Skip to main content

Kala Den Ayu Ngabehi Menikah

Ini kisah nyata tentang seorang gadis yang bersemangat mempersiapkan pesta pernikahannya. Kisah ini dituturkan untuk diambil hikmahnya.

Den Ayu Ngabehi, kala itu berusia 31 tahun, baru berjumpa dengan jodohnya. Penantian sekian lama ini rupanya membuat Den Ayu Ngabehi benar-benar tak ingin kehilangan momen "sekali dalam seumur hidupnya". Menurutnya, sebuah pesta pernikahan itu harus ideal, sempurna sesuai pandangannya. Sempurna tak berarti harus glamor, megah,mewah atau hingar-bingar. Sempurna versinya adalah "selamat hingga paripurna".

Maka demi sempurna itulah segalanya harus diatur rapi, sesuai target dan berjalan mulus. Sejak sebelum rapat pembentukan panitia pernikahan dengan tetangga dan keluarga, sudah disiapkannya nama-nama calon petugas yang dirasanya kompeten. Bahkan undangan rapat panitia pun diketiknya sendiri dengan beberapa kali proof-reading.

Calon tamu undangan disortir dengan penuh semangat dengan mengingat kondisi lokasi dan biaya yang tersedia. Peninjauan lokasi dilakukannya sendiri. Pendaftaran ke KUA pun dijalani sendiri. Alasannya adalah agar ia ingat setiap detil dalam menyambut momen berharganya itu.

Bukan hanya itu. Bahkan acara fitting baju pengantin di luar kota juga ditempuhnya dengan sepeda motor. Maklum, hanya itu kendaraan yang dimilikinya.

Urusan catering, cindera mata,dokumentasi foto dan video pun ia dengan gagah berani berburu sendiri ditemani sang ibu. Hampir semua persiapan dijalaninya.

Satu bulan sebelum hari-H, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya demi mempersiapkan pesta pernikahannya.

Saking inginnya mengerjakan seluruh persiapan, sampai-sampai H-1 pun si Den Ayu masih naik dengan tangga untuk memasang dekorasi kamar pengantinnya. Wuah...

Namun semua kerja keras dan kelelahannya terbayar pada hari-H. Baru beberapa menit berdiri di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari tamu undangan, Den Ayu ini jatuh pingsan! Rupanya ia kelelahan.
Oh, malangnya Den Ayu Ngabehi... Makanya, jadi pengantin jangan sok ngabehi gaweyan (baca: mengambil alih semua pekerjaan).

Lalu, siapa sih Den Ayu Ngabehi ini? Saya. Lima tahun yang lalu. :-)

Kisah
pernikahan ini
diikutsertakan pada
Giveaway 10th Wedding
Anniversary by Heart of
Mine.

Sugeng anniversary untuk Mak Uniek Kaswarganti dan suaminya. Semoga selalu dilimpahi keberkahan hidup berumah tangga dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala, sukses di dunia hingga akhirat. Aaaaamiiiiin.

Comments

  1. hihiiii den ayu ngabehi lucu sekaliiii... semplok dewe ya mba :)

    terima kasih utk tulisannya yg menghibur dan penuh hikmah ini mba

    ReplyDelete
  2. hehe...iya mbak...jd kenangan memalukan yg tak terlupakan deh pokoknya.

    ReplyDelete
  3. hehe...numpang ketawa ya mba..lucu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...makasih sudah berkunjung ke sini mbak.

      Delete
  4. hihihi... saya pun sewaktu mau menikah, melakukan semuanya dengan calon suami waktu itu, dan pada hari H, saya pusing kleyengan karena kecapean.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata ada teman senasib. Kapok deh mbak pokoknya jd pengantin. Dah sekali ini aja. :-)

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…