Menjaga Reputasi

"Kamu itu termasuk mahasiswa yang nggak pernah ngomongin dosen."

Apa? Siapa? Saya?

Komentar seorang teman kuliah saya dulu itu terdengar seperti kisah fiksi ilmiah bagi saya. Tampak terpercaya tapi belum tentu benar. Masak sih saya dikenal sebagai mahasiswa yang tidak pernah ngomongin (jelek tentang) dosen?

Mungkin karena teman saya itu bukan teman terdekat saya. Bisa jadi penilaiannya berdasar hal yang kasat mata baginya atau yang saya tampakkan. Tapi kaget juga saya. Citra mahasiswa baik itu melekat kepada saya selama setidaknya dua puluh tahun terakhir ini. W.O.W.

Bukannya saya ini sering ngomongin dosen, cuma saja penilaian sempurna dari teman saya itu membuka mata saya. Ya tentu saya pernah malas, tidak serius dan lain-lain. Namun ternyata perilaku tidak baik itu tertutupi oleh citra saya yang lain: mahasiswa baik.

Banyak hal di dunia ini yang membuat kita merasa butuh adanya opini kedua. Tapi dalam hal ini saya kira saya tidak perlu opini lain. Biarlah sesekali saya menikmati citra super positif ini. Hehehe... Manusiawi kan?

reputasi baik

Di kesempatan lain saya kembali terkejut ketika curhat kepada kakak-adik saya perihal anak-anak. Sepele sih masalahnya. Anak-anak tidak segera pulang seusai sholat maghrib berjamaah di masjid sekolah. Tidak biasanya mereka berbuat begitu. Sampai saya terpaksa menjemput mereka yang ternyata sedang bermain di lingkungan sekolah. Selarut itu bermain di sana? Tentu saya kesal. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada anak-anak kelas 1 dan 2 SD itu?

Lalu sesampainya di rumah saya membuang uneg-uneg saya kepada kedua saudara saya via WhatsApp. Apa reaksi mereka?

"Tumben," kata adik saya.
"Bisa marah juga to ternyata," kata kakak saya.

What???

Jadi mereka berpandangan kalau saya ini super sabar menghadapi duo krucil saya yang memang aktif sekali itu? Weleh...saya tidak percaya saudara saya berpendapat begitu. Saya tidak super sabar seperti itu lah. Tentu saya pernah marah, sering malah. Mengomeli anak-anak, pasang muka galak di hadapan mereka. Pernah. Sering. Tapi perilaku saya yang itu tidak terdeteksi oleh kedua saudara saya yang jauh di kampung halaman sana. Hmm...ini harus bersyukur atau istighfar, ya?

Reputasi itu sejatinya bisa dibangun. Menurut Mak Indah Juli, membangun reputasi itu harus dimulai dari nol.

Dalam Membangun Reputasi | Building a Reputation memang harus dimulai dari angka 0. Dan banyak cara positif untuk meningkatkan reputasi kita. ~ Indah Juli

Reputasi yang kita bangun bisa menjadi semacam garis pemandu bagi aktivitas kita. Ketika kita ingin dikenal sebagai orang bijaksana, maka bijaksana itulah tujuan kita.

Yang tidak kalah penting dalam membangun reputasi adalah menjaganya. Wah, berarti riya' dong? Tidak juga. Riya' muncul ketika kita ingin mendapat pujian dari selain Dia. Menjaga reputasi berarti berhati-hati dalam berucap, bertindak dan bereaksi. Jaim (jaga image) ? Ya, dalam konotasi yang positif.

Menjaga Reputasi Di Dunia Maya

Dalam media sosial, profil yang kita tampilkan menentukan kesan pertama. Saya pribadi jika akan mencari teman baru atau menerima pertemanan senantiasa memperhatikan profil calon teman itu.

  • Namanya.
    Nama asli atau nama pena yang positif, tidak lebay, tidak alay. Jadi lebih baik pakai nama dengan ejaan yang sesuai kebiasaan. Misalnya: Safira bolehlah punya nama beken Zhazha Fira. Asal jangan Zhaviera Mencari Chinta.
  • Biodata
    Secara ringkas kita bisa menampilkan diri kita di biodata. Tampilkan yang positif. Misalnya: penyuka warna biru, suka jalan-jalan. Jangan begini: selalu sendiri, tak peduli kata orang. Wah, siapa yang mau berteman sama orang seperti itu?
  • Aktivitas
    Tulis yang baik, gunakan kalimat yang cenderung netral tapi jelas arahnya. Hindari tulisan, share link, berkomentar, posting gambar yang menyentuh area SARA dan pornografi serta terorisme. Jangan, ya. Risikonya terlalu besar. Kita hidup tidak hanya di dunia maya, (mungkin) tidak hanya hari ini dan tidak sendirian. Ada orang tua, kakak-adik, anak-cucu bahkan tetangga yang bisa kena imbas perilaku kita di media sosial.

Menjaga Reputasi Dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Taat Aturan
    Di mana saja kita berada, berusahalah untuk taat pada aturan. Di jalan raya, di fasilitas umum, di pertokoan, di tempat ibadah, dan sebagainya.
  • Sopan dan Santun
    Berperilaku sopan dan santun tidak pernah menbawa kerugian. Sopan dan santun bukan berarti harus selalu berjalan menunduk-nunduk lho, ya. Berbicara dengan bahasa yang netral, dengan suara sedang dan tidak mendominasi percakapan termasuk sopan dalam berbicara. Sedangkan berbicara dengan santun itu ketika kita memilih menggunakan kata yang netral, tidak mengumpat. Berperilaku sopan dan santun misalnya ketika kita membatasi diri dalam bercanda, meminta izin saat akan masuk rumah orang lain.
  • Menepati Janji
    Usahakan selalu menepati janji yang kita ucapkan. Termasuk janji kita ke tukang sayur untuk membayar kekurangan pas belanja. Janganlah sampai karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sayang, kan?

Nah, itu tadi tentang menjaga reputasi. Sulit? Ya dan tidak. Sulit karena kita harus istiqomah menjaganya. Tidak sulit karena kitalah yang menentukan targetnya. Bagaimana, sudah siap menjaga reputasi?

Tulisan ini adalah hasil collaborative blogging dengan tema: Reputasi.
Simak tulisan Indah Juli:
Membangun Reputasi
dan Ade Delina Putri:
Kebaikan dan Ekspetasi

Comments

  1. Semasa sekolah aku dikenal sbg anak yg cukup 'bersinar' reputasi baik, sampai akhirnya ada masalah dg guru krn cuma aku yg berani speak up tentang suatu kasus. Eh, krn reputasi baik itu, satu sekolah membelaku hahahha *tutupan gorden *padahal akunya yang mgkn terkesan gak sopan saking kesalnya :')

    ReplyDelete
  2. Mb Winda: wah...haha...ini berkah karena reputasi baik ya, Nbak. Ga ada ruginya memang punya reputasi baik.

    ReplyDelete
  3. Reputasiku pas SMA buruk, Mbak. Huahahah. Bandel banget. Tapi pas kelas 2 en 3 nya berubah. Guru guru pada kaget. Dikira kesambet kali yak. Wkwkwk :p

    ReplyDelete
  4. Lha..kok damar dan rojat sekolah smpe maghrib?

    Iyo mb, kadang klo reputasinya udah nggak baik...jadi susah percaya. Mau dia bnran berubah ato nggak. Eh..aku suka warna biru dan suka jalan2😀

    ReplyDelete
  5. Beby: itu insyaf, Beeb..bukan kesambet..

    Sulis: oh, ga. karena masjid sekolah cuma 3 menit dari rumah, jadi anak-anak kalau maghriban ke sana.

    ReplyDelete
  6. Jadi inget dulu bff saya bilang, "pinter itu nggak penting, yg penting keliatan pinter". Citra itu penting. ��

    ReplyDelete
  7. Menjaga reputasi itu kayak pegang kaca, ya. Sekali retak, selamanya susah untuk bisa bagus lagi. Makasih tipsnya, mak. :)

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah sejak kecil almarhum Bapak senantiasa menanamkan agar kami senantiasa menjaga nama baik keluarga. Menjaga reputasi bukanlah hal yang mudah namun tanpa reputasi yang baik maka jangan harap kamu akan berhasil dalam hidup. Satu lagi, di manapun dan kapan pun ada Allah yang selalu melihat kita. Hikz, malah jadi ingat Bapak.

    ReplyDelete
  9. Iyah, betul bgt mba, tp ini jg susah2 gampang, suka di luar kendali jg sih, reputasi di dunia kerja jd penting sekali padahal

    ReplyDelete
  10. Iyah, betul bgt mba, tp ini jg susah2 gampang, suka di luar kendali jg sih, reputasi di dunia kerja jd penting sekali padahal

    ReplyDelete
  11. waah keren nih. Eh aku sendiri ga tau reputasiku seperti apa. Cuma paling males yg debat2 aja sih kalu di dumay

    ReplyDelete
  12. menjaga reputasi itu penting apalgi kalo udah ga dipercaya orang ya akan selamanya menadi orang yang tidak bisa dipercaya

    ReplyDelete
  13. Saya belum begitu paham, saya dikenal seperti apa pada banyak orang :D. Tapi, yang jelas, saya kalau sudah bilang TIDAK ya tidak, dan mungkin ini menjadi benalu juga bagi saya. Apalagi kalau saya sudah kurang suka dengan sikap seseorang, alhasil saya tinggalkan, dengan basa basi sih biar ndak ada perang. Tapi, itulah saya, mungkin bagi orang saya kurang bisa beradaptasi, hehe.

    Semoga saja kita meninggalkan reputasi yang baik selama hidup, insya allah aamiin

    ReplyDelete
  14. waah mahasiswa baik-baik ya mbak, nggak pernah ngomongin dosen. Membangun reputasi itu ternyata penting ya mbak. Makasih sharingnya mbak ;)

    ReplyDelete
  15. Ah mbak, saya jadi ingat kejadian kemarin nggak sengaja ngeshare berita SARA dan saya baru nyadar setelah beberapa jam dan setelah banyak yang tengkar gara-gara tulisan yang saya share, sedih juga kapok. Mulai sekarang harus lebih berhati-hati lagi kalau mau share sesuatu di media sosial. :(

    ReplyDelete
  16. Tetap santun meski berbeda pendapat, termasuk hal yang perlu diupayakan ya, Mbak :)

    ReplyDelete
  17. Wah luar biasa ya.. gak ngomongin dosen meski berbeda argumen, mngkn hikmahnya juga gak ghibahin orang lain juga..

    ReplyDelete
  18. Salut, Mbak. :) Tapi memang membangun reputasi agak2 susah. Kadang kita sudah bersikap baik, tapi tetap saja ada orang yang diam-diam mau menjatuhkan.

    ReplyDelete
  19. aku jadi langsung instrospeksi diri, makasih Mbak, sudah diingatkan

    ReplyDelete
  20. Kalau aku lebih ke jadi diri sendiri. Nggak dibuat2. Kalau jaim positif emang perlu sih kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lagian kalau nggak Jadi diri sendiri malah nggak nyaman.

    ReplyDelete
  21. Kalau aku lebih ke jadi diri sendiri. Nggak dibuat2. Kalau jaim positif emang perlu sih kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lagian kalau nggak Jadi diri sendiri malah nggak nyaman.

    ReplyDelete
  22. Reputasi? Saya dikenal rame anaknya, hanya karena gak suka ada momen canggung aja sih. :D

    ReplyDelete
  23. Menjaga reputasi memang susah susah gampang ya mba. Apalagi jika banyak rambu-rambu yang harus kita jaga. Yang penting selalu jadi diri sendiri..

    ReplyDelete
  24. haha, bersyukur loh mak dapet reputasi positif dari sodara2 dan temen kuliah :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts