Skip to main content

Mau Makan Tas Kresek

Hidup bersama orang yang berasal dari daerah berbeda sering menimbulkan keunikan. Ada yang membuat geli, ada juga yang membuat malu.

Sewaktu saya tinggal di Pondok Karya, Bintaro, Tangerang Selatan, saya pernah dibuat geli oleh kebodohan diri sendiri. Di suatu pengajian untuk peringatan kehamilan seseorang yang mencapai usia tujuh bulan, saya bercakap-cakap dengan seorang ibu yang asli Betawi. Saya bertanya tentang si empunya hajat kepada ibu tadi. Ternyata yang dirayakan kehamilan tujuh bulannya adalah anak terakhir si empunya hajat. Iseng saya bertanya kepada ibu tadi, "Emang Mpok Mun itu putranya berapa sih, Bu?". Ibu tadi menjawab, "Satu". Lho, saya bingung. Katanya ini syukuran anak terakhirnya, tapi kenapa si ibu ini bilang bahwa anak Mpok Mun cuma satu?

Kebingungan saya hilang ketika kemudian ibu itu menjelaskan, "Putranya satu, putrinya tiga". Oh. Ternyata saya yang salah. Saya menggunakan Bahasa Indonesia dalam konteks Bahasa Jawa. Dalam Bahasa Jawa istilah 'putra' digunakan sebagai bentuk sopan dari kata 'anak'.

Cerita lucu yang lain lagi adalah ketika saya bersama suami dan anak-anak pindah ke Madiun. Saya yang lahir dan besar di Yogya sempat kebingungan mendengarkan percakapan warga setempat. Selain lagu bicara yang sedikit berbeda, ada juga kosa kata 'baru'. Saya kira bahasa Jawa di mana-mana sama saja, jika ada perbedaan pun mungkin tidak jauh. Ternyata tidak juga.

Seperti perkenalan pertama saya dengan seorang tetangga di perumahan tempat saya tinggal ini. Saya berkenalan dengan Ibu Yadi. Beliau bercerita tentang anak-anaknya. "Yoga kula sampun omah-omah sedaya", kata Ibu Yadi. Yoga saya sudah menikah semua. Saya pikir ibu ini anaknya bernama Yoga. Tapi kok sudah menikah, semua? Lho, apa semua anaknya bernama Yoga? Ternyata di Jawa Timur sangat umum menyebut 'anak' dengan istilah 'yoga', sedangkan di Yogya tidak. Itu saja masalahnya.

Ada lagi kejadian seram dengan ART pertama saya di Madiun ini. Suatu ketika ART saya ini berkata, "Bu, kula nedhi kresek, nggih". Saya terkejut mendengarnya. Sebab saya belum pernah menjumpai istilah 'nedhi' di Yogya. Adanya 'nedha', yang artinya makan. Masak mau makan tas kresek? Jelas, saya bingung campur takut. Ternyata, 'nedhi' itu artinya 'minta'. Legalah hati saya.

Ada juga cerita unik berkenaan dengan Bahasa Sunda. Istri adik saya berasal dari Sukabumi. Orang Sunda asli. Suatu ketika di meja makan kami mengobrol soal masakan. Tiba-tiba adik ipar saya itu berkata, "Kalau di Sukabumi daun gedang itu dimakan juga". Saya bengong mendengarnya. Melihat ekspresi wajah saya, adik ipar saya pun buru-buru bertanya, "Kalau di sini gedang itu apa?". Oh, ternyata di Jawa gedang itu pisang, sedangkan di tanah Sunda gedang itu berarti pepaya. Jelaslah sudah.

Gambar diambil dari situs ini

Mengalami 'kesalahan berbahasa' seperti itu sungguh suatu pengalaman berharga dan berkesan.

Ada jugakah yang pernah mengalami hal serupa dengan saya?

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.