Skip to main content

Apesnya Jadi Orang Jogja

Siang-siang saat makan di warung soto saya bertemu tetangga suami yang berprofesi sebagai paes (juru rias pengantin) yang dua minggu lagi akan merias pada pernikahan adik ipar saya.

Obrol sana-sini lalu beliau bertanya dari daerah mana saya berasal. "Jogja", jawab suami saya. Ternyata beliau sering ke Jogja. Katanya, "Paes kalau nggak (berkiblat) ke Jogja dan Solo ke mana lagi?". Lalu beliau pun bercerita tentang tempat-tempat yang sering dikunjunginya di Jogja. Salah satunya adalah Museum Wayang di Jalan Wonosari, dekat rumah saya dulu. Rupanya beliau penggemar wayang kulit. Jelajahannya sampai ke Pucung, Wukirsari, Bantul, dekat Imogiri. *Uhuk, yang mana itu ya? Saya malah belum tahu*

Selesai cerita panjang lebar beliau berkata bahwa adik ipar saya nanti akan pakai paesan gaya Jogja, Kanigaran. *Uhuk lagi* Karena sungguhan tidak tahu saya pun bertanya seperti apa itu. Eh, beliau kaget. Kaget campur heran karena saya yang lahir dan besar di Jogja tidak tahu bab paesan gaya Jogja!

Untuk info saja, kata beliau paesan gaya Jogja ada 4: Putri, Jangan Menir, Kanigaran dan Paes Ageng. Sedangkan gaya Solo ada dua, tapi tidak dirincinya.

Duhai, saya ini memang lahir di Kota Jogja. Sekolah juga di Kota Jogja, tapi sungguh saya tidak tahu dan tidak paham soal paes-memaes. #ProtesModeOn

Ini bukan kejadian pertama saya tertohok jadi orang Jogja. Beberapa tahun lalu juga saya sempat tidak enak hati waktu ngobrol dengan tetangga saat saya tinggal di wilayah Bintaro. Jadi orang rantau harus sabar. Seorang tetangga bercerita kalau ia pernah membawa anak balitanya jalan-jalan ke Jogja. Ke kraton, Candi Prambanan dan lain-lain. Malamnya si anak rewel luar biasa, tidak bisa tidur.

Lalu tetangga saya itu bertanya setengah yakin kepada saya, "Katanya emang pamali ya, Tante, bawa anak kecil ke Prambanan?". Tendesi pertanyaan ini langsung saya endus. Ah, mistis lagi.

Gambar Prambanan dari Wikitravel

Pura-pura serius, saya pun menjawab, "Ooo...lha itu, Bu." Yang diajak bicara makin bersemangat. "Kenapa, Tan?" Setengah sedih saya menjawab, "Ya nggak boleh dong, Bu. Anaknya kan jadi kecapekan". Logis. Titis. Sip!

Ada juga cap stereotipe terhadap orang Jogja yang, kok ya, masih saja ada. Ceritanya, adik laki-laki saya dapat istri orang Sukabumi. Kata si istri, waktu mau nikah dengan adik saya, dia dinasihati macam-macam oleh ibunya. Kata ibunya, "Siap-siap nanti kamu bisa-bisa disuruh jalan jongkok di hadapan ibu mertuamu". *Uhuk* Entah ini guyonan atau sungguhan.

#

Sambil urut dada saya cuma bisa menuliskan ini. Tidak segitunya ya orang Jogja. Orang Jogja itu pikirannya modern kok. Kalaupun ada berita tentang hal-hal berbau klenik dan sebagainya itu hanya sebagian saja. Yah media kan juga ingin dapat perhatian. Perkara tidak mistis pun bisa saja disrempet-srempetkan ke sana. Orang Jogja itu sudah sibuk sendiri kok dengan kehidupan dan penghidupannya.

Memang yang saya rasakan, lebih lagi saat saya jadi orang luar Jogja, orang Jogja itu bangga dan cinta dengan identitasnya. Bangga dengan 'keistimewaan' mereka. Itu saja. Selebihnya ya sama saja dengan yang lain. Ingin hidup layak dan enak, ingin anak-anaknya dapat pendidikan terbaik, ingin harga sembako murah, ingin akses internet lancar dan seterusnya.

Jogja is timewa, tapi bukan berarti berbeda.

Comments

  1. hahaha...itu ndagel atau gimana sih g boeh bawa anak kecil ke prambanan,nnti capek,hiyyyaaaa....hahahaha
    duh,apapun itu saya cinta jogjah,kangen sarapan nasi pecel di pasar bringharjo, paris, subuh2 didatengin becak bakpia yg masih anget,ngabisin dut ke mirota, ah pokoknya love jogja deh..kepingin juga punya rumah di jogja hehehe

    ReplyDelete
  2. ayo mbak beli rumah di jogja. tapi skrg jogja jd rame bgt, di mn2 ditanami gedung, jd panas n macet. kl mau nyaman ya cari yg di desa.

    ReplyDelete
  3. Diajeng jangan-jangan juga tidak tahu di mana kampus AAU? Uhuk...
    Saya bolak-balik ke Jogya lho
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. kl AAU tau dong Pakde. bapak saya ngajar di sana dulu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…