Cerita Tentang Rumah Kontrakan

Pernahkah Anda tinggal di rumah kontrakan? Saya pernah. Rumah kontrakan itu punya cerita tersendiri, lho. Ya, sebenarnya bukan hanya rumah kontrakan saja, semua rumah memiliki kisah tersendiri. Namun, karena sampai saat ini saya belum memiliki rumah sendiri, maka saya akan berbagi cerita tentang rumah kontrakan saja. Kalau membahas rumah milik pribadi nanti saya jadi sok tau.
Para 'kontraktor' tentu pernah mengalami masa-masa sulit atau menjengkelkan atau meresahkan gara-gara rumah kontrakan yang ditempati bocor atapnya atau rusak pagarnya atau lampunya sering padam. Menurut saya, perasaan itu timbul karena: pertama, khawatir kita sebagai penghuni kesusahan. Bagaimana tidak susah kalau tiap hujan deras turun kita harus menyediakan ember atau panci untuk menampung tetesan hujan. Kedua, karena merasa tidak berkewajiban memperbaiki kerusakan yang ada. Iya dong. Rumah itu kan milik orang lain, jadi ya kewajiban empunya rumahlah untuk memperbaikinya, tentunya dengan uang si empunya rumah, bukan uang kita.
Jadi, pada intinya para 'kontraktor' ini mau cari enaknya saja? Tidak juga. Ada juga kok penghuni rumah yang rela merogoh kocek sendiri sekedar untuk menambal genting bocor atau mengganti engsel pintu yang rusak. Ada juga penghuni rumah yang meski sudah cinta tanpa hiatus kepada rumah yang ditinggalinya, tetapi rezekinya tak cukup untuk memperbaiki rumah. Ada juga yang senantiasa mencereweti si empunya rumah saat terdapat kerusakan. Yang seperti ini jangan dicap tidak cinta, malah yang ini menunjukkan cinta tanpa hiatus, sebab, itu berarti ia peduli.
Kalau saya sendiri tidak termasuk yang cerewet. Kalau masih bisa ditangani sendiri, mengapa tidak, asal tidak mengganggu kondisi keuangan saya.
Kalau Anda, termasuk yang mana?
Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Cinta Tanpa Hiatus.

Comments

  1. saya ngekos mbk hehe,jd kl ada apa2 tggl blg ke ibu kos

    ReplyDelete
  2. hehehe.. kl ibu kosnya baik hati enak ya. beruntunglah dirimu mbak kl begitu.

    ReplyDelete
  3. aku ngekos mak, kalo ada yang bisa ku tangani sendiri ku tangani aja,,, tapi kalo yg berat2 baru lapor..... :-)

    ReplyDelete
  4. idem mak Icha. kl yg berat di ongkos baru complain ya.

    ReplyDelete
  5. Gak pernah ngontrak Mak. Dulu pernah di PMI (Pondok Mertua Indah) terus balik ke rumah ortu. Alhamdulillah sekarang sudah di rumah sendiri.

    ReplyDelete
  6. wah mak Reni bejo deh. tp ada warna-warni jg ya pernh tinggal di PMI. hehehe...sy malah tidak sempat punya mertua.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts