Anak Perempuan

Berawal dari mata, turun ke hati
Berawal dari berduaan, terdampar di penyesalan.

Apa, sih?

Sabtu pagi di TV, sudah ada berita anak perempuan hilang. Umur 16 tahun, diduga hilang saat sebelum sampai sekolah karena sudah dua hari tidak masuk sekolah. Si ibu menangis di TV, penonton sedih-sedih gemas di rumah. Aduhai, anak perempuan. Alangkah rentannya dirimu.

Berdasarkan tontonan tadi, suami saya bercerita tentang muridnya dulu. Anak sekolah yang kenal mahasiswa pas acara naik gunung. Pulang dari sana dia lebih banyak bengong. Tak peduli apapun. Nilai di sekolah melorot. Guru di sekolahnya pun sudah tak sanggup lagi mengembalikan dia.

"Entah apa yang terjadi di gunung waktu itu," kata suami saya.
Naluri keperempuanan saya berkata, "Bisa jadi dia sudah dicicipi."

Saya bukannya menyalahkan acara naik gunung tadi. Saya pun tak punya bukti dia melakukan apa di sana. Saya hanya merasa prihatin. Punya anak perempuan itu harus merasa ribet. Harus merasa. Jangan merasa keayemen (terlalu lega). Sekali anak perempuan retak, sulit utuh kembali. Siapa yang mau seperti itu?

Seorang teman di waktu kuliah dulu pernah bercerita. Mantan pacarnya yang playboy punya penggemar yang luar biasa. Teman saya tadi sampai heran pangkat tiga.
"Padahal mereka beda agama. Si cewek ngejar-ngejar terus padahal tahu kalau si cowok itu playboy."

Saya yang waktu itu masih single juga terheran-heran pangkat lima. Si cowok, okelah, tampang memang sip. Tapi kok segitunya bahkan sampai mereka terpisah pulau juga si cewek masih nguber. Padahal dia berjilbab. Pas saya cerita ke mbak saya, mbak saya bilang, "Mungkin dia sudah ga perawan lagi."
Saya pun melongo. Masssak sih? Naluri perempuannya mbak saya kali ya. Benar-tidaknya, wallohu a'lam.

Seorang kakak ipar saya punya dua anak perempuan. Yang besar sudah kelas 5 SD, yang kecil kelas 1 SD. Dulunya si kakak diantar-jemput oleh ojek laki-laki. Kini diantar-jemput mamanya. Biarpun sekolahnya dekat.
"Anakku udah besar, Dik," kata kakak saya itu. "Gimana juga aku yang was-was. Mending aku ngalahin antar-jemput."
Setuju. Bukannya berburuk sangka, tapi antisipasi lebih baik daripada penyesalan.

#

Perempuan. Kamu itu rapuh. Jadi jaga harkatmu. Tak usah tergoda omongan orang tak jelas. Tak usah malu dibilang anak rumahan karena nggak pernah pergi jauh. Jangan gengsi kalau dikatai anak mama karena masih dijemput mama. Ibu, Bapak. Anak perempuan bukan barang. Jaga baik-baik meski terdengar merepotkan. Tidak apa meluangkan waktu antar-jemput mereka, tak apa menemani mereka beli baju di mall, tak apa mengunjungi mereka di perkemahan. Tak apa. Sebab anak perempuan memang diciptakan Alloh untuk dijaga dan dihormati, bukan untuk dijamah sembarang orang.

Comments

  1. bener mak..akupun suka parno nih, meskipun duo gadisku masih krucils. tp klo yang ke arah2 sana aku suka pasang alarm duluan hihihi.
    semoga diberi kekuatan untuk menemani dan menjaga mereka, bs membekali mereka dg pemahaman yang benar. *sereeem klo tahu pergaulan zaman sekarang yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kita pernah jadi anak gadis ya mbak. Alangkah sulitnya menjaga izzah. Tp ketika kita jadi ibu baru kita mengerti betapa kehormatan itu tak ternilai harganya.

      Delete
  2. bener banget mbak, sama anak perempuan kadang emang perlu pengawasan ekstra ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Juga adik, kakak, keponakan dan murid perempuan mas.

      Delete
  3. Punya anak perempuan juga. Harus benar2 dijaga. TFS ya , Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa melewati godaan dunia dg sukses mbak dan selamat dunia akhirat.

      Delete
  4. Sejak kecil saya sudah ikut beladiri karate, tapi adik saya yang perempuan gak mau ikut. Mau saya biar bisa jaga diri. Tapi, caranya memang beda dengan laki-laki. Perempuan menjaga diri dengan menjaga sikap, juga perhatian dan doa dari keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin malu karena latihannya campur pak. Saya dulu pas SD jg ikut beladiri karate. Kl latihannya khusus perempuan brgkali lebih sip.

      Delete
  5. Anakku udah SMA lo mbak, cewek, tak antar jemput sendiri kemanapun pergi. Pernah waktu jadi panitia pensi, aku jemput jam 23.30 krn pas bapaknya nggak dirumah. Kadang siang2 kepanasan nunggu didepan sekolah smp sejam krn perubahan jadwal. Padahal dia udah ikut turnamen taekwondo segala. Tp jiwa remaja kan labil, harus dijaga. Makanya aku gak bisa sering2 ikut event blogger.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibu teladan mbak. Duh apalagi pulang malam. Jam 9 aja udah terasa gimanaa gitu. Pdhl dulu saya juga kadang pulang malam. Gimana perasaan ibu saya yg nunggu di rumah ya.

      Delete
  6. Aku juga punya anak cewek mb... 15 tahun lagi, gimana pergaulannya yaa? Dulu jamannya kita budaya malu, sungkan, masih kuat melekat...sekarang? Seolah semuanya diobral. Kucing mana yang nggak terrgoda untuk mencicipi coba...kalo bajunya mmng seolah memancing untuk segera diicip2. Eh...pernah belum ktmu ibu2 yang bangga saat anaknya berganti2 partner cowok? Aku pernah. Tau endingnya? Si cewek MBA...dan si cowok nggak mau tanggung jawab/nggak ngakui anaknya. Hiii... * iki kok malah nggosip tho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ingat bu anu yang jual makanan dekat kantor dulu. Eaaa...malah nggosip sisan.

      Delete
    2. Bu sopo mb? Yang jual bakso isi telur itu pho? Mmng gimana ceritanya? #rumpian ibu2 tenan kiii

      Delete
    3. Bukaaaan...itu lho yg warungnya depan pabrik. Hus, hus. Dosa ngrasani.

      Delete
  7. aku mmebiasakan anak amndiri ejak kecil baik yang perempuan dan laki2. mereka juga dibekali apa yang boleh dan gak dalam pergualan atau berpergian sendiri. Dan mereka tahu batas mana yang boleh dan gak, mereka sekarang berada di luar kota satu kerja satu kuliah tapi aku gak kaatir karena mereka sudah tahu apa yang harus mereka perbuat

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts