Membandingkan Masa Lalu Dengan Masa Sekarang, Apa Ada Manfaatnya?

Masa-lalu

Halo, assalamu alaikum.

Malam tadi menjelang isya, anak  buah ngumpul semua di kasur. Sesiang tadi secara tumben banget, kami berlima bobok siang! Biasanya anak-anak kan pulang sekolah jam 2-3, jadi udah ga sempat lagi tidur siang. Jadilah habis sholat maghrib gini tenaga kami masih penuh.

Ngomongin apa di kasur? Biasalah, emak nasihatin anaknya sambil berkedok cerita membandingkan masa lalu dengan masa sekarang.

Memang masih njaman gitu banding-bandingin?

Sebelum bahas masih enggaknya, saya mau ngelantur dulu ya. Kali ini saya cerita latar belakangnya.

Baru kemarin ya kita dengar kasus dan lihat video yang viral abis dari kelakuan seorang anak muda yang ngerusak motor saat ditilang polisi. Sudah pada lihat kan videonya? Bukan cuma di situs berita, videonya beredar dengan ikhlas juga di Whats App.

Adi-saputra-banting-motor-sendiri

Anak itu, si Adi, membanting, melempari batu, memreteli bodi sepeda motor yang dia naiki di depan polisi yang menilangnya.

Ngamuk karena ditilang kok jadinya begitu? Ya terima dong harusnya, orang dia ga pakai helm dan ga bisa nunjukin surat-surat berkendara ke pak polisi.

Geregetan saya lihatnya.

Walau akhirnya dia ditahan dan minta maaf ke polisi dan seluruh warganet, ya, tapi sudah kadung dia terkenal.

Nah, dari kisah si Adi ini saya menarik benang merah yang puanjang untuk anak-anak saya.

Anak saya kan laki-laki semua. Saya takut juga dong kalau mereka bertingkah tidak karuan seperti kasus viral tadi. Saya berulang-ulang ucap "Naudzubilaah," jangan sampai terjadi ke keluarga saya.

Yang terpikir oleh saya adalah, si Adi itu sangat mungkin dibesarkan dengan didikan yang keliru. Saya bukan psikolog, saya cuman ibu biasa yang ngerasain susahnya mendidik anak. Saya bisa saja salah mengasuh anak-anak saya.

Sudah ada, banyak mungkin, ibu-ibu dan pakar psikologi lain yang bicara soal salah pengasuhan ini. Saya juga ikut baca sebagian pendapat mereka lewat facebook dan situs berita daring. Intinya, anak jangan sampai belum pernah merasakan kecewa, kalah, susah, sedih dan sebangsanya.

Biarkan anak pernah merasakan kesusahan hidup, kegagalan, agar tahu kenyataan dan cara mengembalikan gairah hidup lagi.

Hidup ini bukan kayak komputer yang bisa kita tekan tombol 'undo' tiap kali kita bikin kesalahan.

Kembali ke obrolan di atas kasur, ya. Topik kali ini adalah tentang jangan silau oleh tren.

Baca juga: Susahnya Punya Anak Laki-Laki

Dua calon bujang saya, Mas Besar dan Mas Kecil, sedang mendengarkan ibu mereka mengoceh soal masa lalu.

"Di masa dulu, ada slogan yang namanya 3G yang membuat orang menjajah negara lain. Bahkan ribuan mil ditempuh pakai kapal layar demi bisa menjajah."

"Ada Gold. Kekayaan. Ada Glory. Kejayaan, yang bikin orang Eropa menjajah banyak negara. Dan juga Gospel. Penyebaran agama," saya mulai mengcopas ajaran guru sejarah saya dulu.

"Di zaman Ibu muda, ada lagi yang namanya 3F."

"Wah, apa lagi itu?" celetuk Mas Besar tertarik.

"Itu untuk menggolkan tujuan, supaya anak muda di zaman itu ikut tren," terang saya.

"Apa itu 3F? F yang pertama adalah Fashion. Cara berpakaian."

"Dulu ada yang namanya majalah, Mas. Tiap minggu keluar edisi baru. Nah, di majalah itu ada yang namanya foto model. Pakai baju yang merknya terkenal."

"Kalau bisa pakai baju kayak mereka...wuih...rasanya keren banget!" terang saya sambil terbawa emosi. Biar meyakinkan, gitu.

"Dulu Ibu ga bisa beli baju kayak gitu. Ga ada di Jogja. Kalau ada ya harganya mahal. Eyang ga mau beliin. Rasanya sediiih gitu, Mas."

Masa-lalu-vs-masa-sekarang

"Terus, F yang kedua Food. Makanan. Minuman. Jajanan."

"Ibu tuh dulu pingin banget makan di KFC. Tapi Eyang ga punya duit. Ibu sampe ga tahu lho kalau makan di KFC tuh pakai tangan, ga pakai sendok-garpu gitu."

"Yang ketiga Film. Tontonan."

Saya menceritakan susahnya mau nonton TV swasta di masa itu. Harus pakai dekoder yang sulit terbeli dan terpaksa menikmati RCTI bisu. Ada yang ngerasain juga ga?

Baca juga yuk yang ini: Hantu Dari Masa SMA

Saya juga ceritakan soal bermacam-macam keinginan yang belum susah tercapai saat itu. Bagaimana harus berbagi sepeda motor, pingin nonton film ke bioskop tapi ga dapat izin orang tua. Pokoknya hal-hal menyedihkan yang dulu dialami saya ungkapkan.

Tapi, di akhir cerita saya buka rahasianya.

"Sedih, Mas. Teman Ibu bisa ini-itu, Ibu ga bisa. Tapi. Setelah Ibu lulus kuliah dan kerja, semuanya mulai jadi gampang."

"Dan hal-hal yang dulu Ibu pinginiiin banget, tiba-tiba enggak ngetren lagi. Jadi udah ga pingin lagi."

"Dan nyatanya, tanpa KFC, tanpa bioskop, Ibu masih hidup sampai sekarang. Ga mati, gitu."

"Terus, teman-teman Ibu yang dulu bisa memiliki yang Ibu ga punya, ternyata sekarang ya biasa aja tuh. Dan mereka juga sama tuanya dengan Ibu. Enggak kok Ibu tambah tua terus mereka tetep 17 tahun. Enggak. Sama aja, 40 tahunan juga."

Anak-anak terkekeh.

Dalam hati saya geli juga. Kok bisa-bisanya saya mendramatisir cerita dengan intonasi yang saya mainkan sebegitu rupa.

Ah, jadi orang tua emang harus bisa gitu. Bisa jadi apaaa aja biar tujuan tercapai. Asal untuk kebaikan lho ya.

Terus, inti nasihatnya apa tadi?

"Kalau kamu pingin sesuatu yang lagi ngetren, ga usah merasa sedih kalau ga punya. Tunggu aja deh 10 tahun gitu, nanti kan udah ga ngetren lagi."

Sepuluh tahun?? 😝

Masa-lalu-cerah

Segombal-gombalnya nasihat, kok ya mereka manggut-manggut aja.

Buktinya si Mas Besar bilang gini, "Dulu ML, sekarang Free Fire sama PUBG. Besok ganti lagi."

Ho oh. Betul.

Jadi, tetep ya ada manfaat membandingkan masa lalu dengan masa sekarang? Ada dong. Asalkan bisa dicarikan benang merah yang pas.

Juga, membandingkan itu bukan untuk mencari pujian dari masa sekarang. Kesulitan yang dulu dihadapi bukan untuk dipamerin dan bukan untuk menjelekkan masa sekarang.

Tiap zaman punya tantangan tersendiri. Menyamaratakan semua masa jelas ga bisa. Yang bisa adalah ambil hikmahnya dan strategi menghadapinya.

Seperti yang selalu saya bilang ke anak-anak, "Manusia itu dari zaman dulu sampai sekarang sama. Makannya tetap makanan, bukan jadi makan aspal. Jadi sama aja. Kalau ga makan, lapar. Kalau disinggung, marah. Kalau disakiti, sedih."

Nah, apa lagi deh ini. Sudah ah. Tulisan ini jadi mbleber ke mana-mana. Curhat abis deh. Intinya apa jadi ga jelas. 😅😅

Maafkan. Tapi terima kasih ya sudah berkenan baca sampai habis. Meski ngelantur, tetep berharap semoga curhat ini ada manfaatnya.


Comments

  1. Ngalami rcti bisu . Kepengen bisa nonton tv warna...tp punyanya hitam putih, akhirnya kacanya doang yang warna.

    Iya, dulu kaos paling keren klo merknya H & R, poshboy..pokoke yang ada di majalah aneka/anita/hai. Aku kepengen dagadu aja belinya yang KW mba..😊

    ReplyDelete
  2. Betul banget tuh Bun. Terkadang aku juga membandingkan masa lalu dengan masa sekarang tapi yang membuat anak termotivasi

    ReplyDelete
  3. Wah betul banget tuh ya Bun, apa yang kita pinginkan dahulu meski tidak kesampaian lama-lama juga udah nggak tren

    ReplyDelete
  4. Menunggu 10 tahun ya Bun? Lama amat ya kalau dipikir-pikir :D

    ReplyDelete
  5. Wah betul banget tuh ya. Boleh saja membandingkan masa lalu dengan masa sekarang yang penting itu untuk kemajuan

    ReplyDelete
  6. Wah setuju banget tu sama Bunda. Aku aja sering kok membandingkan masa lalu ku dengan masa sekarang tapi agar aku termotivasi

    ReplyDelete
  7. Saya baru tau itu 3F mbak hahaha.. Kalau 3G saya tau waktu jaman sekolah dulu :))

    Saya lebih percaya hal-hal klasik/jadul untuk fashion, jadi ga ikutin tren.. Kalau untuk film saya juga jarang nonton.. Tapi kalau food, nah itu yang susah buat ga makan yang lagi ngetren wkkwkw

    Tapi emang, manusia akan tetap selamanya jadi manusia ya mbak.. Kembali ke kebutuhan dasar, bukan lifestyle yang menjerumuskan.. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang bahkan udah 5G ya mas. Hahaha....

      Iya , PR kita sebagai orang tua banyak. Sudahlah belum lulus syarat kecakapan minimal jadi orang tua, sekarang tambaj lagi musti ikut ujian upgrading.

      Salah siapa mau jadi orang tua?? Hahaha....

      Delete
    2. Asal orangtuanya semangat untuk mempelajari hal baru dan tidak malu untuk belajar, insyaallah ada aja itu mbak jalannya untuk membesarkan anak yang baik gimana..

      Kalau susah, nah itu, siapa suruh jadi orangtua :))

      Jomblo seumur hidup sanah wkwkwk

      Delete
  8. wah ada banyak singkatan ya mbak, aku juga kalau anseahti anak suka pakai cerita dulu

    ReplyDelete
  9. Hai, Mbak. Salam kenal, ya. Sukaaa deh dengan gaya berceritamu ke anak-anak. Mirip-mirip aku gituuu, hahaha ... Tapi bercerita ke anak-anak apalagi sebelum tidur, memang manjur banget untuk menguatkan ikatan batin, ya. Anak-anak juga paling suka lho dengerin aku cerita tentang masa kecil ibunya seperti apa. Meskipun nanti mereka bakal ungkit-ungkit lagi, tuh. Nggak peduli di depan siapa. "Mama, dulu mana waktu kecil kan pernah nyuri anggurnya tetangga, ya?" Wkwkwkwk ....

    ReplyDelete
  10. Awww... jadi kangen curhat-curhatan ama si sulung saya mba.
    Sejak ada adiknya, saya jarang kelonin dia, jarang bacain dongeng, jarang kruntelan dengan khidmat *tsah hahaha

    Baca ini jadi semacam pengingat juga di saya, untuk wajib luangkan waktu saling curhat ke anak, agar sebagai memori indah mereka bersama saya.

    Pun juga bisa dijadikan ajang menasehati anak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts