alias otak kotor sering jadi bahan obrolan khususnya di dunia maya. Dunia maya tempat bersembunyi
Dunia maya sekarang ini sudah jadi bagian dari kehidupan nyata. Bahkan ada yang meramalkan di masa mendatang yang tak jauh dari masa kini, dunia maya akan menempati 70% dari hidup manusia.

Ketika Agamanya Tidak Jelas

Pro-kontra mengenai pengosongan pada kolom 'agama' di KTP kembali marak terdengar. Tidak main-main, isu ini dilontarkan oleh Menteri Dalam Negeri. Penganut keyakinan di luar enam agama resmi yang diakui pemerintah boleh tidak mencantumkan nama keyakinannya tersebut di KTP. Pihak yang pro usulan ini menggunakan alasan untuk menghindari diskriminasi dalam pengurusan tetek-bengek dalam hal administrasi. Contohnya penganut agama X akan dipersulit jika mengurus surat-surat sebab petugasnya beragama Y. Yang kontra berpendapat bahwa pengosongan kolom agama akan berdampak luas terutama dalam hal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris dan kematian.

Ibu, Sosok yang Istimewa

"Semoga Alloh mengampuni saya dan memberi saya kesempatan untuk bisa membuat ibu saya bangga." Mungkin itu kalimat paling tepat untuk menggambarkan bakti saya kepada orang tua, khususnya kepada Ibu.

Ibu adalah orang yang hampir selalu mendukung cita-cita saya. Ibu juga yang senantiasa menegakkan langkah saya di saat saya merasa tak mampu. "Kau bisa jadi seperti dia," kata Ibu saat saya masih kecil sambil menunjuk kepada Inke Maris di layar berita TV.

Saat Perempuan Bekerja di Luar Rumah

Pagi ini saya berjumpa dengannya. Seorang ibu yang bersemangat. Senyum mengembang di wajahnya yang tak lagi muda. Bintik-bintuk di pipinya tak mengurangi keindahan senyumnya. "Badhe tindak pundi, Bu?", tanya saya. Mau pergi ke mana, Bu? Beliau mendekati saya. Sambil terus melangkah kami ngobrol sebentar. "Mau buka warung," katanya.
"Di mana, Bu?" tanya saya. Beliau tersenyum lagi. Ternyata beliau bekerja di warung makan lesehan milik tetangga. "Saya bagian masak," katanya lagi. Gambar dari http://gicdepok.wordpress.com/lembaga/"Saya turut senang melihatnya bersemangat. Seingat saya, beberapa bulan lalu suaminya meninggal dunia. Beliau tinggal sendirian dan terlihat murung.