Tiga Anak, Tiga Pengalaman Mengasuh

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor

Punya anak itu merupakan sebuah ruang pembelajaran bagi tiap individu yang bernama orang tua. Tiap anak punya cerita tersendiri. Seperti saya, punya tiga anak, tiga pengalaman mengasuh. Biarpun anak saya laki-laki semua, tapi tetap saja rasanya berbeda. Terlebih si bungsu yang hadir pas saya berumur 40 tahun. Berasa betul bedanya.

Sudah pernah punya anak bukanlah jaminan kita bisa menjadi orang tua yang sempurna. Tetap saja,meski sudah punya pengalaman mengasuh anak, harus selalu belajar dan meng-update ilmu pengasuhan. Zaman berubah, cara hidup manusia pun mengalami pergeseran. Cara mengasuh anak juga menjadi berbeda. Metode yang dulu dianggap terbaik belum tentu tepat diterapkan di masa sekarang. Cara mengasuh satu anak pun tidak bisa disamaratakan pada semua anak karena, ya itu, tiap anak beda.

Kesamaan Si Tiga Anak

Kesamaan yang jelas terlihat dari ketiga anak saya adalah kesemuanya laki-laki. Eh, udah disebutkan tadi, ya? Selain kesamaan terbesar itu, ketiga anak saya pas lahir sama-sama besar. Bobot lahir si sulung 3,5 kg; si tengah 3,9 kg dan si bungsu 3,6 kg. Menurut saya segitu itu besar-besar menilik bodi emaknya yang relatif kecil.

Sudah keturunan mungkin, keluarga suami saya badannya besar-besar. Beda dengan keluarga saya yang sedang-sedang. Kalau saya lihat sih rata-rata orang Jawa Timur itu gede-gede badannya. Kalau orang Jogja lebih kecil. Patih Gajah Mada juga gede kan ya sepertinya? Idih, apa hubungannya??

Perbedaan Si Tiga Anak

Jelas beda, ya, kan tiap anak itu spesial. Lha wong setiap kehamilan itu istimewa kok. Karena berbeda itulah tiap punya anak berarti tambah pula 'mata kuliah' baru yang wajib ditempuh, hehehe...

Perbedaan paling mendasar adalah wajah mereka yang mirip tapi beda dan beda tapi ada miripnya. Si sulung lebih mirip ayahnya, si tengah mirip saya dan si bungsu kadang terlihat mirip saya, kadang mirip ayahnya. Ya, masih bayi sih, kalau kata orang Jawa masih 'molah-malih' alias berubah-ubah. Yang jelas mirip orang tuanya deh.

Ada sepupu saya yang pas masih kecil mirip bapaknya. Setelah kuliah...lha kok jadi mirip ibunya. Alloh Mahaadil kan? Jadi, untuk para ibu atau para bapak yang merasa anaknya nggak ada yang mirip dengannya, jangan merasa Tuhan tidak adil, ya.

Perbedaan selanjutnya dalam hal minum ASI. Anak sulung saya dulu menyusu sampai kira-kira umur 8 bulan saja. Saya stop menyusuinya karena ASI kering karena saya hamil lagi. Si tengah ASI sampai 2 tahun lebih sedikit. Sedangkan si bungsu baru umur beberapa belas hari sudah minum ASI campur susu formula gara-gara jaundice. Sekarang sih alhamdulillaah sudah ASI lagi. Susu formulanya ditinggalkan.

Bedanya lagi, dulu anak sulung saya sempat mengalami alergi susu sapi pas pertama kali saya kenalkan dengan susu formula di usia 6 bulan. Sedangkan si tengah langsung cocok dengan susu formulanya. Tapi dia ini baru mau susu formula pas usia 1 tahun setelah sebelumnya selalu menolak. Sudah gitu, maunya hanya susu coklat, bukan yang lain.

Susah-susah gampang memang memilih susu untuk pertumbuhan anak. Selain faktor rasa, ada juga soal alergi dan soal harga. Harga memang kadang bisa mengungkap kualitas susu formula, walaupun tetap saja komsumsi susu formula disesuaikan dengan usia anak. Pemberian susu formula juga harus diimbangi dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, sebab susu bukanlah pengganti makanan.

Perbedaan ketiga adalah soal mandi. Anak sulung saya soal mandi biasa-biasa saja, tidak terlalu gemar dan tidak terlalu anti. Si tengah pas kecil paling susah dimandikan. Tiap mandi selalu jadi ajang tangisan. Sebabnya apa juga tidak bisa dipastikan. Mungkin suasana kamar mandi yang kurang terang bisa jadi pencetusnya. Di kolam renang pun si tengah ini kurang suka. Tapi alhamdulillaah setelah bersekolah di SD sudah tidak nangis lagi tiap mandi. Nah, kalau si bungsu kelihatan banget suka main air. Tiap mandi selalu gembira dan aktif di air. Mungkin kelak dia jadi perenang handal. Aaamiiin.

Tiga Anak, Tiga Pengalaman Mengasuh yang Harus Dinikmati

Iya dong. Jadi orang tua itu memang susah lho tapi ya menyenangkan. Kata orang, itulah seninya hidup. Biar tetap bisa menikmati jadi orang tua, rajin-rajin saja cari ilmunya. Kita termasuk generasi beruntung punya internet. Apa-apa ada. Mau cari ilmu parenting juga tinggal klik saja.

Teman-teman juga punya pengalaman mengasuh anak yang seru? Cari ilmunya lewat mana aja? Cerita dong di kolom komentar. Yuk, yuk!

Comments

  1. Setuju, Mbak. Anak bukanlah robot yang bisa disetting. Makanya walaupun lahir dari rahim yang sama tetep aja suka beda karakternya :)

    ReplyDelete
  2. Dua anakku juga beda mba..basicnya udah beda, cow dan cew. Klo boleh bandingin..pas kecil, ngasuhnya gampangan yang cewek. Cow sufor, cew asi..tinggal buka baju, anak kenyang.

    Tapi klo dah besar..njagainnya lebih repot cewek kayaknya..

    ReplyDelete
  3. belajar banyak mak, tiap anak pola pengasuhan termasuk kehamilannya berbeda ya mak :)

    ReplyDelete
  4. Hebat ngasuh 3 anak. Aku satu aja riwehnya masyaallah

    ReplyDelete
  5. seru banget ya Mbak, tiga anak, bisa sama bisa beda. Anakku beda Mbak, cowo dan cewe, pasti beda kan ya, tapi soal mainan yang cewe ngikut kakaknya nich...anak cewe tapi suka robot, mobil dan lego kakaknya, mungkin karena ngelihatnya kakak cowo siy ya. Soal mandi, anak-anak dan aku, lebih suka mandi dalam suasana yang terang. Kalau udah nemui kamar mandi yang agak gelap, biasanya langsung urung, hehe

    ReplyDelete
  6. mbaa.. aku juga punya 3 anak.. dua anak cewe dan satu cowo yg masih bayi.. dua anak cewe aku beda bangeet kepribadiaannya... yg satu diem, penakut dan nurut, yang satunya bawel, pemberani dan sedikit membangkang.. riwehnya anak tiga seru seru hepi gituh :D

    ReplyDelete
  7. aku belum menikah jadi belum punya pengalaman mbk. btw, makasih sharingnya. sangat bermnfaat. aku noted ya mbk :))

    ReplyDelete
  8. Anakku juga tiga. Semuanya berbeda karakter. Seru aja ketika semua berkumpul. Jadi orang tua tetap kudu ngerti mereka.

    ReplyDelete
  9. Waah aku 3 bersaudara nih mbak, semua perempuan dan semua bertolak belakang, makanya kadang ku ngerasa ibu sama ayahku ini pilih kasih gegara beda-beda cara asuhnya :))

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts