Balapan Jadi Shohibul Quran Bersama Anak

Kalau sebagian orang harap-harap cemas menanti pergantian tahun, saya justru deg-degan menyambut semester dua yang sudah di depan mata. Bukan karena anak saya sudah ada di kelas 6, tapi karena hasrat balapan jadi shohibul Quran yang harus diwujudkan. Kalau tidak, saya bisa kalah sama anak-anak. Inilah kisah #Resolusiku2017 .

Jadi, dua anak laki-laki saya belajar di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu di Madiun sini. Mas Besar klas 2, Mas Kecil klas 1. Keunggulan di SDIT sini adalah program hapalan Qurannya. Dalam enam tahun masa belajar, siswa ditargetkan bisa hapal dua juz, yakni juz 30 dan juz 29. Angkatannya Mas Besar mulai menghapal dari Surat An-Naas terus naik ke atas. Saat ini Mas Besar masih menghapal surat Al-Balad. Sedangkan angkatan Mas Kecil mulainya dari Surat An-Naba terus turun sampai An-Naas. Posisi hapalan Mas Kecil saat ini ada di surat An-Naazi'aat. Suatu ketika hapalan mereka akan bertemu pada sebuah surat yang sama. Oya, mereka belajar menghapal dengan metode Wafa.

Baca juga: Belajar Mengaji Dari Masa Ke Masa

Di sekolah, mereka belajar menghapal dengan guru-guru mereka. Di rumah, dengan saya. Posisi hapalan saya saat ini masih Juz Amma itupun belum seberapa. Tapi lumayanlah masih bisa bareng-bareng menghapal sekaligus ngomporin mereka. Seiring waktu berjalan, kedua anak saya tadi insya Alloh akan segera menggenapkan hapalan mereka. Mau tidak mau mereka akan mulai menghapal Juz 29. Cepat atau lambat. Nah, masalahnya, saya belum menghapal Juz 29. Kalau begini bisa gawat. Bisa-bisa saya nggak akan ketinggalan dari mereka nantinya. #emakpinginpinter

Mencontoh Utsman bin Affan r.a., Sang Shohibul Quran

Apa sih arti shohibul Quran sebenarnya? Bisa dikatakan shohibul Quran berarti orang yang dekat dengan Al-Quran. Khalifah ketiga dari khulafaur rasyidin, Utsman bin Affan r.a. adalah salah satu contoh insan yang cinta Al-Quran. Beliau sangat sering membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya. Beliau pula yang berinisiatif menyeragamkan pencetakan mushaf Al-Quran agar mudah dibaca pula oleh orang-orang non-Arab mengingat sebelum itu Al-Quran ditulis tanpa harokat (Arab gundul). Kebayang kan bagaimana susahnya membaca Al-Quran bagi orang non-Arab sebelum itu?

Saking cintanya dengan Al-Quran, pada saat meninggal pun beliau sedang membaca Al-Quran (beliau dibunuh di dalam rumahnya dengan cara ditikam dari belakang). Darah beliau membanjiri mushaf yang dipegangnya. Sebuah kesudahan yang sangat langka. Bahkan diriwayatkan, mushaf yang beliau pegang itu ditendang oleh si pembunuh namun mushaf itu terpental kembali ke pelukan beliau. Kisah ini disampaikan dalam acara Wisuda Tahfiz Juz 30, 29 & 1 di sekolah anak-anak menjelang acara terima rapor semester satu. Sebuah kisah yang menginspirasi dan patut dicontoh.



Wisuda Juz 30, 29 & 1
Semoga anak-anak saya bisa menyusul mereka tahun depan

Di hari perhitungan kelak pembaca Al-Quran akan mendapatkan kedudukan tinggi di surga sesuai bacaannya di kala masih hidup. Dikatakan kepada mereka, "Bacalah dan naiklah. Bacalah dan naiklah." Mereka terus dipersilakan naik dengan bacaan Al-Qurannya. Bahkan keuntungan membaca Al-Quran tidak hanya itu, Al-Quran juga menjadi pembela pembacanya di alam kubur dan akhirat. Di dunia, Al-Quran bisa membantu mencegah penuaan otak.Pada intinya banyak keuntungan membaca Al-Quran, menghapalnya dan mengamalkannya.

Saat Ingin Menjadi Shohibul Quran

Nah, strategi apa yang harus saya tempuh agar mampu mencuri start menghapal juz selain Juz Amma?

Tiga hal ini sudah saya lakukan. Pertama, mulai dengan niat. Semuanya dimulai dari niat. Tekadnya, ingin menjadi teladan bagi keluarga.

Kedua, mulai dari surat yang paling menarik hati, hehe... Saya suka dengan surat yang ayatnya pendek-pendek. Sedikit-sedikit waqof, jadi lebih mudah menghapal.

Ketiga, dibaca juga terjemahannya. Meski belum belajar Bahasa Arab, dengan membaca terjemahannya saya rasa bisa membantu menghapal lebih mudah. Apalagi kalau punya Al-Quran terjemah per kata. Saya pakai Al-Quran dengan terjemahan per kata yang juga merupakan Al-Quran pojok yang setiap akhir halaman merupakan akhir ayat. Lebih enak dipakai karena bisa lebih berfokus tanpa perlu membolak-balik.

al-quran

Al-Quran dengan terjemahan per kata plus Al-Quran pojok

Sedangkan langkah yang belum saya tempuh adalah mencari rekaman bacaan Juz 29 yang bisa diputar via ponsel supaya lebih 'menancap' lagi hapalannya.

Baca juga: Cara Menghafal Juz Amma Untuk Para Ibu

Impian Jadi Shohibul Quran Di Usia Tak Muda Lagi

Tahun 2017 insya Alloh saya akan berusia 40 tahun. Tidak muda lagi kan? Kata orang, belajar di usia tua bagai mengukir di atas air. Tapi, biarlah. Meski tak sampai setetes air yang nantinya bisa saya hapal, setidaknya saya sudah mencoba. Mudah-mudahan di tahun mendatang saya bisa menambah hapalan saya jadi dua juz. Aaamiiin.

Ibu-Ibu, Bapak-Bapak yang seangkatan sama saya, ada juga yang sedang belajar menghapal Al-Quran? Yuk, mengukir di atas air bareng-bareng!



Tulisan ini diikutkan dalam Hidayah-Art First Giveaway "Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan"

Comments

  1. Jadi malu. Belum hafal juz Amma :'D

    ReplyDelete
  2. Sama mbak, aku juga masih belajar menghafal Quran. Makasih ya udah ikutan GAku, moga sukses dunia dan akhirat :)

    ReplyDelete
  3. Aku kepikiran juga nih soal hafalan Qur'an, secara liat ponakan2 pada cas cis cus. Ada rasa malu ya mak, haha.. Semangat!

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts