Bersama Para Nenek

Bersama para nenek bagi saya merupakan sebuah kegiatan unik tersendiri. Ada pelajaran tentang hidup yang saya dapat saat bersama mereka. Ada nasihat, ada rahasia menghadapi persoalan, resep masakan dan sebagainya. Yang jelas ada bimbingan gratis berkualitas di sana. Bersama para nenek pun bisa menimbulkan perasaan kagum, haru, senang sekaligus geli.

Kegiatan saya di pagi hari kerja adalah bersekolah lagi, mulai pukul 7.30-10.00. Di sekolah ini saya belajar ilmu-ilmu pergaulan. Belajar bersabar, belajar berhenti berbicara di saat yang pas, belajar mengerem keinginan untuk tampil lebih di hadapan teman-teman. Sekolah saya adalah TK. Ya, saya memang bergabung dengan kelompok PAS, penunggu anak sekolah. :-) Di sekolah ini jugalah saya sering bersama para nenek yang menunggui cucu mereka bersekolah.

Ada nenek yang berusia 65 tahun, ada juga yang 76 tahun. Kedua nenek ini masih segar bugar dan sehat wal afiat. Yang satu seorang pensiunan guru, yang satu lagi seorang ibu rumah tangga yang sukses membawa putra-putrinya (setidaknya demikian yang saya lihat saat beliau berkisah tentang putra-putrinya yang menjadi apoteker dan direktur). Seorang nenek lain lagi berusia 50-an tahun. Nenek yang ini mengasuh anak-anak dari keponakannya. Jadi walaupun sebetulnya beliau belum menjadi nenek namun kami memanggilnya 'mbah' mengikuti cara momongannya memanggilnya.

Sebetulnya saya tak hanya bergaul bersama para nenek di sekolah. Banyak juga teman-teman sesama ibu muda yang baik dan ramah serta 'berisi' alias ada ilmunya. Hanya saja terkadang obrolan para ibu muda nyasar ke ranah pribadi seperti membicarakan si Anu, si Inu hingga membicarakan suami! Terkadang secara tak sadar para ibu berlomba-lomba mengisahkan aib suami masing-masing. Inilah yang membuat saya kurang sering duduk bersama para ibu muda, meskipun ada juga ilmu yang saya dapat saat bersama mereka.

Gambar dari devieriana

Lain dengan para nenek. Mereka lebih terkontrol saat membicarakan keluarga mereka. Para nenek juga tampaknya punya rasa malu yang lebih besar untuk membuka rahasia keluarga. Ini sejalan dengan perintah Alloh untuk menjaga rahasia antara suami-istri:
"Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu merupakan pakaian bagi mereka" (QS Al-Baqoroh ayat 187). Maniiis sekali, kan, perumpamaannya.

Kata orang, seorang perempuan idealnya memiliki tiga macam teman perempuan. Yakni: yang lebih muda, yang sepantaran dan yang lebih tua. Konon agar perempuan memiliki pandangan yang lengkap dari berbagai sudut pandang yang diwakili tiga generasi tadi. Yang jelas, dengan demikian perempuan bisa berbagi ilmu dengan sesamanya. Dari perempuan, oleh perempuan, untuk perempuan.

Bersama para nenek, yang berperan sebagai senior saya, tak hanya ilmu kehidupan yang saya peroleh, terkadang ada juga rejeki yang nemplok akibat jalinan silaturahmi itu. Alhamdulillaah.

Jadi, bersama para nenek? Oke-oke aja tuh!

Comments

  1. Betul banget... waktu anak-anak masih balita, saya malah berteman dengan ibu-ibu yang anaknya sudah SD. Dari dia saya tau masalah apa yang akan datang saat anak seusia itu nanti. Begitu setrusnya sampai anak saya kuliah. Alhamdulillah tdk kaget, krn cerita teman tadi sudah jauh mendahului.

    ReplyDelete
  2. bersama mereka - yang tak lagi muda - seringkali justru kita mendapatkan banyak pelajaran berharga yang tidak kita dapatkan di bangku sekolah formal

    ReplyDelete
  3. mb Mutia: dapat bocoran ya mbak.rejeki tuh.

    Abisabila: betul sekali. sekolah di masyarakat ya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts