Skip to main content

Imunisasi Bayi, Pilih Yang Mahal Atau Merakyat?

Bayi, makhluk mungil itu sejak lahit memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Proses perolehan daya tahan tubuhnya adalah dari asupan ASI dan imunisasi bayi.

Bayi Digdaya yang lahir di RS mendapatkan imunisasi pertamanya di RS juga. Berhubung sudah ada data rekam medisnya di sana, sekalian saja imunisasi selanjutnya juga di RS.

Baca juga: Periksa Kehamilan di RSI Siti Aisyah Madiun

Pas ada kegiatan Posyandu bulan lalu, ada satu bayi baru lahir yang belum ditimbang. Berhubung bayi tersebut tinggalnya dekat dengan tempat tinggal saya jadilah ibu kader posyandu meminta bantuan saya untuk menyambangi si bayi dalam perjalanan saya pulang. Tentu saja yang saya temui adalah ibunya. Ya masak si bayi, hehe...

Maksud dari ibu kader Posyandu tadi adalah biar sang bayi tidak terlewat dari pendataan. Pendataan ini penting agar jika ada kasus, maka bisa segera dilakukan tindakan.

Saat saya sampai di rumah ibu yang dimaksud tadi, si ibu bilang bahwa bayinya akan ditimbang di RS saja sekalian imunisasi. Ibu itu juga tanya apakah di Posyandu ada imunisasi bayi.

Iya juga, ya. Lha wong bayi saya juga diimunisasi di RS. Timbang berat badannya ya sekalian di RS. Sama dong kalau gitu.

Pada waktu si kecil diimunisasi Polio 0 dan BCG sih nggak terlalu terasa bedanya. Nah, pas imunisasi DPT Polio 1 barulah terasa. Apanya? Sakitnya? Bukan, tapi harganya.

Jadi, pas masuk ke ruang dokter untuk imunisasi, bayi ditimbang. Sesudah itu ditanya keperluannya, ada keluhan apa tidak.

"Imunisasi DPT, Dok," kata saya.
"Mau yang pakai panas atau tidak?" tanya mbak perawat yang membantu dokternya.

Lalu perawat itu menyebutkan dua urutan angka. Saya kaget juga dengarnya. Yang satu cuma belasan ribu, yang satu lagi ratusan ribu. Wow, inikah harga tidak pakai panas?

Akhirnya saya pilih yang tidak pakai panas. Pertimbangannya ya biar anak saya tetap nyaman pasca divaksin. Setelah disuntik pun boleh segera disusui dan memang setelah itu badannya tidak panas. Tapi tetap saja agak rewel. Mintanya ditemani terus, digendong dan seterusnya.

Baca juga: Merawat Bayi Di Cuaca Panas

Kenapa bedanya bisa jauh banget? Saya pun googling. Menurut situs yang saya baca, harga vaksin DPT yang beda jauh itu karena yang satu disubsidi pemerintah sedangkan yang satu lagi tidak. Pantaslah kalau harganya beda, ya.

Untuk kandungan vaksin, cara penyimpanan dan lain-lain, bisa dicari di internet, ya. Lebih menyeluruh, gitu. Kalau saya cuma garis besarnya saja.

Persamaan imunisasi bayi yang mahal dengan yang merakyat itu ketika disuntikkan bayi sama-sama menangis, hehe...

Kok tahu? Iya, soalnya anak sulung saya dulu pernah diimunisasi di Posyandu yang notabene harganya nol alias grahatis.

Panas ga bayinya? Wah, saya udah lupa, hehe...tapi yang jelas panas-tidaknya si bayi pasca imunisasi itu tergantung kondisi tubuhnya juga.

Baca juga: Bayi Melihat Penampakan Di Jendela

Nah, soal pilihan mau imunisasi anak dengan harga yang mana, silakan saja disesuaikan dengan keadaan dan kemantapan hati. Jangan jadikan pilihan imunisasi sebagai bahan perdebatan karena setiap pilihan itu ada resikonya.

November nanti Digdaya akan diimunisasi DPT Polio 3. Pilih di mana? Insya Alloh tetap di RS. Semoga bayi saya tetap sehat, tumbuh berkembang dengan sempurna. Aaamiiin.

Nah, kalau teman-teman gimana? Ada cerita soal imunisasi bayi juga?

Comments

  1. Saya pernah dengar pengarahan dari dokter anak, katanya bertanyalah langsung mengapa imunisasi itu harganya bisa mahal, bisa beda, dst. Karena sebagai konsumen kita harus tahu dan tidak merugi ke depannya. Kalau mbak kan udah cari tahu, jadi sudah plong saat menggunakan, eh anaknya maksudnya :)

    ReplyDelete
  2. Aku pilih yang vaksin DPT kombo yang jenis DPwT dengan kemungkinan panas yang lebih tinggi di puskesmas, alias FREE hehehe. Abis dibaca-baca lagi ternyata ada literatur yang menyatakan lebih ampuh DPwT dibandingkan DPaT. Masalah panas itu tergantung kondisi anak. Ga selamanya yang mahal itu bisa bikin ga panas juga hihi

    ReplyDelete
  3. Aku juga sempat bertanya2, kenapa harganya bisa beda jauh.

    ReplyDelete
  4. Aku setuju sama komentar Mbak Faradila. :D Kondisi tiap anak juga beda. Jadi, yang mana pun baik.

    ReplyDelete
  5. Raka di bidan. Alya lebih merakyat lagi..di puskesmas, byr 5 ribu. Nggak pake panas juga.. dibawain parasetamol, tp hampir nggak pernah keminum.

    ReplyDelete
  6. Sama mba, imunisasi di rs... Ke posyandu cmn buat ditimbang & silaturahmi aja, lumayan suka dapet snack hihihi...

    ReplyDelete
  7. pernah nyoba semua mbak.. Tapi akhirnya, kalau di Puskemas ada yang free, saya pilih yang itu..
    Untuk imunisasi tertentu seperti PCV, memang harganya mahal. Karena tidak ada pilihan lain, ya terpaksa ambil yang itu juga

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.