Skip to main content

Tentang Orang Tua Dan Pemadam Kebakaran

Jadi orang tua itu susah-susah gimana gitu. Nggak ada gampangnya. Tapi kok ya banyak orang yang semangat banget jadi orang tua. Padahal jadi orang tua berarti siap jadi pemadam kebakaran. Orang tua dan pemadam kebakaran. Apa hubungannya??

Kembali ke belasan tahun lalu. Sebuah konflik terjadi antara saya dan salah satu tetangga. Perkaranya adalah ban bocor. Ceritanya ban sepeda motor saya bocor lalu saya tambalkan di bengkel milik tetangga. Oleh tetangga saya dicek dan dia bilang ban dalamnya harus diganti karena sudah nggak layak lagi, nggak bisa ditambal. Ya sudahlah, saya ikut saja. Berhubung prosesnya lama, saya tinggal pulang dan nantinya sepeda motor saya diantar ke rumah.

Singkat cerita motor saya bisa dipakai lagi. Tapi tak lama setelah itu ban sepeda motor saya bocor lagi. Ya saya tambalkanlah itu ban. Setelah dicek oleh tukang tambal ban, pak tukangnya bilang kalau ban dalam saya tambalannya sudah banyak. Lho, ya kaget dong saya. Bukannya kemarin baru ganti?? Kok ini nggak kayak ban baru??

Saya merasa gimanaaa gitu sama tetangga saya. Masak iya nipu saya? Kesal dong, saya cerita ke orang tua. Tak lama setelah itu ibu saya konfirmasi ke tetangga saya itu dan malah berakhir rame. Buntutnya tetangga saya itu mendatangi saya ke rumah sambil bawa Pak RT. Waduh...

Bapak saya pun maju menyelesaikan masalah. Bapak saya memerankan diri sebagai pemadam kebakaran masalah saya dengan tetangga tadi. Padam nggak padam pokoknya harus dipadamkan. Tidak peduli hasilnya, peran itu adalah tanggung jawab Bapak sebagai orang tua.

Kasus Kedua terjadi di tempat kerja. Pak Bos kerap jadi pemadam kebakaran kalau ada miskomunikasi antara kami dengan pihak media. Misalnya ketika satu klien minta iklan muncul di tanggal tertentu berkaitan dengan acara HUT mereka. Tapi...ada keterlambatan masuknya materi iklan ke media sehingga esoknya iklan tidak tayang. Tentu saja klien marah-marah. Di sinilah Pak Bos terpaksa turun gunung memadamkan amarah sambil bawa solusi. Kalau ingat itu, wah, jadi malu sekaligus salut. Malu sama diri sendiri, salut dengan kebesaran hati Pak Bos.

Saat saya jadi orang tua, saya juga berperan sebagai pemadam kebakaran. Misalnya pas anak saya yang saat itu masih kelas 1 SD tanpa sengaja menyebabkan kucing tetangga mati, saya harus tampil memadamkan emosi pemiliknya.

Nah, ketika ada kasus nasional yang terjadi gara-gara salah ucap salah satu petinggi partai, maka tentu saja yang harus maju memadamkan amarah yang timbul adalah 'orang tua' di partai. Kalau ini lebih repot, karena skalanya nasional, pemadamannya juga harus berskala nasional. Hmmm... Atau kasus terkini, terbaliknya gambar bendera Indonesia di buklet SEA Games 2017. Duh, itu yang jadi pemadam kebakaran susah bener ya. Skalanya regional! Wahhh...

Sudah, itu aja cerita saya hari ini. Kesimpulannya apa? Jadi anak jangan suka berulah deh, kasihan orang tua. Sambil berdoa semoga saya dan suami saya tidak perlu menghadapi kasus 'kebakaran'. Juga bangsa ini. Gimana dengan teman-teman? Adakah kasus orang tua dan pemadam kebakaran yang pernah ditemui? Atau teman-teman juga jadi pemadam kebakaran? Boleh bagi ceritanya di sini. Yuk, yuk!

Comments

  1. saya sering melihatnya mba..dan sepertinya malah saya juga sering jadi pemadam kebakarannya hehehe. Ada saja teman atau keluarga yang mempercayakan masalahnya ke kita ya mba, supaya ada solusi

    ReplyDelete
  2. Semoga anak-anakku gak "bikin api" ke anak lain :)

    ReplyDelete
  3. memang kita harus selalu berhati-hati ya mbak, apalagi di jaman sosmed kayak gini...musti berpikir dua kali sebelum pencet tombol share

    ReplyDelete
  4. Mba...aku kok mlh penasaran sama kasus ban. Trus pembuktian n endingnya gmn?

    ReplyDelete
  5. Andai bisa kembali ke masa kecil dan ababil, pasti saya akan ulangi hidup saya menjadi seorang anak yang gak berulah... Nice posting...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.