Sudahlah, Tak Perlu Kecup Kening Segala

Malam ini saat blogwalking saya menemukan sebuah tulisan bernada cinta untuk calon pendamping hidup. Rupanya tulisan itu diikutsertakan dalam sebuah giveaway yang bertema pernikahan. Hmm...pernikahan, jodoh, keluarga selalu menjadi bahasan paling menarik di dunia ini. Bahkan seorang bekas tetangga yang sudah berusia hampir 90 tahun kala itu, pun berkata bahwa tujuan manusia di dunia ini hanya soal jodoh. Lihat saja, di televisi tema sinetron yang diangkat selalu soal cinta. Begitu kata beliau yang dalam kesehariannya ditemani sinetron.

Kembali ke tulisan tadi. Dalam blogpost itu selain ditulis tentang cita-cita dalam hal cinta, disertakan pula gambar-gambar pendukung. Saya cukup kaget melihatnya. Gambar-gambar itu begitu nyata dan indah, namun juga meninggalkan pertanyaan. Untuk siapa gambar itu dilihat?

Iseng-iseng saya cari di mesin pencari dengan kata kunci 'ikhwan', maka muncullah gambar-gambar  romantis pria dan wanita yang dibalut busana islami. Yang pria berbaju koko dengan peci, ada pula yang berjenggot tipis; sementara wanitanya berkerudung lebar, tapi cantik, penuh renda dan bunga. Ada yang mengenakan busana pengantin, ada yang mejeng berdua saja, ada yang kecup kening dan elus pipi.  Saya tidak cantumkan gambar-gambar itu di sini, silakan bisa dicari sendiri di internet, karena, sungguh, saya termasuk orang yang tidak sepakat dengan hadirnya gambar semacam itu.

Baiklah, barangkali ada yang berpendapat bahwa itu semua adalah karya seni yang boleh dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, misalnya. Tapi dakwah untuk siapa? Kalau untuk pasangan suami istri, maka itu baik saja. Namun bagaimana jika konsumennya justru para lajang? Bukankah itu malah menyebabkan siksaan tersendiri, terutama bagi yang sudah ingin menikah?

Saya jadi ingat dengan sebuah nasyid belasan tahun lalu yang syairnya saya sudah  tak begitu ingat namun intinya berisikan keinginan menemukan 'teman sejati'. Saya yang saat itu masih dewasa muda menjadi korban nasyid itu. Timbul keresahan saat mendengarnya. Di mana teman sejatiku ya? Kapan aku berjumpa dengannya ya? Sungguh syair itu tak beda jauh dengan lagu cinta di pasaran. Tidak memberi jalan keluar, hanya ikut menambah pikiran saja. Itu baru rangsangan lewat indera pendengaran. Bagaimana pula jadinya dengan lewat indera penglihatan?

Saya khawatir, gambar-gambar romantis itu bisa memicu keresahan yang lebih besar. Sudahlah, tak perlu kecup kening segala. Jangan-jangan nanti ada juga gambar bergandengan tangan, berpelukan dan seterusnya. Wah!

Saya rasa masih banyak cara untuk berdakwah. Masih banyak pula hal yang harus didakwahkan, bukan cuma soal jodoh saja. Pilih cara dakwah yang baik, yang mencerahkan bukan yang meresahkan. Jodoh memang urusan besar, tetapi urusan besar itu sudah ada yang mengaturnya. Setuju?

Comments

Popular Posts