Skip to main content

Jodoh

Bulan Maret sudah berumur belasan, namun postingan saya baru dua buah. Ke mana saja saya, ya? Ke Amerika? Oh, belum. Sebetulnya saya tidak ke mana-mana, hanya saja saya gagal terus dalam menangkap ide untuk diwujudkan dalam bentuk tulisan. Ditambah lagi ada beberapa kejadian di awal Maret yang menyita perhatian saya, di antaranya rencana pernikahan adik ipar saya, dan seorang bibi saya.

Yang menarik dari soal berjodoh ini adalah prosesnya. Saya yakin setiap pasangan yang kemudian berjodoh memiliki kisah unik tersendiri.

Gambar dari nowilkirin

Teman Masa Kecil

Adik ipar saya ini akan menjadi yang terakhir menikah di keluarga suami saya. Seluruh kakaknya yang berjumlah sembilan orang telah menikah, demikian juga adik semata wayangnya. Benar, adik saya itu adalah anak ke-10 dari 11 bersaudara. Keluarga yang besar, bukan?

Pernikahan adik ipar saya itu menjadi istimewa, sebab bukan hanya karena ia akan menjadi yang terakhir menikah, namun juga karena usianya yang sudah 35+. Saudara-saudaranya sangat berbahagia sebab akhirnya ia bertemu seseorang yang insya Alloh menjadi jodohnya di kala kedua orang tua sudah tiada. Ia akan menjadi anak kedua yang menikah tanpa kehadiran orang tuanya, setelah sebelumnya suami saya yang mengalaminya. Ya, saya memang 'tak sempat punya mertua'. Demikian pula nanti suami adik ipar saya itu.

Kira-kira satu bulan yang lalu ia tak menyangka akan berjodoh dengan tetangganya sendiri saat diminta pulang ke Madiun dari Jakarta. Maksud kepulangannya adalah untuk peringatan satu tahun wafatnya kakak kami yang nomor empat. Ketika itu mas nomor tiga meneleponnya dan berkata, "Pulanglah. Nyekar ke makam orang tua dan Masmu. Nanti kamu akan ketemu jodohmu".

Saat itu mas nomor tiga itu tak berpikir apa-apa. Ternyata Alloh menggerakkan hati hamba-Nya. Seminggu berada di Madiun, tiba-tiba saat acara peringatan satu tahun wafatnya mas nomor empat, seorang kawan lama suami saya datang dan bermaksud memperistri adik ipar saya itu. Siapa yang menyangka? Seorang tetangga, kawan kecil masa SD datang hendak melamar? Subhanalloh...

Setelah menimbang-nimbang dan mohon petunjuk Alloh, akhirnya adik saya bersedia diperistri. Seminggu kemudian acara lamaran pun dilaksanakan. Kemudian tanggal pernikahan pun ditentukan, insya Alloh akan dilaksanakan di bulan Agustus. Alhamdulillaah. Semoga Alloh kabulkan dan mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Jodoh untuk Janda

Seorang bibi saya, yaitu adik ipar ibu saya, juga akan menikah. Bahkan pelaksanaannya insya Alloh di bulan Maret ini. Bibi saya itu adalah istri dari adik termuda ibu saya. Beliau telah menjanda selama hampir enam tahun semenjak suaminya meninggal dunia. Paman saya itu meninggal dunia karena kecelakaan tunggal di suatu hari di bulan Romadhon. Memang sudah takdir Alloh, paman saya itu menabrak pinggiran jalan saat sedang berkendara dengan sepeda motor. Terluka, dibawa ke rumah sakit lalu tak lama kemudian meninggal dunia. Kenangan terakhir saya dengan paman saya itu adalah saat pernikahan saya. Itu adalah saat terakhir saya berjumpa beliau dan saat terakhir pula beliau berfoto dengan keluarga besar. Paman saya meninggalkan seorang istri dan satu anak lelaki yang kini diasuh ibu saya.

Bibi saya, usai paman meninggal, sempat hidup berdua dengan anaknya. Namun kemudian pulang kepada keluarganya. Lalu bibi saya itu berpindah-pindah kerja dari rumah ke rumah. Beliau memang terbiasa membantu di rumah orang lain. Pernah juga bekerja di jasa laundry dan rumah makan. Tak banyak hasilnya, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bibi saya ini meski sederhana namun masih cantik. Beberapa kali dikenalkan dengan laki-laki nanun tidak cocok. Beberapa di antara mereka malah hanya mengincar harta. Memang paman saya mewariskan sebuah rumah yang kini disewakan dan diatasnamakan anaknya. Tak banyak nilainya, tetapi aset bagi masa depan sang anak.

Secara mengejutkan, tiba-tiba awal bulan ini bibi saya datang ke rumah ibu saya. 'Pamit' akan menikah dengan seorang duda yang menjadi perangkat desa. Sang duda telah mengentaskan anak-anaknya dan telah menunaikan rukun Islam kelima, haji. Semoga benar-benar berjodoh dan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah.

Itulah kisah soal jodoh yang menyita perhatian saya. Semoga keduaa pasang insan ini benar-benar menempuh jalan perjodohan mereka dengan ikhlas. Semoga Alloh menjaga mereka senantiasa. Aaaaamiiiiin, aaaaamiiiiin, aaaaamiiiiin.

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…