Anak Di Bawah Umur Naik Kendaraan Sendiri Dan Penyuluhan Berkala Di Sekolah

Sudah bukan barang langka lagi anak di bawah umur naik kendaraan sendiri, terutama sepeda motor. Di kampung, di perumahan ataupun di jalan raya. Seolah-olah ada kesepakatan bersama antara orang tua dan anak, jika anak sudah lulus SD ia berhak ke mana-mana naik sepeda motor sendiri. Begitulah yang terjadi di wilayah tempat tinggal saya. Anehnya, ada juga anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor dengan ibunya di boncengan.

Bukan masalah bisa membelikan kendaraan atau tidak, tapi perilaku ini cukup meresahkan masyarakat. Kecelakaan akibat anak di bawah umur naik kendaraan sendiri juga kerap terjadi. Di situs berita bisa kita temui korban tabrakan ada yang sampai meninggal dunia.

korban-tabrakan

Gambar dari petisi online:
Dukung! Penjarakan Orang Tua yang Mengizinkan Anak Di Bawah Usia Mengendarai Motor/Mobil

Kegeraman masyarakat memuncak pada digelarnya petisi online: Dukung! Penjarakan Orang Tua yang Mengizinkan Anak Di Bawah Usia Mengendarai Motor/Mobil. Sungguh serius. Orang tua versus masyarakat. Pertanyaannya, bisakah hukuman semacam ini, jika disahkan oleh negara, efektif membendung jumlah pengendara di bawah umur?

Baca juga: Alasan Tidak Beli Motor Matic

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas segi pelaksanaan hukumnya, namun tulisan ini lebih berfokus pada strategi antisipasinya. Dimulai dari mana? Sebelum masuk ke pembahasan, izinkan saya memberikan dua potret pemikiran anak kecil.

#

Kejadian 1: Percakapan Nayla dengan ibu guru

Di sebuah TK, anak-anak sedang belajar wudhu dalam acara pondok Ramadhan. Sebuah percakapan terjadi antara ibu guru dengan seorang siswi, sebut saja namanya Nayla.

Ibu guru: "Nayla, jilbabnya dibuka dulu, ya, biar nggak basah."
Nayla: (menggeleng)
"Ibu guru: "Kenapa nggak mau?"
Nayla: "Malu..."
Ibu guru: (tersenyum).

Percakapan ini nyata terjadi di TK anak saya dulu. Hanya saja percakapannya diselingi Bahasa Jawa. Saya ada di sana menyaksikannya langsung. Saya ikut tersenyum takjub mendengar alasan si gadis kecil Nayla. Luar biasa. Anak sekecil itu sudah tahu soal malu?

#

Kejadian 2: Protes Si Sulung

Di lampu lalu-lintas. Lampu hijau berganti merah. Sepeda motor kami masih melaju, menerobos lampu merah. Anak sulung kami protes.
Si Sulung: "Ayah, lampunya merah kok jalan terus?!!"
Ayah: "Tanggung, Mas. Kalau berhenti nanti bisa ditabrak sama yang ngebut dari belakang."
Si Sulung: "Tapi kan nggak boleh?!!"
Ayah: (diam sejenak) "Ya, lain kali nggak ngelanggar deh."

Sejak saat itu kami selalu berusaha berjalan pelan ketika lampu hijau sudah ada tanda-tanda berganti merah dan memilih berhenti meski ada kendaraan lain yang menerobos lampu merah. Kami merasa malu kepada anak kami sendiri.

#

Kembali ke permasalahan anak di bawah umur naik kendaraan sendiri. Di suatu kesempatan saat saya berpikir tentang persoalan ini, saya ingat tulisan Mbak Mugniar di salah satu blognya yang berjudul Ibu Guru yang Mengomel dan Virus Malu. Dalam tulisan itu Mbak Mugniar membahas soal kebiasaan buang sampah sembarangan. Paragraf penutupnya sangat menarik, ini kutipannya:

"Kalau saja ada virus yang bisa menyebarkan rasa malu di dalam hati setiap orang bila tidak buang sampah pada tempatnya, yang bisa membuat para pembuang sampah sembarangan itu meratap-ratap pilu karena didera rasa malu setelah melakukannya… sepertinya lebih baik lagi bila ada virus semacam itu yang bisa diinjeksikan ke dalam hati mereka!" ~ Mugniar
Dari tulisan itu saya terinspirasi akan satu hal: menumbuhkan rasa malu. Percakapan Nayla dengan gurunya, protes Si Sulung dan ide tentang menumbuhkan rasa malu menuju pada satu gambaran besar dalam benak saya: mengurangi jumlah pengendara di bawah umur melalui penyuluhan berkala di sekolah.

Penyuluhan bahaya narkoba sudah banyak diselenggarakan di sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri. Tujuannya tentu untuk mengurangi dampak negatif narkoba dan menegakkan kesadaran sejak dini kepada generasi muda. Yang tahu jadi makin waspada, yang belum tahu jadi bisa berhati-hati memilih teman. Sungguh suatu usaha yang mulia dan patut diacungi jempol.

Penyuluhan lain yang pernah dilaksanakan di sekolah adalah persoalan bullying. Walaupun belum semarak penyuluhan tentang bahaya narkoba, tetapi sudah mulai menjadi perhatian pemerintah.

Penyuluhan Tentang Adab Berkendara dan Menumbuhkan Budaya Malu Guna Menekan Jumlah Anak di Bawah Umur Naik Kendaraan Sendiri

anak-kecil-naik-motor

Penyuluhan tertib berlalu-lintas
Gambar dari https://tribratanewsleman.com/2016/07/penyuluhan-tata-tertib-berlalu-lintas-di-smk-muhammadiyah-cangkringan/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C7964350552

Penyuluhan tertib berlalu-lintas sesungguhnya telah dilaksanakan di sekolah-sekolah oleh pihak kepolisian, seperti pada gambar di atas. Di TK anak saya dulu pernah diadakan kunjungan ke kantor polisi setempat. Anak-anak diajak berkenalan dengan bapak dan ibu polisi, mengetahui tugas mereka, berbincang akrab dengan mereka. Dari pengalaman itu anak-anak bisa belajar mengenal polisi lebih dekat, mengidolakan mereka dan mengikuti nasihat mereka. Di SD anak saya pun pernah mendapat penyuluhan dari polisi. Pada intinya, penyuluhan semacam ini sudah biasa dan cukup sering dilaksanakan.

Merujuk pada ide menanamkan virus malu ala Mbak Mugniar, alangkah baiknya jika materi penyuluhan dititikberatkan pada menumbuhkan budaya malu tadi. Malu jika berkendara tidak tertib, malu jika melanggar rambu-rambu dan malu jika belum cukup umur naik kendaraan bermotor sendiri.

Melanjutkan kebiasaan penyuluhan yang telah ada, penyuluhan dilaksanakan di sekolah sejak tingkat TK hingga SLTP. Hanya saja frekuensi dibuat lebih tinggi untuk memudahkan penetrasi materi yang disampaikan dan menjaga keistiqomahannya. Lebih sering diingatkan, lebih membekas di hati. Apalagi anak-anak usia dini. Hal ini mirip dengan pembiasaan anak-anak buang sampah di tempatnya atau belajar bacaan dan gerakan sholat. Penyuluhan bisa dilaksanakan di kelas. Anak-anak tentu juga senang ketika ada 'pengajar tamu' yang membawa materi yang fresh.

Materi penyuluhan di tingkat TK, SD dan SLTP tentunya akan berbeda, namun pada intinya menanamkan kesadaran diri bahwa untuk berkendara itu perlu dipenuhi syarat-syaratnya. Ada syarat usia, kesehatan fisik, kondisi kendaraan dan pengetahuan tentang berlalu-lintas. Saya kira melalui penyuluhan berkala ini, lambat-laun akan terbentuk pola pikir dan kemampuan mengambil sikap dalam diri anak, bahwa adab berkendara itu sangat penting.

Kendalanya tentu saja ada pada biaya. Dari mana biaya penyuluhan berkala ini? Belum lagi materi yang hendak disampaikan, bisakah penyuluh membawakan materi secara menarik?

Memang banyak pertanyaan yang bisa dimunculkan. Namun saya optimis jika budaya malu sudah tertanam, seperti kasus Nayla, di beberapa tahun ke depan, anak-anak di bawah umur akan malu mengendarai kendaraan sendiri meski orang tua mereka memfasilitasi.
"Aku malu, Ayah, Ibu, masih SMP kok sudah naik motor sendiri."
Uhh...manis sekali!

Nah, bagaimana pandangan teman-teman soal anak di bawah umur naik kendaraan sendiri ini? Barangkali ada yang punya pemikiran serupa dengan saya, atau punya ide lain? Monggo, boleh urun komentar di sini. Yuk, yuk!

Comments

  1. Saya suka ngeri kalau liat anak dibawah umur bawa kendaraan, serem

    ReplyDelete
  2. Seandainya ada anak SMP yg begitu,, manis sekali ya mak...
    Yang ada malah "nggak mau sekolah kalo nggak dibeliin motor!" ��

    ReplyDelete
  3. Nggak cuma anaknya yang perlu di suluh/edukasi...orang tuanya juga kayaknya. Pernah lho, nemu ortu yang justru bangga anaknya SD udah motoran...bisa di suruh anter sana-sini. Soalnya si ibu nggak bisa naik motor..

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat, habis renang Alfi kekeuh ga mau ganti baju di luar Katanya malu. Terpaksa antri panjang nunggu kamar ganti kosong.:)

    Setuju sama mbak sulis, orang tuanya juga perlu penyuluhan biar tidak ada lagi pengendara di bawah umur

    ReplyDelete
  5. Mb Tian: ngeri banget ya mbak. belum sampai kakinya, ugal-ugalan pula.

    Mb Virly: itulah kenyataan saat ini. bisakah berubah?

    Sulis: betul. ortu perlu dilibatkan. nah, utk ini barangkali di tulisan teman grup collab ini yang akan membahas.

    ReplyDelete
  6. memang seharusnya kepolisian memberikan penyuluhan atau sosialisasi. Dan menilang utk anak2 di bawah umur, ditegasin aja karena memang mengganggu pengendara yg lain juga. bahayanya bukan hanya buat diri mereka sendiri, tapi buat org lain juga

    ReplyDelete
  7. Karena mba nulis, gw jadi ada wadahnya untuk ngeluarin emosi nih, hahaha

    Soalnya udah kadung, gw "emosi" banget dengan ortu "buta" yang izinkan anak yang kakinya saja hampir gak menginjak tanah saat naik motor. Itu dimana yah kesadaran dan pkirannya. (apalagi yang anak 13 taun dikasih mobil ama bapake dan nabrak orang waktu itu, kan gak ada pikirannya. Tapi malah bangga kalau dia sukses tanpa sekolah, uhukkk~~)

    Gw pengendara motor juga sering dibahayakan, tpi bocahnya malah cengengesan :)). Dia pikir dia lucu.

    Kalau mereka yang cedera juga gw nya kasihan, tapi ortunya enggak mikir.

    Menurut gw, itu hukum penjarakan ortu kurang efisien, kalau bapake yang cari uang dipenjarain, kita juga kasihan.

    serba serbi mba. Memang harus kita yang jadi ortu cerdas, biar bisa ajarkan dan contohkan anak belajar budaya malu.


    Hahaha, maafkan jadi curcol.
    Salam kenal yah mba :))

    ReplyDelete
  8. Mb Tarry: alhamdulillaah sukses menanamkan budaya malu ke alfi ya mbak. selamat!

    Mb Santi: herannya kok ga pada kapok ya? apa ya harus mengalami sendiri?

    ReplyDelete
  9. Mb Bule: iya gpp mbak. curhat juga boleh :-D memang banyak banget bahayanya ya mbak. jangan sampai ya nanti kita jadi ortu yang lalai seperti itu.

    Mb Kania: betul mbak. anak juga harus belajar tahan godaan.

    ReplyDelete
  10. aahh.. seandainya budaya malu berlaku dalam kasus ini ya mbak,, faktanya anak-anak justru merasa bangga karena udah bawa motor sendiri ke sekolah.

    Ini memang kembali ke orangtua dan semua orang dewasa yang ada disekitar mereka. Jika semua pihak udah peduli dengan bahaya dan resikonya aku yakin bisa kok anak-anak ini diarahkan.

    ReplyDelete
  11. Di kampungku banyak mb dwi, anak sd juga uda bawa sendiri, walo cuma ngiter2 kampung,
    Ibu dulu ngejer2 aku supaya bisa ajar montor pas sma, cuma akunya trauma jatoh, akhirnya sampe sekarang nda berani motoran

    Bener banget, budaya malu tatib lantas ini mang di kita masih harus ditingkatkan, panyak penggguna jalan yang masi mementingkan egonya

    ReplyDelete
  12. terlebih lagi dikampung saya tu .... anak SD pun udah bawa motor sendiri ... gile benar

    ReplyDelete
  13. Anak bawah umur seharusnya belum boleh bawa kendaraan sendiri karena kondisi dan pemikiran mereka yang masih labil.

    ReplyDelete
  14. selain bahaya, anak-anak yang bawa motor sendiri itu kadang masih belum ngerti ngasih sinyal pas bawa motor. mereka tahu gas sama rem doang.

    ReplyDelete
  15. saya tidak setuju mbak, di tempat ku ada yang ngebolehin anak SD bawa motor, waktu itu dia magrib2 keluar, pas pulang motornya tidak dibawa karena di tengah jalan dihadang orang, anaknya pulang nangis, dan orang tuanya hanya bisa menyesal kemudian *malah cerita

    ReplyDelete
  16. Usia anakku sudah menjelang 16 dan belum punya SIM, tapi sudah mahir naik motor, karena belajar sejak SMP di kompleks perumahan.

    Restu belum pernah aku berikan. Aku dan suami tak sejalan. Suami malah mengizinkan. Lalu aku kasih pengertian dan 'ancaman' begini: 'ntar kalau ada apa-apa, bunda tak ingin disalahkan ya'.

    Alhamdullillah, manjur.


    ReplyDelete
  17. Setuju buuuu!!! Demi keselamatan dan masa depan anak-anak sendiri juga nantinya :)

    ReplyDelete
  18. kalau menurut aku orang tua atau pengasuh anak-anak, perannya penting nich menjaga anak untuk tidak berkendara

    ReplyDelete
  19. Waaah makasih Mbak Diah, disebut di sini. Senang, deh :)

    Iya, andai virus malu bisa kita tularkan ke orang :(

    Kalau contoh anak2 Mbak Diah itu, anak2 sudah punya rasa malu sejak kecil, insya Allah gedenya bisa lebih terkontrol. Orang tua mesti peka dan sengaja menanamkan rasa malu ini ya.

    ReplyDelete
  20. Mak, kalau liat yang seperti ini memang bikin gemas sama ortunya..aku sering ngeliat dan pernah jadi saksi saat ada kecelakaan.. anaknya cuma bisa nangis ketimpa motor..Penyuluhan memang penting, tapi tindakan tegas juga. Artikel yang bagus mak..membuka mata.

    ReplyDelete
  21. Membawa kenderaan itu kan bukan cuma sekedar bisa tp punya tanggung jawab besar di dalamnya. Itu lah kenapa anak2 dilarang keras membawa kenderaan bermotor. Saya setuju nih jika ingin berubah mari kita mulai dr diri sendiri dlu. Itu mantra saya. Smg kita semua bs jd orangtua yg amanah & selalu mengajarkan kebaikan untuk anak2 ya mba.

    ReplyDelete
  22. Setuju mba memang budaya malu kalo melanggar itu harus diterapkan sejak dini. Tapi aku juga percaya orang tua jgn sampai malah memfasilitasi, kadang namanya anak belum tau aturan dan membawa kendaraan itu tanggung jawabnya besar. Di keluargaku pun Alhamdulillah begitu, kami ga ada yang bawa kendaraan sampai umur 17 thn, walaupun sebelumnya sudah belajar bawa motor / mobil sendiri.

    Semoga kejadian kecelakaan krn blm matangnya mental pengemudi bisa terus berkurang ya mba.

    ReplyDelete
  23. Aku pernah keceplosan ngeluh capek antar jemput anak sama tetangga. Trus dia membanggakan diri krn anak2nya sudah mandiri, trus nasehatin aku agar menempa anak2ku supaya mandiri. Aku orang baru, blm tau bgt ttg anak2nya. Ternyata anak yg dimaksud masih kelas 2 SMP, sedangkan anakku sudah kelas 2 SMA tapi blm punya SIM, makanya aku belum kasih.

    ReplyDelete
  24. Saya setuju mbaaa.. tidak bertanggung jawab sekali kalau anak-anak di bawah umur dibiarkan berkendara dan membawa bahaya bagi orang lain. Orang tua harus tegas.. kalau memang tidak bisa bawa kendaraan sendiri, pakai kendaraan umum..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts