Skip to main content

Kue Kolak Bintang Satu

Tumben-tumbenan saya nulis resep. Ahai, ada apa? Salah seorang guru saya di dunia blogging, Pakde Abdul Cholik, akan berulang tahun! Beliau menggelar sebuah mini giveaway yang unik dan menggelitik. Gimana nggak, sudahlah dibuka pas mau lebaran, DL-pun dirahasiakan. :-D Saya jadi mikir bikin ini-itu. Setelah nyoba ini-itu, jadilah ini: Kue Kolak Bintang Satu.
Langsung aja, ya ke resepnya.
Bahan:
250 gr ubi (saya pakai ubi kuning)
50 gr gula merah atau sesuai selera
90 cc air untuk membuat air gula
2 pisang kepok kuning
2 lembar daun pandan
Kayu manis batangan sesuai selera
Garam seujung sendok teh.



Alat:
Kertas roti kukus
Cetakan roti kukus
Panci untuk merebus
Saringan teh
Oven

Cara membuat:
Cuci bersih, kupas dan potong-potong ubi.

Potong kecil-kecil satu buah pisang untuk adonan dan potong melintang satu buah pisang yang lain untuk hiasan.
Rendam sebentar satu lembar daun pandan dalam air mendidih agar lemas, lalu potong-potong bentuk bintang.

Rebus ubi hingga empuk.
Tiriskan lalu haluskan dengan garpu.
Campur potongan kecil-kecil pisang ke adonan ubi.

Masak air dengan satu lembar daun pandan, kayu manis, gula jawa dan garam.
Biarkan mendidih dan gula larut.
Saring lalu campur dengan adonan ubi. Aduk-aduk sampai menjadi pasta.

Siapkan kertas roti kukus beserta cetakannya.
Masukkan adonan ubi ke dalam cetakan.
Hias bagian atas dengan potongan pisang dan daun pandan yang dibentuk bintang.
Siap dipanggang.

Panaskan oven lalu masukkan adonan kue ke dalamnya.
Panggang selama 7-10 menit.
Angkat dan hidangkan.
Hasil akhir. Nggak beda dengan yang belum dipanggang, ya. :-D
Adonan ini sebetulnya sudah matang tanpa dioven, tapi hasilnya basah sekali. Jadi fungsi pemanggangan di sini hanya untuk membuat kue agak kering. Meski demikian, hasil Kue Kolak Bintang Satu ini tetap lembek, jadi cara menyantapnya adalah dengan cara disendoki. Ehehe...
Oya, dalam resep ini saya tidak pakai santan sebagaimana kolak pada umumnya, biar tidak meningkatkan kadar kolesterol dalam darah karena di rumah ada yang perlu dijaga kolesterolnya. :-)
Setelah selesai bikin ini saya baru ingat kalau tadi pagi sebetulnya pak sayur jual nangka. Tapi saya nggak beli. Wah, kalau dikasih nangka kayaknya jos juga, ya.
Oke deh. Barangkali sudah banyak yang bisa membayangkan rasanya, ya? Tapi tak ada salahnya dicoba. Berhubung kokinya sudah 'prof', maka kritik dan saran sangat diterima. Yuk, ah, nyicipin Kue Kolak Bintang Satu!

Resep ini diikutsertakan dalam Mini Giveaway: Sepotong Kue untuk Pakde


Comments

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam GA Mini: Sepotong Kue Untuk Pakde
    Segera dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Ubi itu manis dan sederhana ya mak. Cuma nggak boleh banyak-banyak, bisa ngegas mulu nanti hehe

      Delete
  3. Hi...hi, ho-oh mb....tumben2 an......aku hampir tdk pernah bereksperimen dengan kue....seringnya jadi gatot....gagal total...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha nek mssak gatot malah dadi kue lis? Hihihi

      Delete
  4. Wah.... Resepnya unik, boleh nih dicoba, another level of kolak ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, mbak. Ini alter ego-nya kolak hehe

      Delete
  5. unik banget kuenya, mbak, pake sendok mending di mini toples ya?

    ReplyDelete
  6. Jd seperti kolak kering ya mak.. ?, mgkn ini versi kolak oven ya... inovatif

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.