Skip to main content

Kepada Yth. Ny. Almarhum Broto

Ini adalah sebuah kisah tragis akibat kurang memperhatikan penggunaan istilah. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Sebut saja namanya Eyang Broto. Usianya sudah senja. Beliau sudah lama menjanda sejak kematian sang suami.

Suatu hari Eyang Broto marah besar. Ada kejadian apa sehingga  beliau sampai marah seperti itu? Siapa pula yang tega membuat seorang nenek yang sudah sangat tua menjadi marah?

Ternyata hari itu Eyang Broto menerima sebuah undangan pernikahan cucunya. Pada sampul undangan itu tertulis: Kepada Yth. Ny. Almarhum Broto. Tulisan itulah yang memantik kemarahan beliau. Anak dan menantunya yang mengantarkan undangan itu sekaligus yang empunya hajat pun menjadi sasaran kemurkaannya. "Apa kalian mendoakanku untuk segera mati?!", begitu kata Eyang Broto.

Sayang seribu sayang, sang anak dan menantu tak bisa menjelaskan maksud mereka. Sang anak dan menantu hanya ingin menyebutkan bahwa sang ayah, yaitu suami Eyang Broto,telah meninggal dunia. Bagi mereka, tidaklah pantas melupakan sang ayah meski sang ayah telah meninggal dunia. Akhirnya ketiga orang itu bertengkar. Masing-masing pihak merasa tak punya kesalahan. Hubungan kekeluargaan pun retak,hanya karena kurang memperhatikan penggunaan kata.

Menurut saya, jika memang ingin menyebut ketiadaan suami Eyang Broto, seharusnya dalam undangan itu tertulis Kepada Yth. Ny. Janda Broto. Bagaimana menurut Anda?

Comments

  1. biasa nya kalau seperti itu kan memakai nama asli si ibu nya, dengan tidak lagi memakai nama suami yang sudah almarhum,,,
    misalnya . Kepada Yth. Ny. Sari .... (istri alm. broto)

    ReplyDelete
  2. Saya sependapat dengan mak adel...yang mengundang harusnya juga berpikir sedikitlah siapa saja kalau bunyi undangannya seperti itu ya pasti marah...apalagi yg diundang sudah sepuh, pasti lebih sensitif.

    ReplyDelete
  3. @Mak Adel: setuju. harusnya bgitu ya. toh ibunya sendiri, jd pasti sdh tau namanya ya.

    @Mak Irowati: iya mak, makin sepuh makin sensitif. eyang ini usianya sampai nyaris 90 th. dan skrg sdh meninggal dunia.

    ReplyDelete
  4. eh, maaf, ralat komentar sblmnya. eyang ini usianya nyaris 100 tahun. beliau lahir th 1911.

    ReplyDelete
  5. Sehaeusnya sih ga usah ditulis jg almarhumnya, toh si eyang tidak menikah lg. kalau saya pribadi lbh pilih nama asli walau sudah menikah.

    ReplyDelete
  6. @mak Melati: iya mak. nama kita kan yg paling akrab di telinga kita sendiri ya.

    ReplyDelete
  7. ini dr anaknya sendiri kn mak undangannya,,kok kyknya anaknya agak keterlaluan ya mak,,klo ditempatku eyang ya ngga usah dikasi undangan wong msh sedulur kok,,dikasi tau lisan aja,,klo kejadiannya kyk gni ya ngga salah klo si eyang marah2,,

    ReplyDelete
  8. iya mak tita. itu anaknya sendiri. sayang mmg knapa bisa kejadian spt itu. mgkin jg krn tidak sempat sowan ke eyang n menyampaikan kl mau punya hajat, jadilah pakai undangan.

    ReplyDelete
  9. haha.. antara ketawa dan sedih ya mak

    ReplyDelete
  10. iya mak tanti. tragis beneeer itu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.