Skip to main content

Jadi Blogger Tuh Nggak Ada Duitnya

"Jadi blogger tuh nggak ada duitnya." Sebuah komentar yang bikin saya 'mak cleguk'. Duh, kalau pasukan blogger yang sudah eksis ngicipi rupiah dan dollar dari kegiatan ngeblognya pasti bakalan prihatin mendengar ini. Komentar ini tercetus gara-gara berita tentang seorang Henry yang meraup ribuan dollar karena keahliannya membuat aplikasi game dan dijual di playstore.

Ya kalau blogger itu yang dilihat cuma saya, ya jawabannya "betul". Lha wong saya ini cuma jadi General Manager di rumah je. Urusan rumah ya urusan saya. Urusan darimana biayanya, nah itu baru bukan urusan saya...hahaha...

Ngeblog buat saya adalah sebuah upaya keras untuk mensyukuri nikmat dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Sebagai manusia biasa, saya nantinya akan menua. Saya akan mengalami masa penurunan. Itu pasti. Kecuali saya ditakdirkan mati sebelum itu. Yang namanya menua itu tidak enak. Tidak enak kalau kita membuat orang lain repot. Misalnya saya jadi pikun. Nah, supaya nggak pikun ada dua cara, yaitu rajin baca Al-Quran dan menulis. Yang mana yang saya pilih? Keduanya. Baca Al-Quran iya, nulis iya.

Blogger kayak saya biarpun nggak ada uangnya tapi saya nggak menghabiskan uang kok. Lha gimana, bikin blog itu gratis. Ngisinya juga gratis, cuma butuh berpikir dan bisa ngetik. Udah itu aja. Biaya yang dikeluarkan paling-paling ya bayar kuota internet sama listrik saja. Listrik juga cuma untuk ngecharge saja wong saya pakai hape doang ngeblognya. Ngecharge habis berapa kWH coba? Ada yang pernah ngitung? Saya sih belum pernah.

Okelah, saya ngeblog nggak ngabisin duit, tapi ngabisin waktu. Ah, saya mah santai aja. Ada kok orang yang hobi nongkrong di warung kopi berjam-jam juga nggak apa-apa. Masak ngeblog nggak boleh?

Baiklah, acara protesnya cukup. Blogger, termasuk saya (walau nggak ada duitnya), adalah pahlawan. Siapa sih di dunia serba digital ini yang banyak membantu orang? Blogger salah satunya. Mau cari cara menganu sesuatu, cari artikelnya di internet. Mau cari makan di kota anu, tinggal searching doang dah nemu review tempat makan yang oke. Mau cari peluang bisnis, duh...banyak tuh tersedia di internet. Siapa tuh yang menyediakan semua informasi? Blogger, salah satunya. Bukannya sombong atau riya' ya, tapi memang begitulah kenyataannya. *lebay*

Eh, tapi kan ada juga tuh blogger yang suka nulis artikel yang isinya ngawur, melecehkan pihak tertentu, tidak ilmiah, berat sebelah, tidak berimbang? Ya, itu kan masalah orangnya. Saya mah insya Alloh enggak kayak gitu.

Jadi blogger juga mengajarkan seseorang untuk introspeksi terus-menerus. Iya dong. Coba deh perhatikan. Blogger yang menulis ajakan menghindari riba misalnya, sebisa mungkin akan menghindarinya baik dalam tulisan-tulisan selanjutnya ataupun dalam kehidupan nyatanya. Kalau mau nyicipi riba blogger itu pasti akan ingat tulisannya itu dan jadi malu sendiri. "Ih, saya kok jadi anggota tidak tetap NATO, ya. No Action Talk Only."

Meski jadi blogger tuh nggak ada duitnya, saya pribadi berkeyakinan kalau jadi blogger adalah salah satu berkah yang diberikan Alloh. Berbagi kebaikan adalah sedekah. Kullu ma'rufin shodaqoh. Setiap kebaikan adalah sedekah. Walaupun sedikit, jika istiqomah a lias kontinyu, insya Alloh bermanfaat untuk kini dan nanti.

Comments

  1. Betewe, yang koment sopo mb? Samperin yuk...kita ajak tukar posisi sebentar. Biar dia sesaat jd manager rumah tangga....

    ReplyDelete
  2. Blogger emang pekerjaan yang unik sih mbak :) mungkin orang itu belum tau hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blogger itu pekerja mandiri dan kreatif yang bercita-cita luhur ya mbak.

      Delete
  3. aku.. aku.. aku juga blogger tanpa duit alias relawan blogger ato valounter blogger, hehe ngeblog itu asyik kok, seharusnya sih dia itu sih bilangnya bukan blogger gak ada duitnya tapi BELUM ADA DUITnya. Yah cukup menghibur diri lah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum ada duitnya tapi ada mobil, ponsel dan voucher belanja ya mbak.

      Delete
  4. Blogger itu bikin seorang general manager di rmh msh bs berkarya meski tdk kemana2.. tidak nyinyir meski kurang piknik. Dan lebih open minded meski jarang ketemu orang2 di luar.. ya kan.. hidup general manager... hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak nyinyir meski kurang piknik. Sukaaa sama kalimat ini!

      Delete
  5. Blogger itu seneng-seneng saat tulisan.kita dibaca.orang.

    Ya kan, Mba Dwi?
    Hihihii
    Kita kan sama-sama GM rumah tangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. He eh mbak. Apalagi sampe berbalas komen gini.

      Delete
  6. jadi blogger gak ada duitnya? akh belum tahu dia kalau jadi blogger bisa dapat lah uang buat jajan bakso heheh

    ReplyDelete
  7. Dan aku kangen dengan dirimu mbak, hihiii... maaf baru dolan lagi, lama juga tak ketemuan di dunmay.

    Kalo menurutku sih blogger itu asik, bisa pamer foto kekinian, hihiii

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.