Skip to main content

Penunjuk Waktu Selain Jam

Jam telah menjadi alat penunjuk waktu yang paling populer, baik berbentuk jam analog maupun digital. Jam juga telah menjadi keseharian kita dalam beraktivitas.
Namun, ada kalanya saat tak sempat melihat jam kita bisa mengetahui perkiraan waktu. Berikut ini keadaan atau kejadian yang sering saya manfaatkan untuk memperkirakan waktu:


Tukang Sayur
Kebanyakan tukang sayur di wilayah rumah saya, baik yang lewat di depan rumah maupun yang mangkal, memiliki jadwal kerja yang nyaris tetap. Kehadiran mereka dapat dijadikan tolok ukur waktu. Misalnya kalau Pak Sarju sudah datang dengan sepeda motor dan suara klaksonnya yang khas berarti sekitar pukul tujuh pagi. Kalau Mbak Marinten datang dan menawarkan dagangannya berarti sekitar pukul delapan pagi.

Aktivitas Tetangga
Kebetulan tetangga-tetangga terdekat adalah para pekerja. Ada yang bekerja di pabrik gula, di kantor swasta, bekerja sebagai guru, tentara dan loper koran. Mudah saja menebak jam berapa saat tetangga yang loper koran mulai menyalakan mesin motornya dan berangkat mengambil koran. Itu berarti sekitar pukul setengah lima pagi. Atau saat tetangga yang bekerja di kantor swasta mulai heboh menyuruh anaknya bergegas ke sekolah. Itu berarti sekitar pukul setengah delapan pagi. Ada juga tetangga yang rutin berolah raga bulu tangkis di hari-hari tertentu. Jika di malam hari terdengar suara sepeda motornya datang itu berarti sekitar pukul satu malam.

penunjuk-waktu-selain-jam
sumber gambar: Pixabay (dengan tambahan teks)


Adzan
Kalau yang ini jelas sekali menunjukkan waktu meski bukan dalam bentuk jam. Jika terdengar adzan di pagi buta, berarti telah tiba waktu subuh. Begitu pula dengan adzan zhuhur, asar, maghrib dan isya. Meski setiap hari mengalami pergeseran maju atau mundur beberapa menit namun tetap saja penunjuk waktu ini cukup membantu.

Acara di Televisi
Kebetulan anak-anak saya hampir selalu menonton saluran Disney Junior dan Baby TV. Kadang tanpa perlu melihat jam dinding saya sudah dapat memperkirakan pukul berapa saat itu dengan memperhatikan acara di televisi. Ini juga memudahkan saya untuk mengingatkan anak-anak. Misalnya saat harus segera mandi pagi saya ingatkan mereka dengan "Ayo, sudah Bananas in Pyjamas. Mandi." Itu saat pukul tujuh pagi. Atau ketika anak-anak meminta bermain di luar rumah tetapi belum waktunya, maka saya bisa mengatakan, "Tunggu sampai Handy Manny selesai ya". Itu berarti pukul tiga sore.

Sirine
Keberadaan pabrik gula di lingkungan tempat tinggal saya rupanya cukup membantu. Sistem sirine yang diterapkan pabrik ketika memulai atau pergantian shift kerja juga berimbas secara tidak langsung kepada warga sekitar pabrik. Sirine pagi pukul enam misalnya, membantu mengingatkan para pelajar untuk segera bersiap-siap mandi dan sarapan. Sedangkan sirine pukul setengah tujuh mengingatkan agar mereka segera berangkat ke sekolah. Sirine pabrik tersebut akan dibunyikan lagi pada pukul satu dan setengah dua siang.

Aktivitas Orang Lewat
Macam-macam orang berlalu-lalang di jalan depan rumah bisa juga dijadikan sebagai perkiraan waktu. Misalnya tukang bakso sudah lewat berarti sekitar pukul empat sore. Jika penjual mie ayam yang lewat berarti sekitar pukul lima sore.

Masih banyak penunjuk waktu selain jam yang dapat ditemui sehari-hari. Intinya ini adalah pengamatan terhadap kebiasaan yang dapat kita manfaatkan. Ini pengalaman saya. Kalau pengalaman teman-teman apa?

Comments

  1. haha, kayaknya postingan awal nge blog saya bahasanya kalbu banget deh..malu sendiri. Ni mah okeh. Oya, kalau di Balikpapan dulu tiap jam 6 pagi ada suling Pertamina, seantero kota kedengeran

    ReplyDelete
  2. wow...suling yang didengar se-kota ya. asyik dong jadi yang mau ke sekolah ga telat ya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.