Skip to main content

Belajar Mengenal Arah Mata Angin

Mengajarkan cara mengenal arah mata angin adalah tantangan tersendiri. Anak kedua saya pada waktu di TK (5 tahun 4 bulan) baru bisa membedakan kiri dan kanan, sebelumnya selalu terbalik dan kalau menyebutkan kanan dan kiri selalu ragu. Setelah 'lulus' dari problem kanan dan kiri, saya pikir sudah saatnya mengenalkan arah mata angin. Kenapa sih kok terburu-buru? Bukannya terburu-buru, tapi mumpung momentumnya pas, dan dia sedang semangat-semangatnya. Dalam program ini yang tampak antusias adalah si anak kedua. Si sulung masih cuek bebek meski sesekali ikut nimbrung belajar juga.

Menggunakan Lingkungan Sebagai Alat Belajar Mengenal Arah Mata Angin

Pada awalnya saya mengenalkan arah mata angin dengan menunjuk rumah-rumah tetangga sebagai pedoman dan cara ini paling mudah diterapkan.

Rumah Mbak Ila di sebelah Utara, rumah Bu Bas di sebelah Selatan. Rumah Pak Agus di sebelah Timur dan rumah Pak Kadir di sebelah Barat.  Sudah, empat arah mata angin itu dulu saja sebagai langkah awal.

Menggunakan rumah tetangga sebagai pedoman menurut saya lebih mudah dipahami karena letaknya tetap. Berbeda jika menggunakan arah terbit dan terbenamnya matahari, sebab matahari mengalami gerak semu sepanjang tahun. Tahu sendiri kan, anak-anak itu kritis. Sekalinya mereka melihat matahari agak bergeser, bisa-bisa mereka protes. Repot dong njawabnya, hahaha...

Lagipula jika menggunakan arah terbit dan tenggelamnya matahari membuat saya kesulitan menemukan benda sejenis untuk dijadikan patokan arah Utara dan Selatan. Sedangkan menggunakan benda patokan yang tidak sejenis menurut saya membingungkan. Perbandingan hanya bisa dilakukan jika yang dibandingkan sejenis. Tambahan lagi, mengajarkan suatu ilmu yang kurang dikuasai oleh pengajarnya, dalam hal ini saya, tentu sangat tidak disarankan, hehehe... Kalau pengajarnya saja kesulitan, bagaimana dengan anak didiknya?

mengenal-arah-mata-angin


Mengenal Arah Mata Angin Melalui Lagu

Metode lain yang saya coba adalah mengenal arah mata angin melalui lagu. Lagu yang saya sebut "Timur Tenggara" ini diajarkan oleh adik saya saat ia masih duduk di bangku SMP. Lagu ini dinyanyikan sambil berdiri menghadap arah Timur atau dengan tangan mengarah ke Timur, lalu berputar mengikuti arah mata angin yang disebutkan. Lagunya begini (menggunakan nada lagu Bahasa Inggris "This is the Window, That is the Door"):

Timur, Tenggara,
Selatan, Barat Daya,
Barat, Barat Laut,
Utara, Timur Laut


Teman-teman tahu lagu ini kan, ya? Kalau belum tahu bisa tanya guru Bahasa Inggris atau cari di internet.

Mengenal Arah Mata Angin Dengan Metode Cetak

Bagi orang tua yang punya waktu lebih, bisa membuatkan alat peraga arah mata angin dengan metode cetak. Nama-nama arah mata angin dicetak di kertas, lalu dipotong-potong dan ditempelkan di kertas karton besar sesuai arahnya. Jika tak ada alat pencetak, bisa dengan cara ditulis langsung di atas kertas yang lebar. Kertas karton sangat disarankan untuk dipakai agar lebih awet.

Kalau tidak ada karton besar bisa dengan cara nama-nama arah mata angin diletakkan di lantai begitu saja, jadi tiap selesai belajar bisa disimpan. Kalau mau yang lebih awet, nama-nama arah mata angin tadi dilaminating dulu.

Metode Belajar Mengenal Arah Mata Angin Mana Yang Paling Cocok Untuk Anak?

 Nah, ini tergantung si anak, ya. Ada anak yang suka menyanyi dan menari, cocok dengan metode lagu. Anak yang suka bergerak bebas, mungkin cocok dengan metode cetak. Ada juga mungkin anak yang cocok dengan metode campuran, silakan saja.

Misalnya, anak berdiri di tengah kertas karton lalu menghadap salah satu arah mata angin. Sebutkan arahnya dan sebutkan rumah tetangga yang berada di arah itu. Misal: "Timur, rumah Pak Agus". Setelah anak paham, beri pertanyaan, misal, "Di arah mana rumah Mbak Ila?" Anak diminta menjawab dengan menunjuk arah rumah yang dimaksud sambil mengucapkan nama arah mata anginnya.

Atau anak berdiri di tengah lingkaran dan menghadap ke Timur, lalu mulai menyanyikan lagu "Timur Tenggara" sembari bergerak sesuai nama arah mata angin yang dinyanyikan.

Pada intinya orang tua mengikuti naluri belajar anak saja. Yang penting tujuan tercapai, yakni anak mengenal arah mata angin. Nah, teman-teman ada yang punya cerita mengenalkan arah mata angin kepada anak, atau pengalaman teman-teman dulu saat belajar mengenal arah mata angin? Boleh bagi ceritanya di kolom komentar, ya. Yuk, yuk!

Comments

  1. kalo boleh jujur, sebenarnya sampe saat ini saya belum bisa membedakan arah mata angin loh Mbaa, yang saya tahu itu hanya barat dan timur saja. Duh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. paling gampang ya mbak. timur dan barat. soalnya kita akrab dengan itu, matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. plus kiblat ke arah barat, hehe...

      tapi saya kalo pindah tempat juga suka bingung, apalagi kalau di perjalanan.

      Delete
    2. Nah ini..
      Klo ngajarin ke anak, aku pke lagu mb.
      Paling enak klo dah ketemu utaranya..jadi tinggal kanan barat, kiri timur, dan blkng selatan.
      Tapi klo di tempat baru ato dijalan..aku bingungan.. Taunya kanan, kiri maju dan mundur☺☺

      Delete
    3. sama. kalo di tempat baru aku juga bingung. mesti nanya dulu. atau lihat arah kiblat. atau lihat kuburan. kalo kuburan kan di kita mujur ngalor-ngidul ya. hihi...serem amat.

      Delete
  2. Wah mba sampai sekarang saja saya masih suka bingung klo ditanya kanan atau kiri hahaha. Bahkan dulu sepatu.saya dikasih tulisan kiri kanan sampai saya SMA. Hahaha kemampuan saya mengenali arah parah Mba wkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.