Skip to main content

Keguguran Saat Hamil Muda (Bagian 1)

Hamil merupakan salah satu saat yang paling membahagiakan bagi pasangan suami-istri, termasuk saya dan suami saya. Program punya anak ketiga diridhoi Alloh. Senangnya... Namun kebahagiaan itu hanya sampai di situ. Setelah punya dua anak lelaki, mau dong kalau dapat anak perempuan. Tapi dianugerahi anak laki-laki lagi juga mau. Yang penting sehat lahir-batin, menyenangkan mata dan hati di dunia hingga akhirat.

Ada Bayi di Perut Ibu

Bermula dari keraguan. Benar nggak ya saya hamil? Sudah terlambat datang bulan beberapa hari tapi kok nggak terasa mual? Kehamilan yang sebelumnya selalu pakai acara mual muntah. Saya pun menyempatkan diri melakukan tes dengan test-pack. Hasilnya garis dua! Alhamdulillaah.

Saya sudah merancang bulan ini mau beli handuk bayi. Bulan depannya nyicil beli bedong dan popok. Bulan depannya lagi beli baju bayi. Kan belum tahu jenis kelaminnya, kok udah berencana beli baju bayi? Nggak apa-apa, toh baju bayi biasanya satu set isinya bermacam warna. Kalau mau netral ambil kuning atau hijau. Eh tapi kata siapa sih anak laki-laki harus warna biru dan perempuan pink?

Sudah terbayang juga nanti kalau si bayi sudah lahir saya ajak dia ke sekolah mas-masnya untuk mengantar makan siang mereka. Pokoknya sudah hepi banget lah. Anak-anak juga antusias sekali menanyakan kabar calon adik mereka, "Bagaimana keadaan bayinya? Apa baik-baik saja?"

Berhubung ini adalah kehamilan ketiga, saya cukup percaya diri untuk beraktivitas seperti biasa. Belanja, bersih-bersih rumah, antar-jemput anak sekolah dan lain-lain. Barangkali inilah penyebab saya keguguran, karena ada satu hal yang saya lupakan: usia saya saat hamil.

Ada harga, ada rupa. Ada umur, ada tenaga. Usia saya saat ini nyaris 39 tahun. Sudah cukup tua untuk hamil, ya. Relatif juga sih. Ada kakak sepupu saya yang melahirkan di usia 40 ya biasa saja, padahal anak keempat. Okelah, secara umum usia 39 tidak muda lagi, bahkan digolongkan kehamilan beresiko tinggi jika pada usia itu hamil untuk pertama kalinya. Tetapi, reaksi dokter dan bidan saat saya periksa biasa saja yang saya artikan hamil di usia 39 adalah fine-fine saja. Ohya? Hmm...tergantung kondisi si ibu juga.

Flek-Flek, Lalu...

Namun, Selasa kemarin (1/3) kami harus merelakan kepergian si calon bayi. Saya mengalami keguguran. Sedihnya...

Flek muncul lima hari sebelum keguguran, selama tiga hari berturut-turut. Kenapa tidak dibawa ke bidan atau dokter? Saya pikir ini cuma kecapekan. Saat saya kurangi aktivitas, flek tidak muncul lagi. Tapi mendadak di pagi hari tanggal 1 Maret bukan flek lagi yang keluar, tapi darah mengucur, persis seperti datang bulan.

Panik, dengan diantar suami, saya pergi ke bidan. Di bidan, saya dites urin lagi. "Positif, Mbak, tapi tipis garisnya," kata Bu Bidan. "Ke dokter saja. Di-USG biar bisa diambil tindakan," lanjutnya.

Yang atas tes sendiri, yang bawah tes di bidan

Saya pun pulang, menyiapkan kendaraan, anak, bawa pembalut cadangan, menyiapkan uang. Setelah sopir datang, saya bersama suami dan anak saya yang nomor dua berangkat ke RS Griya Husada Madiun. Di sana saya bertemu dr. Maya Purwaningtyas, Sp.OG. Di ruang praktik dokter, saya di-USG. Ternyata kantung ketubannya tidak tampak. "Ada dua kemungkinan," kata Dokter Maya. "Bisa jadi kantungnya belum terbentuk karena usia kehamilan masih muda, atau memang sudah keluar." Saya cuma bisa menahan napas berharap yang pertamalah yang terjadi

Halo, Sayang.

Dokter melakukan pemeriksaan dalam. Deg-degan. Berharap dan khawatir jadi satu. Ternyata...jalan lahir sudah pembukaan satu... Tidak ada jalan lain, si calon bayi harus dikeluarkan dari rahim.

Tarik napas dulu. Bersambung ke Keguguran Saat Hamil Muda (Bagian 2), ya.

Comments

  1. aku juga pernah keguguran, calon anak pertama. rasanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih ya mbak. Berapa lama mbak bisa move on dari kesedihannya?

      Delete
  2. Apa flek darah itu artinya keguguran ? Apakah karena capek.. Atau mengkonsumsi apa.. Kalau ibuku gak suka warna kuning, katanya kalau bayi jangan dikasih warna kuning. Trus bukannya belanja kebutuhan bayi setelah 7 bukan ya mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Flek itu tanda-tanda ada yang ga beres mbak. Harus segera konsultasi ke dokter/bidan. Jangan telat kayak saya.

      Hehe...belanja bajunya diajukan (remcananya) karena kalo nunggu tujuh bulan pas diperkirakan lagi repot karena si kakak masuk SD.

      Delete
  3. Aku keguguran dua kali dan harus kuretase sebelum benar-benar diamanahi Si Ifa.. bahkan yang Ifa pun hampir dikuretase juga.. Tiga kali hamil pasti selalu flek-flek dan bleeding... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah berarti tiap hamil kudu waspada ya mbak. Ga boleh capek. Terus pas Ifa itu dikasih hormon mbak?

      Delete
    2. iya mbak... tiap hamil perasaannya campur aduk antara bahagia dan was2... enggak mbak, enggak dikasih hormon, cuma dikasih penguat sama asam folat dosis tinggi

      Delete
  4. hiks sedihnya :'(
    tetap semangat yah Mbak, Allah tahu yang terbaik..

    *bingung mau komment apa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Mestinya ada hikmah yang belum saya pahami mbak.

      Delete
  5. Aku jg pernah keguguran pas hamil pertama di usia 20minggu. Tiba2 ud pembukaan 3, akhirnya di induksinya trus lahiran normal. Rasanya.... Sakit berlipat Ganda :(
    Hamil berikut nya saya bedrest Dr bulan ke 4-lahiran, alhamdulillah lahir selamat.
    Skrg lg Hamil ketiga, alhamdulillah sih masih normal aktivitas tapi emang ga cape2 mbak. Begitu badan ud ngerasa cape dikit langsung stop

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh sedih ya mbak. Memang kita ini cuma dititipi. Kalau sudah begini baru paham artinya hamba. Hanya Dia yang berhak menentukan.

      Delete
  6. Aku dah pernah blighted ovum mb...ending kuret...4 bulan kemudian pisitif dan jadi Alya itu.. Semoga ndang positif lagi..trus rojat punya adek cewek yang rambutnya bisa dikucir kucir yaaa....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah empat bulan ya lis. Cepet juga ya dikasihnya. Aaamiiin. Deg-degan juga setelah ini mau gimana.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.