Skip to main content

Buruk Sangka Kepada Suami

Buruk-sangka-kepada-suami


Pagi ini saya mengantar dua anak saya ke TK dengan terburu-buru karena terlambat. Parahnya saya belum sempat mandi. Tak masalah, asal bisa sampai ke sekolah dengan selamat dan cepat. Usai mengantar anak-anak masuk kelas, saya berniat pulang untuk mandi dulu kemudian kembali lagi ke TK. Maklumlah, anak saya yang kecil masih minta ditunggui di sekolah. Saya pamit kepada anak saya dan berjanji untuk segera kembali.

Saya menelepon suami saya untuk memastikan posisinya, sebab kunci pintu rumah dibawanya berhubung suami saya berangkat paling akhir. Niat saya jika suami sudah di kantor, saya akan ke sana untuk meminta kunci rumah dulu. Jika suami saya masih di rumah, maka saya akan memintanya untuk menunggu saya sebentar. Kebetulan jarak rumah-kantor-TK cukup dekat, hanya sekitar 1,5 km.

Saya meleponnya hingga dua kali namun tak juga diangkat. Saya pun menjadi kesal.  "Lagi apa sih kok telepon nggak diangkat?" batin saya. Buruk sangkalah saya kepadanya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil rute ke kantor dulu, siapa tahu suami saya sudah sampai di sana. Ternyata belum. Maka saya segera menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah saya mendapati pintu garasi terbuka dengan mobil masih di dalamnya. Suami saya sedang berdiri di dekat mobil. Melihat saya datang suami saya terlihat seperti tak menduga.

"Ada apa?" tanya saya.

"Kunci mobil ketinggalan di dalam mobil," jawab suami saya.

Oh.

"Tas, hp, laptop, kunci rumah juga di dalam mobil," lanjut suami saya.

Oh lagi.

Buruk-sangka-kepada-suami



Jadi ini sebabnya suami saya tidak menjawab panggilan saya tadi. Wahai buruk sangka, kenapa kau hadir tadi? Pada akhirnya mobil bisa dibuka setelah meminta bantuan sopir kantor dan keadaan kembali normal.

Tak hanya sekali kejadian berburuk sangka ini terjadi. Mungkin merupakan hal yang lumrah bagi pasangan suami istri, apalagi bagi kami yang baru 6 tahun menikah. Salah sangka, buruk sangka menghiasi dinamika hidup berumah tangga. Biasa terjadi namun juga harus diwaspadai sebab bisa memicu pertengkaran yang bisa berujung pada perpecahan. Tentu tak ada yang ingin mengalaminya, kan?

Lalu bagaimana agar tak menjadi bumerang bagi rumah tangga? Yang jelas kita perlu introspeksi. Adakah kita sering menyebabkan timbulnya buruk sangka? Jika ya, kurangi itu. Selebihnya percayalah kepada pasangan dan bertawakallah kepada Alloh, sebagaimana nasihat ibu saya dulu, "Suamimu di rumah adalah milikmu, tapi di luar rumah ia bukan milikmu. Pasrahkanlah kepada Alloh dan biarkan Alloh yang menjaganya."

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 8th Tn & Ny. Aulia.

Comments

  1. sama Mak, aku juga sering buruk sangka, cuma di dalam ati aja gak sampai dikeluarin....kalau tau kita yg salah akhirnya malah malu sendiri..memang hati ini perlu dilatih untuk belajar berpikir positif ya

    ReplyDelete
  2. betul mak. malu sendiri jadinya. ternyata kualitas diri ini msh harus dipertanyakan.

    ReplyDelete
  3. berburuk sangka memang penyakit yg harus segera diusir ya mak...

    ReplyDelete
  4. Sifat dasar manusia,mungkin ya,mbak...hehe...biasanya kita sering berasumsi sendiri tanpa ngumpulin data dulu...mending kalo bener...kalo ternyata tidak...malu deh...:D

    Makasi sharingnya ya...:-)

    Salam kenal,


    Mia Wify

    ReplyDelete
  5. mak Nathalia: manusiawi banget ya mak.

    mak Santi: diusir2 jg suka datang lagi, apalg kl nggak diusir ya.

    mbak Mia: makasih atas kunjungannya mbak. asyik, dikunjungi empunya gawe...

    ReplyDelete
  6. Kita dilarag buruk sangka loch Jeng.
    Kita membayagkan sesuatu ternyata yang terjadi malah sesuatu yang lain.
    Sebaiknya saling mendoakan saja ya
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  7. betul Pak De. buruk sangka mmg berbahaya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…