Skip to main content

Bicara Soal Tanggung Jawab Laki-Laki Dengan Anak Laki-Laki

tanggung-jawab-laki-laki

Bicara soal tanggung jawab laki-laki dengan anak laki-laki itu bikin geli-geli trenyuh. Jadi ceritanya di suatu sesi menjelang tidur, seperti biasa saya dan duo krucil ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Apa aja yang terucap bisa mengarah ke topik selanjutnya.

Malam itu kata kuncinya soal nafkah. Kenapa ayah mereka belum pulang, apa yang dikerjakan si ayah. Akhirnya menuju pada soal tanggung jawab laki-laki kepada keluarganya.

Dua anak laki-laki di hadapan saya itu saya jadikan contoh.
"Jadi, nanti kalau mas dan mas sudah dewasa dan punya istri, mas-mas harus bisa memenuhi minimal tiga hal ini," kata saya bergaya ibu dosen.

Jangan bayangkan duo krucil saya kaget. Memang sudah beberapa kali saya menyebutkan kelak mereka akan punya istri dan anak. Kadang saya heran sama diri sendiri, bocah umur 7 dan 6 tahun diajak bicara serius. Ah, biarin, daripada mereka dengar dari orang lain. Iya, kan?

Baca juga: Ketika Si Kecil Menemukan Pujaan Hatinya

Tiga Hal yang Menjadi Tanggung Jawab Laki-Laki Kepada Keluarganya

"Mas-mas nanti harus bisa memberikan istri dan anak-anaknya mas: satu, makanan; dua, baju; tiga, tempat tinggal. Paling sedikit tiga hal itu," lanjut saya.

Oya, tentang nafkah, bisa dibaca lebih lanjut di artikel ini: Nafkah.

Dan obrolan berlanjut ke cara memenuhi kebutuhan itu. Saya tekankan mereka harus punya penghasilan. Biar dapat penghasilan harus bekerja. Biar bisa bekerja harus sekolah. Ya, buntutnya memang memotivasi mereka supaya rajin belajar, hehe...

Inipun Masih Menjadi Tanggung Jawab Laki-Laki

tanggung-jawab-laki-laki

Laki-laki bekerja
Sumber: pixabay

Lalu percakapan berlanjut ke soal tanggung jawab lain, terhadap ibu dan saudara perempuan. Saya memberi contoh orang yang harus ditanggung oleh ayah mereka, yaitu saya, mereka dan calon adik mereka.

Baca juga: Pacar

"Kalau Ayah sudah meninggal dunia, maka yang bertanggung jawab merawat Ibu adalah mas-mas."

Mereka terlihat agak terkejut, tapi kelihatan sumringah.

"Dan kalau ini perempuan (saya menunjuk perut saya), maka juga jadi tanggung jawab mas-mas nantinya kalau Ayah sudah meninggal."

Mereka makin takjub mendengar ini.

Saya beri contoh nyata, tante mereka, adik ipar saya yang ketika menikah dibantu saudara-saudaranya karena Bapak (dan Ibu) mertua sudah lama wafat.

"Tante itu jadi tanggung jawabnya Ayah. Nah, pas Tante sudah menikah, Tante ada dalam tanggung jawab suaminya," terang saya diiringi tatapan mata lucu duo krucil.

Menurut hemat saya, mereka paham dengan obrolan kami ini. Buktinya setelah Ayah mereka pulang, duo krucil langsung menyampaikan hasil kuliah dengan ibu dosen tadi. LOL.

Rasanya Menjelaskan Perkara Tanggung Jawab Laki-Laki Itu...

Saya pribadi tidak merasa gimanaaa gitu menjelaskan hal seperti ini. Asal dengan bahasa sederhana dan contoh nyata, insya Alloh anak-anak bisa menerima. Ya, gimana lagi, mereka butuh dengar hal semacam ini. Mereka laki-laki, harus tahu kewajiban mereka. Anak perempuan juga dong, cuma saya belum punya anak perempuan.

PR ibu-ibu memang banyak, ya. PR bapak-bapak juga. Orang tua wajib mengenalkan dunia seisinya sekaligus menuntun anak menuju akhirat yang selamat. Bukan perkara mudah, sama sekali tidak mudah, tapi senyatanya anak memerlukan bimbingan dari orang tua.

Tapi seserius-seriusnya obrolan, selaluuu saja ada celetukan lucu dari mereka. Pas saya menjelaskan tentang tiga perkara yang menjadi tanggung jawab seorang laki-laki, yaitu makanan, baju dan tempat tinggal, dengan polosnya si nomor dua nyeletuk, "Minumnya enggak, Bu?"

Hihihi...ya termasuk dong, Sayaaang... Iya, Ibu kurang lengkap nyebutinnya, ya.

Jadi gimana menurut teman-teman, saya kebablasan nggak nih bicara soal tanggung jawab laki-laki dengan anak laki-laki? Atau ada yang punya cerita yang lebih heboh lagi??? Cerita, yuk, cerita!

Comments

  1. Aku blm pernah ngomongin itu mbak... Bahkan klo Alya itu, dia nggak mau klo Ayah dan ibunya di sebut orang tua...dia pasti akan protes, "aku nggak mau ayah ibu tua" 😀😁

    ReplyDelete
  2. wah, belum pernah nyoba bicara ini sih ke anak saya. Anak saya umur enam tahun, sekarang sih sudah diberikan tanggung jawab untuk ngerjakan pekerjaan rumah aja. Nanti kapan-kapan saya coba deh.

    ReplyDelete
  3. Penting banget ya mendidik laki2 bertanggung jawab. Di Jogja kalau punya anak laki2 suka pada was2 kalau berantem. Kalau sudah pada lulus SMA itu teman2 pd sujud syukur anak laki2nya sudah bebas dari bahaya.

    ReplyDelete
  4. Hihi.. pertanyaan polos "minumnya enggak, bu?" biar gak seret ya Mas.. Hehe..

    Sejak kecil diajarkan tentang tanggung jawab ya.. Kami di rumah diajarkan secara tersirat sih..

    ReplyDelete
  5. Aku nyimak mbaaa.. karena punya anak cowok juga yang terus beranjak besar

    ReplyDelete
  6. anakku juga cowok Mbaa, nanti tak coba bicarain ini juga aahh :)

    ReplyDelete
  7. Bisa jadi, cintanya padamu kelak membuatnya buta. Hilang akal atas mana benar mana salah. Dalam melakukan tanggung jawabnya, mungkin terlintas untuk ikut kanan kiri, https://www.itsme.id/tanggung-jawab-lelakimu/

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.