Skip to main content

Menuai Di Kala Menua

Momentum pulang kampung adalah saat-saat berkesan. Apalagi setelah sekian lama tak pulang. Menelusuri jalanan dan melihat sekeliling, terasa sekali kampung halaman ini tak menua, bahkan terus meremaja. Gedung baru nan gagah bermunculan di mana-mana bersaing dengan jumlah kendaraan yang merayap meniti jalan raya yang tak lagi mudah diseberangi. Kagum, heran, sekaligus khawatir akan menjadi apa kampung halaman ini.

Suasana berbeda benar-benar terasa saat masuk ke rumah bertemu orang tua. Jika kampung halaman meremaja, orang tua saya menua. Rambut mereka putih, bahkan alis mereka pun putih, suara mereka menjadi parau, badan mereka meringkih. Ah, Bapak dan Ibu, sudah sepuh betul panjenengan berdua. Namun sungguh patut disyukuri, ingatan orang tua saya belum menua. Mereka masih bisa berbincang dan berdiskusi aneka hal dengan anak dan cucu mereka walau cara berpikir dan gaya bicara semakin berjarak.

Saya beruntung. Saya bersyukur dikaruniai dua orang tua yang masih sehat di usia senja mereka. Ibu saya berusia 64 tahun, pensiunan guru SMK. Bapak saya hampir 72 tahun, purnawirawan TNI-AU. Ibu saya lincah, suka bergaul, senang memimpin, masih sering bepergian sendiri ke luar kota, masih aktif bersepeda motor sendiri dengan rute dalam kota. Sebaliknya, Bapak seorang yang pendiam, suka di rumah, banyak introspeksi, senang bertanam dan memelihara binatang walau kini tak lagi dijalaninya karena fisiknya yang merapuh. Namun mereka sehat. Sekali lagi, alhamdulillaah mereka sehat.

Orang tua saya mungkin memang bukan lansia tersehat yang pernah ada, namun setidaknya mereka terlihat demikian. Lalu rahasia apa yang membuat mereka tetap sehat di usia senja?


Saya ingat saat Bapak memasuki usia pensiun (55 tahun), Bapak berkata bahwa beliau senang sekali bisa pensiun. Bahkan bisa dikatakan bahwa cita-cita Bapak saya adalah pensiun! Aneh, ya?
Pemikiran 'aneh' ini baru bisa saya pahami ketika saya menyadari bahwa Bapak saya tidak mengalami post-power syndrom tatkala pensiun. Fisik Bapak tidak menurun kecuali 9 tahun kemudian. Bapak terlihat sebagai pensiunan yang berbahagia. Tak ada pikiran untuk kembali mencicipi atau mewariskan 'masa kejayaan' kepada anak-anaknya. Pensiun ya pensiun, begitu prinsip Bapak. Jadi, menerima keadaan adalah salah satu kunci sehatnya Bapak saya hingga usia senja.

Lain ceritanya dengan Ibu. Menjelang pensiun di usia 60 tahun, Ibu sudah merancang kegiatan. Antara lain mengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Prinsip Ibu adalah otak harus selalu dipakai agar tak cepat pikun. Saya setuju.

Sepintas kedua prinsip menghadapi usia senja kedua orang tua saya berseberangan, tetapi sebetulnya tidak, sebab pembawaan mereka sendiri sudah berlainan. Jadi pada intinya supaya tetap bisa bermanfaat saat menua adalah dengan memanfaatkan kelebihan diri dan mengerjakan kegiatan yang disukai.
Saya pun mengambil pelajaran dari prinsip kedua orang tua saya, namun karena saya adalah pribadi yang lain dari kedua tauladan saya tadi, maka saya juga harus punya jurus khusus agar dapat menikmati masa tua, dengan seizin Alloh, dengan nyaman. Apa sajakah itu?

Pertama, mengurangi pemakaian kendaraan bermotor terutama dalam jarak pendek. Kalau mau beli ke warung, misalnya, tak perlu naik motor, cukup jalan kaki saja. Selain hemat, ramah lingkungan, juga sehat. Saya belum bisa menyisihkan waktu untuk berolah raga betulan, jadi ya anggap saja ini olah raga murah meriah.

Kedua, menghafal Al-Quran. Saat ini, mendekati usia 40 tahun, target saya tidak muluk-muluk, nambah hafalan juz 29 dan surat-surat 'populer'. Kalah, ya dengan para hafiz kecil? Tak apa-apa lah, lebih baik terlambat daripada tidak, kan? Menghafal Al-Quran terbukti mampu menguatkan ingatan manusia dan tentu saja menguatkan iman. Tentu saya ingin jadi lansia yang lisannya bermanfaat dan menghasilkan perkataan yang berharga bagai berlian.


Usia memang rahasia Alloh. Tak ada seorang pun yang tahu kapan berakhirnya. Tak ada seorang pun yang tahu cara memperpanjang usia. Yang kita tahu hanyalah cara memanfaatkan usia. Menuai di kala menua. Tentu saja kita berharap diberkahi Alloh dengan usia panjang yang bermanfaat, tidak merepotkan orang lain dan akhirnya husnul khotimah. Semoga harapan ini terkabul. Aaaaamiiiiin.

Comments

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Road to 64 di BlogCamp
    Segera didaftar sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. setuju mak menerima keadaan dan memanfaatkan kelebihan diri dan mengerjakan kegiatan yang disukai, InsyaAllah akan meremajakan otak kita juga memperpanjang usia.

    ReplyDelete
  3. iya mak. kadang yg paling sulit itu adl menerima keadaan. terutama saat fisik sdh tdk bisa selincah dulu.

    ReplyDelete
  4. Menghapal quran itu menyenangkan ya Mak... ;)

    ReplyDelete
  5. buat bekal kalau sedang berhalangan Mak Indah. jd nggak galau sendirian gitu.

    ReplyDelete
  6. Saya juga mencoba menghafal alqur'an, iya, masa kalah sama hafidz kecil yang subhanallah hafalannya.

    ReplyDelete
  7. sip sip. banyak temannya. smga berkah ya mas.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…