Cerdas Dan Bijak Bermedia Sosial, Hindari Membesarkan Kabar Tak Pantas

Tahun media sosial tampaknya menjadi nama lain dari tahun-tahun terakhir ini. Pengguna dan penggunaan media sosial makin meningkat dengan beragam platform yang masing-masing memiliki penggemar tersendiri. Riuh-rendah media sosial menjadi daya tarik kuat selepas masa euforia kebebasan berpendapat. Kini euforia baru melanda: kebebasan bermedia sosial.

Sebetulnya disebut kebebasan bermedia sosial tidak juga 100% bebas. Namun euforia bebas di sini karena mudahnya mengakses media sosial. Tua-muda semua ambil bagian. Tidak heran jika kemudian terjadi gesekan di sana-sini akibat kebebasan bermedia sosial ini. Saling pamer, saling hujat, saling serang sudah jadi bahan perbincangan sehari-hari yang bahkan merambah ke warung-warung kopi dan pojok-pojok ruang pribadi di rumah. Seolah belum puas berfriksi di media sosial, bahasan panas pun dibawa ke kehidupan sosial.

hoax

Diobrolin Sampai Ke Dapur
Gambar dari Pixabay.com

Saya tidak heran jika ada 'pemain baru' di media sosial yang menampakkan hasrat berlebihannya, karena saya dulu juga pernah jadi 'anak baru' yang sering heboh dan histeris sendiri di media sosial. Saya pernah menjadi pribadi yang mudah terkesima dengan kabar-kabar bombastis nan fantastis. Pernah. Namun seiring berjalannya waktu, ada perubahan yang terjadi.

Baca juga: Menjaga Reputasi

Tahun 2017 dalam pandangan saya akan menjadi salah satu tahun panas di republik ini. Pelaksanaan pilkada serentak saya pikir akan menjadi pemicunya. Isu, gosip, rumor atau apapun namanya itu akan bergentayangan berbaur dengan kabar-kabar nyata. Kabar kabur yang blawur menjadi masyhur. Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan jadi tak jelas. Apa yang sebaiknya warga dunia maya lakukan?

Tahan Diri Untuk Klik 'Share'

Berita baru di satu platform bisa jadi merupakan berita lama di platform lain. Tahan diri untuk klik 'share'. Siapa tahu berita itu merupakan kabar bohong yang sudah pernah beredar atau didaur ulang. Cek lebih dulu kebenarannya. Bisa dengan memperhatikan judulnya, penulisnya, nara sumbernya dan cara penulisannya. Bisa juga dengan memperhatikan data yang dipakai. Jangan-jangan data tentang tindakan kriminal berasal dari satu dekade lalu, misalnya. Untuk lebih detil, sila dicari di internet tentang cara mengetahui kabar hoax, ya.

hoax

Stop! Tahan Diri Dulu!
Gambar dari Pexels.com

Tahan jempol juga ketika membaca berita yang kita sukai tapi berpotensi membuat kekacauan. Misal kita mendukung pasangan A dalam pilkada. Lalu kita share postingan tentang pasangan favorit kita itu yang ditulis menggunakan bahasa selangit. Ini bisa memancing komentar 'aduhai' dari pihak lain yang buntutnya menimbulkan kegaduhan. Boleh saja share tapi hati-hati, pakai intuisi dan jangan spamming.

Baca juga: Anjuran Untuk Tidak Selfie Di Medsos

Ada lagi jenis postingan yang sebaiknya tidak kita share, yaitu yang berbau ancaman semacam, "Yang tidak mengaminkan bisa dapat musibah", padahal tak ada dalil yang mendukung terbuktinya ancaman tersebut. Musibah dan rezeki sejatinya hanya dapat terjadi atas kehendak Alloh, bukan kehendak manusia.

Tahan Diri untuk Berkomentar Pada Postingan atau Komentar Berbahasa Tak Santun

Sering saya ketemu komentar atau postingan status dengan bahasa yang, masya Alloh, kasar. Tidak laki-laki, tidak perempuan, sama saja. Anehnya, komentar atau postingan semacam ini malah laris dikomentari orang. Dan biasanya terjadi perang di dalamnya. Mungkin Perang Dunia III bukan terjadi di dunia nyata, tapi di dunia maya. Hehe...

Saran saya kalau ketemu komentar atau postingan yang bikin geram, jangan diladeni. Makin sengit perang komentar, makin top si empunya postingan. Mana tahu kan dia memang sengaja memancing emosi? Kembali lagi pada siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan to?

Nah, kalau di facebook itu ada yang namanya fasilitas 'laporkan'. Saya kira langkah paling baik untuk kasus semacam ini adalah dengan melaporkannya. Perkara dianggap pantas atau tidak oleh pihak facebook, setidaknya kita tidak menambah popularitas postingan atau komentar yang tak pantas itu. Kita juga terhindar dari stres gara-gara terlibat perang. Sudahlah, hidup jangan disia-siakan di media sosial!

Tahan Menyebar, Mengomentari atau Membalas Meme Yang Menyinggung Perasaan

Yang namanya meme, maunya dipakai untuk ajang kritik dan introspeksi kan? Jadi, pergunakan secara bijak keinginan untuk bermeme. Meme yang menyinggung pihak lain, meme yang memicu perdebatan; tinggalkan saja. Tak usahlah kita bersusah-susah mengomentari atau menyebarkannya meski dengan maksud meng-counter meme itu. Lagi-lagi, untuk apa melibatkan diri dalam kemelut di media sosial. Toh belum tentu orang yang berani berkoar-koar di media sosial berani blak-blakan juga di dunia nyata.

Ini berlaku juga untuk postingan foto yang tak pantas, ya, seperti foto korban kriminalitas, terlebih foto tak senonoh.

Sebel? Kesal? Ya, nggak apa lah sedikit dan sesaat daripada kita melambungkan meme atau foto aneh-aneh itu. Siapa yang untung? Siapa yang rugi?

hoax

Timbang Untung-Ruginya
Gambar dari Pixabay.com

#

Akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Bisakah menahan diri? Diusahakan bisa, ya, sebab kalau tak bisa mengendalikan diri dan lepas kontrol, kita bisa terjerat UU ITE lho. Ingat, bukan cuma pembuat kabar bohong yang bisa kesandung UU ITE, yang ikut nge-share juga bisa lho. Nggak mau kan menyusahkan diri sendiri gara-gara diperhamba media sosial?

Di media sosial, tidak berkomentar bukan berarti tak berilmu. Bisa jadi karena keyakinannya sudah mantap maka tak membutuhkan debat. Di media sosial, siapa yang pertama kali share tidak selalu yang ter-update. Bisa jadi yang tidak men-share karena ingin menghindari keburukan.

Yuk, cerdas dan bijak bermedia sosial!

Comments

  1. Itulah kenapa aku nggak pernah asal share. Paling postinganku sendiri. :p Takutnya kena berita ndak benar. :'D

    ReplyDelete
  2. Sebal kalau da orang ngeshare berita yang padahal dia sendiri nggak suka berita itu. :'D

    ReplyDelete
  3. Aku malah masih bingung cara agar medsos terhindar dari berita2 gitu. :'D

    ReplyDelete
  4. Yang baru pakai WA dan seneng2nya punya grup biasanya smgt bgt share2 berita yg didapet, dan mempercayai berita2 yg didapet,

    ReplyDelete
  5. Saya suka unfollow aja deh, Mbak, kalau nemu akun2 suka tebar2 hal2 yang bikin gerah. Hehehe...

    ReplyDelete
  6. Aku klo share-an yang panjanggggg...itu malah banyak nggak tak baca. Ato bacanya kilat..judul, tengah, akhiršŸ˜€Biasanya endingnya Mukidi..ato suruh meng amini..

    ReplyDelete
  7. Bahkan sekarang udah mulai diberlakukan hukuman bagi orang-orang yang share berita hoax yaa, Mak. Memang harusnya begitu, tapi, sempat takut juga. Karena orang-orang terdekat saya masih belum Smart dengan Smartphone mereka :(.

    Jadi suka takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Nauzubillah

    ReplyDelete
  8. Ngga pernah terprovokasi dgn berita di sosmed, meski yg menyampaikan teman sendiri.. Bukan apa2 menurut aku sosmed ada porsinya masing-masing, tapi salah satunya bukan ajang utk menjatuhkan :D sudah saatnya para pemilik akun sosmed lbh pintar dan selektif dlm menyebarkan sesuatu :D

    ReplyDelete
  9. Saya paling male kl ada orang share sesuatu tp ngk dibaca dulu. Captionnya udh panas ehhh isinya ngk sesuai

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts