When A Journey Has Ended; Another One Starts

Bertepatan dengan suasana pergantian tahun, ada yang baru dalam hidup saya. Bapak saya baru saja meninggalkan fase kedua hidupnya pada 29 Desember lalu. When a journey has ended, another one starts. Bapak kini memasuki kehidupan baru, alam barzakh, tempat yang gaib bagi penduduk dunia. Dekat namun tak terindera.

Perasaan mengharu-biru saat Bapak tiada malah tidak terasa. Sepintas ketika sanak kerabat bertakziyah ke rumah Ibu, suasana lebih mirip arisan trah daripada suasana duka cita. Ibu tidak sesenggukan, pun saya, adik dan kakak saya. Air mata tentu saja ada, tapi tidak tumpah membanjiri ruang hati kami. Kehilangan, iya, tapi alhamdulillaah tidak ada penyesalan. Bapak pergi dengan catatan indah bagi kami, ahli warisnya. Hanya doa dan harapan yang tertinggal. Semoga kami dikumpulkan kembali di surga.

Baca juga: Kisah Lansia

Saya tahu, Bapak hanya manusia biasa yang punya kekurangan. Namun sebagai orang tua, Bapak adalah sosok yang mulia bagi kami. Bapak tipe orang tua yang serius tapi lucu. Di sela kedataran ekspresinya, selalu ada hal menggelikan terselip.

Opname

Rasa bahwa Bapak akan pergi sudah dimulai ketika Bapak diopname pada Oktober lalu. Kadar Hb Bapak drop. Di rumah sakit itulah Bapak mulai menunjukkan tanda-tanda. Saat Bapak memanggil saya, sudah ada perasaan 'deg' di hati saya. Saya pulang ke Jogja menjenguk Bapak. Dua hari di Jogja, saya sudah harus kembali ke Madiun. Itulah saat terakhir saya bertemu Bapak. Ada air mata di sudut mata Bapak ketika saya berpamitan.

Saat diopname itu juga Bapak memberi tahu Ibu bahwa surat keputusan sudah diterimanya.
"Aku wis entuk skep," kata Bapak.
Skep yang dimaksud adalah singkatan dari surat keputusan. Ibu pun paham bahwa ini artinya sudah tinggal menghitung hari.

Di lain kesempatan, Bapak membacakan pengumunan yang lembarannya hanya bisa dilihat Bapak.
"Diumumkan kepada seluruh warga bahwa majelis pelayatan Bapak Sudjono diundur."
Begitu kurang lebih isi pengumumannya yang dibaca Bapak dalam Bahasa Jawa dengan gaya siaran lewat pengeras suara masjid. Barangkali itu untuk menjawab perkiraan orang bahwa Bapak mungkin akan meninggal di rumah sakit.

Selain itu Bapak juga berkata bahwa orang yang menjemput Bapak sudah datang.
"Itu di sana. Di dalam lorong," kata Bapak.
Tak hanya itu, Bapak juga minta diambilkan guling padahal Bapak sangat jarang tidur dengan guling. Bagi yang paham tentu akan segera tahu guling yang dimaksud. Di dalam kubur, mayat seorang muslim akan dimiringkan ke arah kiblat dengan bagian punggung diganjal 'guling' dari tanah. Menurut penafsiran saya, itulah guling yang dimaksud. Wallahu a'lam.

Pulang dan Lalu Pulang

Sepulang dari rumah sakit, Bapak membaik, namun tetap memberikan pertanda. Ingatan Bapak sudah mulai terkunci di masa lalu. Bapak sering menganggap saya masih tinggal di Jogja. Lalu Bapak juga menangis usai bercerita tentang masa kecilnya. Di lain kesempatan Bapak menangis sedih dan ketika ditanya sebabnya, Bapak menjawab karena di antara seisi kampung, nilai Bapak paling rendah. Nilai apa, tidak ada yang tahu.

Di minggu-minggu terakhir kehidupannya, yang dibicarakan Bapak berkisar antara data dan tim. Kata Bapak, tim Bapak dari Arab sudah datang dan menunggu di bawah pohon. Dan banyak lagi yang kesemuanya makin menguatkan praduga kami bahwa waktu Bapak hampir habis.

Akhirnya, menjelang maghrib di hari Selasa, 29 Desember 2015, Bapak kembali menghadap-Nya. Inna lillaahi wa innaa ilayhi rooji'uun.

#

Usai Bapak pergi, yang tersisa hanya kenangan dan bekas-bekas kesabaran Ibu. Kursi roda, tongkat, perlak kasur adalah sedikit dari bukti kesabaran Ibu merawat Bapak. Hampir empat puluh dua tahun usia pernikahan Bapak dengan Ibu. Sebuah perjalanan panjang dua insan yang disatukan-Nya dalam ikatan suci. Semoga Bapak mendapat ketenangan di alam sana dan semoga Ibu ridho dan ikhlas serta tabah menerima takdir ini. Aaamiiin.

Comments

  1. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun
    Aku beberapa kali denger cerita ttg orang2 yang 'diberitahu' kabar kematiannya seperti Bapak Mbak Diah ini. Aku rasa beliau istimewa karena pernah denger ada juga cerita berbeda; seseorang ketakutan ketika didatangi 'tim' yg Bapak Mbak Diah sebutkan.
    Semoga Bapak khusnul khatimah ya Mbak Diah

    ReplyDelete
  2. Kalau yang ditinggalkan sudah siap, para takziah juga lebih tenang biasanya mbak..beda klo melayat, trus keluarga jenazah sampai pingsan2..jadi tmbah trenyuh..

    ReplyDelete
  3. Innalilahi wa inna ilaihi roji'un....Bapak telah menemukan tempat terindah di sisi Allah SWT ya mba...

    ReplyDelete
  4. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun...
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu...

    ReplyDelete
  5. Semoga seluruh amal ibadah Bapak diterima dan diampuni dosanya. Aamiin

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts