Jalan-jalan Tak Terencana Yang Harus Direncanakan


Hari libur adalah hari jalan-jalan. Tidak peduli jalan ke mana, yang penting ke luar rumah. Dolan ke rumah saudara pun dianggap jalan-jalan. Beli bakso di dekat sawah di desa sebelah ya disebut jalan-jalan.
Jalan-jalan pun lebih seringnya dengan naik kendaraan. Kalau jalan kaki malah seringnya tidak bisa lama dan tidak jauh.
Kalau sedang bosan dan butuh yang segar-segar, biasanya saya, suami dan anak-anak ngacir ke kaki Gunung Wilis
naik sepeda motor. Turut sawah, turut ndesa. Muterin sawah, keliling desa. Naik gunung sampai motornya nggak kuat lagi atau pantat capek, baru deh puter balik lalu turun. Kadang juga mencoba jalur baru. Kalau lihat ada jalan yang bisa dilintasi motor, langsung diskusi, "Lewat sana, gimana?" Biasanya, sih, dilakoni.
Inilah para petualang bermotor.
Meski jalan-jalannya super sederhana, tapi ada yang wajib dibawa selain dompet seisinya, yaitu: minyak penghangat (kayu putih, telon atau tawon), baju ganti anak-anak dan tas plastik.
Minyak penghangat jelas diperlukan kalau naik motor. Perut kembung atau gigitan serangga bisa diatasi dengan itu.
Baju ganti, ya namanya juga bocah. Kadang jalan-jalannya berakhir dengan terjun ke kali atau bermain di pematang sawah atau melintasi jalanan berlumpur yang mengakibatkan baju kotor. Atau bisa juga baju kotor kena cipratan kuah atau tumpahan susu kotak. Baju ganti ini penting banget. Kalau tidak bawa, tidak berani jalan jauh-jauh.

Tas plastik jadi barang bawaan penting juga karena fungsinya berhubungan dengan bawaan penting nomor dua. Yap. Tas ini gunanya untuk membungkus baju kotor.
#
Lupa bawa barang penting bisa jadi masalah. Seperti di hari Minggu kemarin (15/2), lagi-lagi kami naik gunung. Tujuan awalnya, sih, hanya ingin naik ke Desa Segulung, Kecamatan Dagangan yang cuma dua puluh menitan dari rumah. Dari perempatan Pintu (nama tempatnya memang 'Pintu'), ke Timur. Terus naik sampai hutan jati. Tapi, namanya juga jalan-jalan impromptu, dari perempatan Pintu kami ke Utara, lewat Desa Jetis, lalu berbelok ke Desa Prambon, lewat Mruwak, melewati persawahan yang indah, terus sampai Pasar Dungus. Akhirnya kami berbelok ke arah Wana Wisata Grape, tempat jujugan favorit. Tapi, lagi-lagi, bukannya berhenti di Grape, kami terus naik sampai Pedukuhan Golang, tempat PLTA Golang. PLTA Golang ini, berdua dengan PLTA Giringan masuk sebagai pembangkit listrik Jawa-Bali.
Dari PLTA Golang, kami masih naik lagi sampai PLTA Giringan. Inginnya sih meneruskan perjalanan sampai Ngebel, Ponorogo, tapi sudahlah, lain kali saja. Motor sudah panas dan si kecil minta istirahat.
Lain kali ingin ke sana lagi menelusuri godaan lain: Telaga Ngebel di Ponorogo dan Air Terjun Denu di Kecamatan Kare, Madiun.
#
Kami turun beristirahat di Grape. Niatnya mau cari minuman hangat plus gorengan. Alhamdulillaah dapat. Tapi, tak disangka-sangka, si sulung sakit perut dan terpaksa buang air di toilet di sana. Sayangnya, gara-gara itu celananya jadi basah. Duh, nggak bawa bawaan penting...bingunglah kami. Terpaksa si sulung pakai celana setengah basah. Untuk meringankan resiko masuk angin, saya minta minyak kayu putih ke penjual gorengan. Minta? Iya. Lagi-lagi karena tidak bawa bawaan penting, sih! :-(
Eh, tapi jadi terpikir untuk jualan obat-obatan P3K di sana, hehe...
Ya, pelajaran berharga. Apalagi bawa anak, jalan-jalan tak terencana pun tetap harus direncanakan. Mau dekat atau jauh; mau ke gunung atau ke sawah, harus bawa tiga bawaan penting tadi. Hmmm...minggu depan, jalan ke mana lagi, ya? Yuk, jalan-jalan!

Comments

  1. Asik ya dolan sm anak2^^
    Haha aku pernh ounya pnglman yg sama.g bw minyak kayu putih dan minta ke teman...g enk aja minta,kl bawa sendiri kan lebih enak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Minyak tuh dah kayak kebutuhan primer deh. Kalau ga bawa terus minta ke orang lain rasanya nggak enak banget. Tapi jadi maklum juga kalau pas bawa terus ada orang yang minta. Hehe...

      Delete
  2. Jalan-jalan emang nggak harus jauh, yg penting qt nya enjoy. Tp klo bawa anak2 wmang harus bawa persiapan ini itu sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Kalau sama anak itu seperti seisi rumah mau dibawa semua. Bahkan ke kondangan pun saya juga bawa tiga bawaan penting itu. Haha...

      Delete
  3. Meski spontan, tetep harus bawa bekal yg dibutuhkan ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Padahal saya sekeluarga ini lebih sering spontannya. Hahaha...

      Delete
  4. Liburan yang murah meriah bermanfaat dan mempunyai muatan edukasi nih....amazing...semangat ya mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Sekalian mengenalkan lingkungan ke anak. Padahal yang kepingin dolan tuh emak-bapaknya. Alasan... Hehe...

      Delete
  5. He..he, mas damar kebanyakan makan gorengan ya :-) btw....cerita jalan2 di kaki gng wilis yang cantik, sayang nggak pake pic....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walah...iya. Saking semangatnya lupa nyisipin gambar. Tar kusisipi foto hutan deh.

      Delete
  6. Jalan-jalan ga harus mahal ya Mak, yg penting seneng hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Murah meriah pokoknya. Hehe...

      Delete
  7. kalau jalan2 sama anak, memang baju ganti itu penting utk dibawa ya mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget, mak. Aplagi kalo punya bayi. Duh...semua-muanya dibawa.

      Delete
  8. sama sih mak, kalo pergi nya agak lama baju ganti harus sedia..anak2 gampang banget keringetan, main basah2an ...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedia baju sebelum basah ya, mak.

      Delete
  9. Plastik, buat apapun bisa. Yang penting di bawa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Termasuk untuk urusan darurat ya, mak.

      Delete
  10. yup! kalau bawa anak-anak ahrus siap bawa baju ganti. Saya juga pernah ngalamin gak bawa baju ganti. Padahal anak-anak bajunya basah

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts