Skip to main content

Masjid Yang Ramah Terhadap Anak

Sebagai yang pernah jadi anak kecil, saya merasakan sekali kegembiraan saat ke masjid di kala kanak-kanak. Niat ke masjidnya bukan untuk beribadah semata tapi juga untuk ketemu teman, main lari-larian dan main putri-putrian. Hah? Putri-putrian? Iya. Dulu saya berkhayal jadi putri di kerajaan seindah surga dengan pintu gerbang laksana lengkungan masjid. Pakaian saya adalah mukena yang melambai-lambai tertiup angin dan rok yang lebar dan menyentuh tanah. Anggun banget.

Beranjak sedikit besar saya mulai kesal saat di masjid lihat anak kecil main lari-larian, putri-putrian dan main mobil-mobilan pakai kotak infak beroda.

"Norak!" kata saya.

Belum lagi gerombolan anak perempuan yang sibuk kasak-kusuk di pojokan padahal sholat sudah dimulai. Uh! Bikin pingin njewer!

Anehnya, anehnya, saat dewasa dan punya anak, saya tenang-tenang saja saat di masjid ada bocah-bocah pethakilan jejeritan saat sholat. Was-was sedikit, tapi tidak terganggu. Lha wong salah satu dari bocah itu adalah anak saya.

Subjektif? Oh yes, maybe.

Buat saya, bocah-bocah itu mau sholat ke masjid saja sudah bagus. Mengharapkan lebih dari itu adalah ketidakadilan. Toh saya dulu juga seperti itu. Oke, oke, bukan berarti dulu boleh lalu sekarang boleh. Bukan. Maunya sih tidak. Tapi begitulah proses pendewasaan seseorang di masjid. Yang kecil belajar tertib, yang lebih tua belajar sabar.

Kata seorang alim, seseorang yang berangkat sholat ke masjid saja sudah dapat pahala. Orang yang berusaha khusyuk itu sudah dapat pahala. Perkara ada anak berisik, itu bukan salahnya. Insya Alloh usahanya untuk tetap khusyuk itu juga berpahala. Toh dulu Rosululloh juga pernah sholat sambil diganduli cucunya.

Maka saya sedih jika ada masjid yang melarang anak kecil mendekat. Padahal anak kecil itulah calon penerus kita. Kalau di semua masjid anak kecil dilarang masuk, lalu bagaimana mereka akan mengenal tempat ibadahnya?

Jadi, nggak apa anak berisik di masjid? Ya nggak juga. Sebisa mungkin kita antisipasi. Caranya? Macam-macam.

Jika Anak Masih Balita

Satu, pakaikan baju yang nyaman untuk anak agar dia tidak kegerahan misalnya, lalu jerit-jerit. Bagi yang masih suka ngompol, pakaikan popok antiompol. Silakan pilih model dan merknya.

Dua, kenyangkan anak dulu biar tenang. Kalau masih menyusu pakai botol, bawakan botolnya kalau perlu.

Tiga, minta anak untuk buang air terlebih dulu sebelum ke masjid supaya tidak ada drama kebelet di tengah keheningan ibadah.

Empat, bekali dengan pemahaman tujuan ke masjid untuk apa. Boleh lari-lari atau tidak. Boleh teriak-teriak atau tidak. Pahamkan bahwa orang tua akan bangga kalau anak tertib di masjid. Beri pujian seusai dari masjid jika anak menurut.

Jika Anak Sudah Lebih Besar

Satu, terapkan keempat cara untuk anak balita tadi. Mungkin anak yang lebih besar tidak serewel dan seheboh anak balita, tapi perasaan yang diperoleh orang tua ketika anak sudah dalam kondisi siap beribadah adalah sama: tenang.

Dua, pisahkan anak-anak dari kelompoknya saat sholat. Ini bukan cuma tugas orang tua ya, tapi tugas semua jamaah. Yang paling mudah adalah tiap jamaah menggandeng satu anak lalu menempatkannya di sisinya sehingga formasi dalam shof adalah: anak-dewasa-anak-dewasa. Dengan demikan kesempatan bagi anak untuk ngobrol (biasanya anak perempuan) atau tendang-tendangan (biasanya anak lelaki) mengecil. Apalagi kalau yang mengapit bukan orang tuanya, biasanya anak sungkan jika mau berulah.

Tiga, datang lebih lambat. Ini jalan terakhir. Seandainya dengan cara-cara tadi anak kita masih bikin ulah di masjid, sementara si anak harus kita akrabkan dengan masjid (dalam hal ini anak laki-laki yang nantinya wajib sholat lima waktu berjamaah di masjid), terpaksalah kita datang lebih lambat. Makmum masbuk. Datang pas setelah rokaat pertama selesai, misalnya, supaya andai anak berisik tidak terlalu lama mengganggu jamaah lain. Tapi ini sangat-sangat darurat lho, ya. Kalau ditanya apa saya pernah berbuat begini, jawabannya pernah beberapa kali saat anak-anak saya masih sangat pecicilan di masjid. Sekarang si sulung sudah tenang di masjid, malah dia berangkat sendiri ke masjid.

Dengan penerapan beberapa cara tadi masjid dijamin tenang dari polah tingkah pecicilan anak.

Oh ya???

Tentu tidak!

Anak tetaplah anak yang punya banyak energi untuk menguji kesabaran kita. Jangan lelah bersabar dan mengajarkan anak. Jamaah lain yang tak bawa anak juga jangan bolak-balik komplain tanpa ikut membantu (terutama pada poin dua bagi anak yang lebih besar). Jangan capek lalu ambil cara instan seperti melarang anak ke masjid. Nanti kalau kita sudah tua-tua dan nggak ada anak muda yang mau ke masjid, ya jangan salahkan mereka. Lihat dulu pendidikan macam apa yang kita tanamkan kepada mereka.

Yuk, yuk, jadikan masjid kita masjid yang ramah terhadap anak dan jamaahnya juga jamaah yang ramah terhadap anak.

Comments

  1. Sejak saya kecil hingga sekarang anak-anak tetap anak-anak, belum tahu khusu' atau tidak.Apalagi saat sholat tarawih atau sholat Jum'at. Biasanya karena banyak temannya. Kalau di sendiri mungkin keberisikannya agak berkurang.
    Lha cucu saya juga suka berisik walau sudah dibilang jangan berisik. Kadang patroli dari saf ke saf atau menengok imam yang sedang membaca surat hahahaha

    Terima kasih tipnya.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Kecil ku dulu abis maghrib, mainnya juga di maasjid mb... Biasanya klo yang sering jutek klo liat ada anak kecil rame pas sholat/ pngajian...krn ndak punya anak kecil..atau klo nggak gitu ra tau momong putu.. ( semua terhandle art..)

    ReplyDelete
  3. entahlah dua anakku sejak kecil gak pernah rewel atau ribut saat dibawa solat ke mesjid. selalu tenang duduk di sampingku.

    ReplyDelete
  4. aku belum berani ajak anakku (18mo) ke masjid mbak, lha kalo pas sholat di rumah aja suka teriak-teriak, usil pengen gangguin orang sholat.

    ReplyDelete
  5. ya kadang emang terganggu sih kalau ada anak di masjid yg berisik, bahkan ada juga yg nangis saat sholat. tapi ya mau gimana lagi, namanya juga anak kecil. saya pas kecil juga sering bikin berisik. itu wajar sih

    ReplyDelete
  6. Ajarkan anak ke masjid agar diringankan langkahnya...

    ReplyDelete
  7. aku kalo shalat di mesjid pilih yang agak di luar mbak, alfi masih suka jalan2 soalnya pas aku shalat

    ReplyDelete
  8. Ini problem dimana-mana. Di satu sisi ingin agar anak-anak cibta masjid tapi di sisi lain suka nggak enak kalau anak-anak berisik. Padahal ya namanya anak-anak memang begitu.

    ReplyDelete
  9. Wah... ini postingan yang menurutku sangat menarik. Daku jadi terinspirasi. Apalagi kita bakal ngadepin ramadhan. Pas sholat tarawih, mesjid mendadak penuh, dewasa dan anak-anak. Apa yang Mbak sampaikan ini sangat bermanfaat. ^_^

    ReplyDelete
  10. dulu aku sempet kesel juga kalo ada anak2 berisik di mesjid.. apalagi anak co yg teriak amiin selalu paling kenceng ;p hihihihi.. tapi lama2, punya anak sendiri, ya udh ga sebel lagi..anakku untungnya masih dlm tahap anteng tiap diajak ke mesjid, jalan2 iya, tp at least ga ribut :D .. kalo dulu pas masih di Aceh, mesjid di komplek rumahku, nerapin susunan shaf, yg paling depan laki2 dewasa, trs anak laki2, lalu anak perempuan, trakhir baru barisan shaf wanita dewasa.. jd anak2nya lebih terkontrol dan ga bikin sholat jd ga khusyuk sih mbak.. :) Makanya agak kaget aja pas pindah ke jkt, susunan shafnya cuma dua, laki2, dan wanita thok. anak2 dicampur gitu.. tapi ya sudahlah, yg ptg sbnrnya, membiasakan anak2 itu utk cinta dtg ke mesjid kan ;)

    ReplyDelete
  11. Sejak balita harus dudah di biasakan ke mesjid yaaa

    ReplyDelete
  12. Wkwkwk aku waktu masih kecil banget dulu alhamdulillah sih main ke masjid kwkwkw kadang main lari-larian di serambi masjid wkwkw yaah, walaupun sering dimarahin, kami nggak kapok :D wkwkwk

    ReplyDelete
  13. Ahi hi hi alhamdulillah saya waktu kecil dan waktu membawa anak kecil ke mesjid belum pernah nakal dan rewel.

    ReplyDelete
  14. mbak Diah, selamat menyambut Ram,adhan :)

    ReplyDelete
  15. Malam ini, anak saya laki2 umur 2tahun diusir dari masjid dg alasan mengganggu khusu yg sedang sholat, baru 4rakaat sholat taraweh lsg diusir, sedih, semoga anakku kelak dewasa menjadi imam besar masjidil haraam, amiin ya rabb

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.