Kehamilan yang Tak Direncanakan

Hamil ketika sudah menikah tentu tidak salah. Bahkan diidamkan. Tetapi, hamil ketika belum siap?  Bisa jadi masalah. Itulah yang terjadi kepada saya. Saya mengalami dua titik move on karenanya.

Bisakah Menolak?
Saya mengandung anak kedua dengan berat. Betapa tidak? Saat saya menyadari bahwa saya hamil kembali, anak pertama saya baru berusia sekitar tujuh bulan. Ia sedang belajar makan dan minum susu formula dengan dot. Saya begitu sedih ketika hasil tes kehamilan mengatakan positif. Oh, tidak, saya masih ingin menimang anak pertama saya. Segala rencana yang saya susun untuk tahap-tahap perkembangan anak pertama saya runtuh sudah. Saya hanya bisa menyesali diri mengapa tak segera ikut program KB.
Reaksi kerabat dan teman-teman pun beragam. Ada yang mendukung, ada pula yang menertawakan.
Meskipun suami terlihat begitu bahagia dengan kehamilan saya, hal itu tak cukup menghibur hati saya. Hal ini berlangsung sampai ketika saya mengunjungi bidan. Beliau bertanya, "Ibu mau (kehamilan ini) apa tidak?" Pertanyaan yang tak mungkin saya jawab "Tidak". Mana boleh saya membuang karunia Tuhan ini. Ibu macam apa saya ini jika berbuat begitu. Inilah titik move on pertama saya. Saya harus terus maju. Ini hanya kehamilan yang tak direncanakan, bukan yang tak dikehendaki.

Berat
Episode mual muntah yang saya alami saat kehamilan pertama berulang, ditambah saya harus menemani si sulung belajar duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Saya yang bertekad tetap memberi ASI bagi si sulung akhirnya menyerah. Saya bahkan sempat terpapar gejala typhus akibat kurangnya asupan makan dan kelelahan. Suami saya dengan sabarnya mendorong saya agar tetap makan dan minum susu, namun saya terlampau rewel untuk mengikuti sarannya.
Lepas dari problem mual muntah, saya dihadapkan pada masalah baru. Saya belum menentukan akan melahirkan di mana dan ditolong siapa: bidan atau dokter. Akhirnya saya melabuhkan pilihan kepada seorang dokter spesialis OG perempuan pada sebuah klinik. Bersama dokter ini perasaan saya membaik. Rasa percaya diri saya tumbuh. Saya pun optimis bisa melahirkan secara normal.

Terpaksa
Seiring dengan membesarnya janin, anak sulung saya sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Bicaranya pun mulai jelas. Saya sangat bahagia. Tetapi, sekali lagi saya harus merasa terpuruk ketika akhirnya anak kedua harus dilahirkan bukan oleh saya, tetapi oleh tim dokter melalui operasi caesar. Sebabnya bukaan sudah mencapai sepuluh, namun bayi tak kunjung lahir. Saya pun dilarikan ke RS rujukan mengingat di klinik itu tidak tersedia fasilitas operasi. Akhirnya bayi saya pun lahir. Bobotnya 3.900 gram. Pantas saja ia sulit keluar.

Merasa Gagal
Saya lelah fisik dan mental saat dibawa ke ruang perawatan. Kedinginan, kelaparan dan kehausan serta sendirian. Entah bagaimana rupa bayi saya, saya tak ingat. Yang saya tahu seluruh jiwa raga saya terasa remuk. Mengapa saya gagal melahirkan?
Pengalaman itu begitu membekas di benak saya. Saya gagal. Apa sulitnya mengejan saat bukaan sudah sepuluh? Apa sulitnya mendorong bayi melewati jalan lahir yang baru setahun lalu dilewati si sulung? Kenyataan bahwa bayi saya lahir besar tak cukup mampu melegakan hati saya.

Menemukan Cinta
Saya melalui hari-hari dengan lesu. Mungkin inilah baby blues syndrom. Sampai suatu sore, usai memandikan bayi saya, saya mendandaninya dan saya menatap wajahnya. Ia memandang saya dan seolah-olah  berkata "I love you, Mom." Hati saya sangat tersentuh. Bagaimana aku tak mencintainya, sedangkan dia sangat mencintai saya tanpa ragu dan tanpa syarat?

Sayangku, ibu sayang kamu
 
Kini bayi saya ini sudah hampir berusia empat tahun. Wajahnya mirip dengan saya. Ia suka berbicara dan sangat lincah. Rasa ingin tahunya besar dan mudah bergaul. Astaghfirullah, hadiah seistimewa ini pernah saya lihat sebelah mata.

Sekarang, tak ada lagi perasaan tertekan memiliki dua anak yang usianya berdekatan. Bahkan beberapa teman 'menyesal' tidak mengikuti jejak saya, kata mereka "Enak, repotnya sekalian." Ada juga yang bertanya resepnya 'bikin anak'. Aduh, saya dan suami tidak pernah bikin anak, hanya berusaha. Yang bikin anak hanya Alloh. Jadi, hindari berkata demikian, ya.
Saya pun menyadari, rencana Alloh ada di atas segala rencana manusia. Meski masih bertanya-tanya, kini saya mulai menerima kelemahan saya yang tak bisa melahirkan dengan normal. Saya bukannya gagal, toh saya sudah berusaha. Move on, maafkan diri sendiri, lalu biarkan Alloh menyembuhkan.

Harus bagaimana
Jika kita menjalani kehamilan yang tak direncanakan, apa yang harus dilakukan? Pertama, sadarilah bahwa sesungguhnya semua ini adalah kehendak Alloh. Kalau Alloh mau menjadikan, ya, jadi, meski kita menghindarinya dengan program KB, misalnya.

Kedua, terimalah kehamilan itu dengan hati lapang. Tak perlu malu atau resah dengan omongan orang lain yang mungkin akan sedikit menyakitkan hati seperti, "Kok produktif banget sih?" atau "Udah tua kok ya hamil lagi" atau "Anaknya yang udah ada aja gak keurus, ini malah nambah lagi". Toh, ada suami, jadi sah saja kalau hamil, kan?

Ketiga, rawat si janin dengan baik. Jaga kesehatan dan asupan makan kita, periksa ke dokter kandungan atau bidan secara rutin sesuai jadwal dan mengikuti anjuran mereka.
Sebagai penutup, kehamilan yang tak direncanakan bukan sebuah dosa. Kita hanya harus percaya bahwa ada berjuta hikmah yang sedang dan akan Alloh perlihatkan kepada kita. Tugas kita adalah percaya kepada-Nya, menerima kehendak-Nya, lalu move on.

Comments

  1. mungkin pas momennya belum pas jadi kaget ya mbk,,sama kayak temanku dulu,tapi sekarang malah seneng punya anak 2 hehee

    ReplyDelete
  2. iya mbak. sekarang banyak yg 'iri'. kl repotnya sih repot, tp si sulung jd punya teman.

    ReplyDelete
  3. selamat atas kelahiran bayinya ya mbak :)

    ReplyDelete
  4. hihi...mak Susan...dah gede skrg bayinya.

    ReplyDelete
  5. Anak saya 4, nomer 3 dan 4 itu semuaaa kehamilannya ngga "sengaja" dan sebetulnya belum dan ngga mau... hehehe
    Tapi sekarang Alhamdulillah bahagiaaaa.... :)

    ReplyDelete
  6. huaaa...hebat mak Dewi...umur brapa sj skrg anak2 bu?

    ReplyDelete
  7. Hiks..aku yg merencanakan sejak 2thn lalu malah bkm berhasil mak.anakku udh 6thn skr,tiap hari nagih melulu kpn adenya lahir :(

    ReplyDelete
  8. Pernah baca di majalah wanita, mungkin banyak yang kurang bahagia kalau hamil lagi saat si kakak juga masih hitungan bayi dan juga sangat butuh perhatian. Tapi kembali lagi, seharusnya kalau kita berhubungan dengan suami, sudah memikirkan dampaknya. Kemungkinan hamil selalu ada. KB canggih buatan manusia ga bisa melampaui kuasa Tuhan. Jadi untuk menghindari hamil lagi, ya jangan 'berhubungan' dengan suami. Tapi apa bisa? Heehee... Jalan satu-satunya selalu menyiapkan diri jikalau tiba-tiba dikasih karunia hamil kembali.

    Yang di atas saya rangkum dari majalah. Belum ngalamin sendiri sih, jadi belum tau rempongnya. Sudah nikah 1 tahunan belum hami, rencananya kalau dikasih rezeki hamil dan melahirkan nanti, ga mau KB. Cukuplah saya 'menunggu' di awal pernikahan. Kalau bisa langsung berderet ga jauh jaraknya. Heehee... Kecuali kalau sekali dapat langsung kembar, baru deh KB *masih impian, semoga segera terwujud* :)

    ReplyDelete
  9. mak Muna: travelingnya harus berbau honeymoon terus kali mak. hehe...mmg manusia cm bisa rencana2 ya mak. smga segera dikaruniai momongan lg. aaaaamiiiiin.

    ReplyDelete
  10. Mak Nindya: betul mak, kl ga mau dapat anak ya jgn berhubungan. tp hanpir mustahil tuh. btw, dl sy jg pingiin punya anak kembar. biar cepet banyak. eh giliran dikasih 'kembar' dg selisih setahun ini ampun2. lha kl beneran kembar kyk apa ya? hehe...semoga sgra dikaruniai momongan mak. aaaaamiiiiin.

    ReplyDelete
  11. alhamdulillah ya mak masih diberi kesempatan untuk bisa hamil dan melahirkan..msh banyak org dsana yang merindukan untuk bisa menikmati moment2 itu tp belum diberi kesempatan...

    ReplyDelete
  12. mak Ruziana: betul, bersyukur bgt mak. sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. ada yg nunggu bertahun2 baru diberi momongan. ada yg tiap tahun punya bayi.

    ReplyDelete
  13. Apa yang Allah tetapkan untuk kita, itu pasti yang terbaik kan mak. Allah Maha Tahu waktu terbaik untuk mak hamil lagi, hanya kita sebagai manusia memang seringkali telat mengambil hikmah ya :)

    ReplyDelete
  14. mak Arifah: betul mak. kita ini mmg butuh banyak belajar menerima ya mak.

    ReplyDelete
  15. selamat atas kelahirannya mbak :D alhamdulillah

    ReplyDelete
  16. mbak linda: babynya dah balita sekarang mbak...hehe...

    ReplyDelete
  17. Mba saya ibu muda punya anak pertama usia 10 bln dan saya positif hamil uk sy 9mgg.. Kadang sy bahagia, kadang saya sedih krna anak prtma msh trlalu kecil utk punya adek. Tp mau gmn lagi, ini resiko saya krna ga d KB.. Smga sya bisa mrwat anak2 sy sprti mba diah🙏

    ReplyDelete
  18. Mbak Unknown: semangat mbak. jangan sedih; nanti berdampak ke si janin. percaya saja mbak sama Alloh bahwa kl memang kita dikasih lagi berarti kita memang mampu.

    kl mbak berkenan, bisa gabung ke grup 'kesundulan' di facebook. bisa ketemu teman senasib di sana yg bisa saling menguatkan.

    semoga tetap sehat ya mbak. ibu, bayi dan si kakak. semoga tetap bahagia.

    nanti kl sudah lahir, boleh lho kabari saya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts