Anak-anak Bapak

Kami bertiga adalah anak-anak Bapak. Kakak perempuan saya, saya dan adik laki-laki saya. Waktu kecil kami menamai diri kami 3D: Dewi, Diah, Didik.

Top three is 3D

Masa kecil kami nikmati di perumahan tentara, yakni di Kompleks AURI Lanud Adisutjipto Yogyakarta. Rumah dinas yang kami tempati ada di ujung Timur kompleks, berpagar persawahan, tepatnya di Blok K. Kalau teman-teman berkesempatan berkunjung ke Museum TNI-AU Dirgantara Mandala, teman-teman bisa berjalan ke arah Selatan. Tidak sampai lima menit sudah bertemu barisan perumahan. Di situlah rumah kami dulu, baris Selatan, nomor dua dari Timur. Dari rumah penuh kenangan itu kami bisa melihat pesawat landing dan take-off diiringi suara gemuruh yang mengharuskan kami berhenti ngobrol sesaat.

Sebagian anak tentara punya pengalaman pindah-pindah kota karena mengikuti orang tua mereka yang ditugaskan negara. Tapi kami tidak. Bapak adalah tentara yang mengajar di Akademi Angkatan Udara (AAU), jadi kami selalu tinggal di Yogyakarta. Biasanya tetangga-tetangga kamilah yang pindah-pindah.

Sebagai anak-anak Bapak, kami sangat bangga. Tentu saja, anak mana sih yang nggak bangga kepada ayahya? Apalagi anak perempuan, biasanya sangat bangga dan sayang kepada ayahnya.

Sebagai anak-anak Bapak, kami selalu 'kehilangan' Bapak saat Bapak piket jaga di malam hari atau saat Bapak dan Ibu ikut acara pesta di AAU di malam hari. Kalau ada acara seperti itu biasanya tante-tante kami (adik-adik Ibu) bergantian menjaga kami semalaman.

Sebagai anak-anak Bapak, kami suka membantu Bapak menyemir sepatu tiap pagi atau menggosok kancing kuningan di seragam Bapak dengan Brasso. Kami juga senang main peleset-pelesetan di lantai pakai kaos kaki hitam Bapak yang panjangnya mencapai lutut kami.

Ada satu kejadian lucu saat Bapak pergi dinas ke luar kota beberapa hari. Saya dan adik saya sudah begitu kangen. Selepas maghrib tiba-tiba terdengar derap sepatu Bapak di teras rumah. Saya dan adik saya pun berhamburan membuka pintu depan.
"Bapak kondur! Bapak kondur!" Bapak pulang!
Tapi ternyata bukan Bapak yang kami temui di teras melainkan kakak perempuan saya yang pakai sepatu botnya Bapak sedang sibuk menahan tawa. Hahaha... Ternyata saya dan adik saya dikerjain sama kakak dan Ibu. Di dalam rumah pun Ibu tertawa sampai berguling-guling. Oh...ya ampyuun...

Sekarang Bapak sudah menjalani masa pensiun selama 18 tahun. Bapak sudah sepuh dan lemah badannya. Tapi kami, 3D, tetap anak-anak Bapak sampai kapanpun.

"Tulisan ini Diikutsertakan Dalam Pena Cinta First Giveaway"

Comments

  1. hahahahaha...dikerjain ternyata hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya je, Mbak. Sampe pd sakit perut itu ketawanya.

      Delete
  2. Wehehehe dikiranya si bapak yang pulang, gak taunya malah dikerjain si kakak :D

    Semoga tetap sehat ya si Bapak dan keluarga :)

    ReplyDelete
  3. tampaknya foto jadul seperti jadi pengingat momen manis ya mbaa... bahagia banget lihat senyum manis ketika keluarga besar, kerabat dan sodara berkumpul. Salam hormat untuk keluarga dan bapak , semoga diberi kesehatan dan kebahagian terus :)
    Sukses untuk kontes GAnya ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Satu foto berjuta cerita deh. :-)

      Delete
  4. hihihihi masih punya kenangan foto lama ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Karena medsos juga foto2 lama bisa disimpan dan diambil kpn saja.

      Delete
  5. Foto kecilmu yang mana mbak....? Yang pink....?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang kuning, Lis. Yg pink mbak Wik.

      Delete
  6. Cerita masa kecil yang manis ya mba, keluarga AU juga ya.

    Terima kasih sudah ikutan mba

    ReplyDelete
  7. kalau diinget-inget begitu indah masa kecil kita, hihi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts