Skip to main content

Lawan Bullying: Sama Dengan Kamu

Kasus kekerasan terhadap anak sebetulnya sudah terjadi sejak dulu, setidaknya sejak saya masih kecil. Dulu belum ada atau belum banyak perhatian yang tertuju pada masalah bullying. Kalau dalam bahasa anak-anak, bullying itu sederhananya adalah 'dinakalin'. Alasannya, ketika anak dibully, biasanya ia akan menganggap bahwa yang membully itu nakal.

Bullying pada tingkat umur yang lebih tinggi, pada pra remaja dan remaja biasanya diistilahkan 'dikerjain' atau kalau dalam ospek 'diplonco'. Bapak saya pun dulu juga sering menggunakan istilah diplonco untuk keadaan seseorang dibuat tak berdaya, disuruh melakukan ini dan itu yang tak disukainya dan atau yang tak sanggup dilakukannya disertai ancaman hukuman fisik dan atau verbal. Wah, panjang betul, ya.

Saya pun punya pengalaman dibully sewaktu duduk di SD. Pembullynya adalah teman sebangku sendiri yang suka mengancam agar saya meminjamkan barang-barang saya kepadanya, menemaninya ke mana-mana, membantunya mengerjain teman lain, mengikuti cara-caranya, sampai menukar hasil ulangan saya dengan miliknya. Kalau tidak mau saya dicubitnya diam-diam di kelas di bangku. Kukunya yang panjang dan tajam membuat sakit yang lumayan. Aksinya menukar hasil ulangan kami beberapa kali berakhir saat akhirnya ketahuan ibu saya. Penghapusan dan pengubahan nama pada hasil ulangan kami kurang bersih, sehingga mencurigakan. Lalu ibu menanyai saya dan saya pun mengaku. Ibu pun kemudian melaporkan kejadian ini kepada guru.

Si pembully ini kerap menukar hasil ulangan kami karena nilai saya selalu di atas nilainya dan terpaut cukup jauh. Masalahnya, ibu si pembully ini tak segan-segan memarahi dan menghukum secara fisik jika nilai teman saya itu tadi jelek. Waktu di SD dulu saya termasuk dua besar di kelas. Kalau tidak rangking satu ya rangking dua. Ya, zaman dulu masih pakai sistem rangking. Jadi, klop sudah. Saya dibully karena dia pun dibully sang ibu. Dan acara bully dibully ini berakhir ketika saya lulus SD. Alhamdulillaah. Bye-bye...

#

Kini saya sudah punya anak laki-laki yang mulai belajar di TK. Sebelum bersekolah, sungguh ia anak saya sepenuhnya. Saya sadar, nanti kalau sudah bersekolah, anak saya 'pasti' (yakin banget, ya) akan tertular virus nakal. Kalau bahasa saya 'kulakan nakal'. Ya bicara jelek, ya main fisik, ya kenal jajanan. Sadar sesadar-sadarnya menyebabkan saya harus membekali anak saya dengan ketrampilan 'bela harga diri'.

Untuk urusan bullying secara fisik seperti dipukul, ditendang, didorong dan sebagainya, saya ajarkan dua hal. Satu, balas dengan setimpal selagi memungkinkan. Memungkinkan ini berarti anak saya mampu secara mental untuk membalas alias berani untuk membalas. Kalau dipukul di punggung, balas pukul di punggung dengan kekuatan pukulan yang setara. Kecuali daerah kepala dan anak perempuan, tidak saya izinkan. Kedua, menghindar. Jika tak berani, maka hindari si pembuat onar. Itu lebih aman.

Untuk urusan bully secara verbal seperti diejek atau diumpat, saya ajarkan anak saya untuk membalas dengan kalimat "sama dengan kamu". Misalnya anak saya dikatain "Jelek!" maka ia akan membalas "Sama dengan kamu". Apapun yang diumpatkan si pembully, cukup balas dengan itu. Tentunya disesuaikan dengan bahasa yang dipakai si pembully, apakah Bahasa Indonesia atau bahasa daerah, bahasa Jawa dalam hal ini.

Tak lupa saya berpesan kepada anak saya untuk melapor kepada guru, saya dan orang tua si pembully, kalau ada. Setidaknya melapor kepada guru dan saya dengan format seperti ini "Si Anu tadi mukul aku di kepalaku".

Saya juga berpesan kepada anak saya untuk tidak memulai duluan. Kalau dinakalin boleh membalas, tapi tidak boleh memukul duluan. Sebagai langkah antisipatif, saya pun berusaha mendekati si pembully dan orang tua si pembully. Kepada si pembully saya ajak ngobrol. Saya bertanya tentang adiknya, kakaknya atau saudaranya. Bisa juga tentang tempat tinggalnya. Pokoknya apa pun yang berkaitan dengan hal pribadinya yang disukainya. Dengan begitu si pembully merasa saya ada perhatian kepadanya dan menjadi segan untuk menakali anak saya. Dan ini sudah terbukti manjur, setidaknya pada dua anak.
Ya, namanya juga orang tua, saya tak ingin anak saya mengalami pembullyan berkelanjutan seperti saya dulu. Saya pribadi, sih, tidak trauma dengan masa lalu saya, namun saya tak tahu apakah anak saya begitu atau tidak. Daripada ini dan itu lebih baik anak saya siap lebih dulu. Meski mungkin kesiapannya pun berproses namun tak menjadi masalah, asalkan dia semakin matang dari hari ke hari.

Harapan dan doa agar kasus bullying lenyap dari muka Bumi ada, tetapi tak ada salahnya mempersiapkan diri. Semoga anak-anak saya dan anak-anak kita terhindar dari bullying, baik sebagai yang dibully ataupun sebagai pembully. Aaaaamiiiiin.

Sumber gambar: Wildeagency

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.