Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2013

Penunjuk Waktu Selain Jam

Jam telah menjadi alat penunjuk waktu yang paling populer, baik berbentuk jam analog maupun digital. Jam juga telah menjadi keseharian kita dalam beraktivitas.
Namun, ada kalanya saat tak sempat melihat jam kita bisa mengetahui perkiraan waktu. Berikut ini keadaan atau kejadian yang sering saya manfaatkan untuk memperkirakan waktu:


Tukang Sayur
Kebanyakan tukang sayur di wilayah rumah saya, baik yang lewat di depan rumah maupun yang mangkal, memiliki jadwal kerja yang nyaris tetap. Kehadiran mereka dapat dijadikan tolok ukur waktu. Misalnya kalau Pak Sarju sudah datang dengan sepeda motor dan suara klaksonnya yang khas berarti sekitar pukul tujuh pagi. Kalau Mbak Marinten datang dan menawarkan dagangannya berarti sekitar pukul delapan pagi.

Aktivitas Tetangga
Kebetulan tetangga-tetangga terdekat adalah para pekerja. Ada yang bekerja di pabrik gula, di kantor swasta, bekerja sebagai guru, tentara dan loper koran. Mudah saja menebak jam berapa saat tetangga yang loper koran mulai menya…

Tak Harus TV Nasional

Hampir tak pernah menduga, akhirnya permasalahan menonton TV menjadi nyata bagi kami, khususnya saya. Sejak hadirnya televisi swasta di Indonesia, saya hampir nyaris tak pernah kecanduan menontonnya. Hampir nyaris, berarti pernah juga. Saya tergolong pemilih. Ada memang dua atau tiga judul drama Korea dan Jepang yang pernah menjadi kesukaan saya.

Masalah timbul saat saya dan suami memutuskan untuk membeli sebuah pesawat televisi. Saat itu kami tinggal di wilayah Ciledug, kota Tangerang, Banten. Sungguh tak diduga, sinyal televisi di daerah tersebut lemah. Berbagai model antena luar telah kami coba namun tetap saja penerimaannya buruk. Hanya satu atau dua stasiun televisi yang siarannya cukup lumayan dapat ditangkap jelas.

Sisanya harus rela ditonton dengan gambar berbintik dan suara mendesis plus antena yang digeser-geser. Saking inginnya melihat tayangan yang bagus sampai-sampai saran seorang teman untuk menancapkan peniti di colokan antena pun kami coba.

Mengajar Memang Harus Menunggu

Mengajar memang harus menunggu. Menunggu apa? Menunggu muridnya datang? Hehehe...bukan cuma itu, kadang sang guru pun harus menunggu agar muridnya bis apaham betul. Ini adalah cerita bertahun-tahun lalu yang masih saya ingat. Kisah saat saya harus menjadi guru. Kisah yang saya kira harus saya camkan dalam hati, sebab sekarang saya menjadi 'guru' dari anak-anak saya.

Mengajar Mengaji Anak Cedal
Saya bukan seorang guru, tetapi saya pernah merasakan pengalaman mengajar. Salah satunya adalah mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran, sekitar tahun 2005. Di sana saya menjumpai seorang santri yang unik. Seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima tahun. Wajahnya lucu dan sangat lugu.
Pertama kali saya mengajarnya, saya menemukan kelucuan. Anak ini belum bisa mengucapkan huruf J atau JIM dalam Bahasa Arab. Setiap kali harus membaca kata yang ada J-nya,ia menggantinya dengan huruf D.
Saya sempat kebingungan saat ia mengucapkan JA A HA dengan DA A HA. JA HA TSA menjadi DA …