Skip to main content

Maaf Buk,

"Maaf buk, tadi buku ananda disobek temannya, tapi temannya sudah minta maaf."

Demikian laporan guru kelas anak sulung saya yang ditulis di buku penghubung. Saya cek, betul buku anak saya terlepas dari jilidannya. Hmm...nggak masalah sih kalau cuma seperti ini. Yang penting perilaku menyobeknya tidak terulang lagi. Tapi di balik laporan itu ada yang menggelitik hati saya.

Saya biasa berkomunikasi dengan guru anak saya yang sulung sejak anak saya masuk SD. Di masa persiapan pun saya sudah minta waktu khusus untuk menjelaskan keadaan anak saya yang semasa di TK kerap mogok sekolah. Saya juga sampaikan kekurangan dan kelebihan anak saya dan harapan-harapan saya. Bu guru yang masih muda itu (masih mbak-mbak lah) tampak perhatian dan siap mengemban amanah.

Saya juga cukup sering berkomunikasi dengan bu guru tersebut lewat SMS. Kebetulan saya tidak punya WA jadi biasanya ketinggalan info yang beredar di grup. Tapi karena saya juga dalam sepekan bisa bertatap muka langsung dengan sang guru karena tiap Senin-Kamis saya mengantar makan siang anak ke sekolah, maka saya tidak merasa terlalu khawatir ketinggalan info. Lagipula buku penghubung berfungsi dengan sangat baik.

Kembali ke pesan dari bu guru. Apa yang menggelitik? Saya agak maklum sebetulnya karena beliau masih sangat muda dan beliau juga generasi medsos, tapi bolehlah saya utarakan di sini, siapa tahu ada guru lain yang baca.

Yang menggelitik adalah pemilihan kata 'buk' sebagai pengganti kata 'bu'. Bagi saya cukup ganjil kedengarannya. Kalau di medsos sih barangkali saya tenang saja, berhubung ini institusi pendidikan saya rasa kok kurang pas memakai kata 'buk' sebagai pengganti 'bu'.

Nah, kalau teman-teman, ada yang menjumpai pengalaman serupa? Atau jangan-jangan melakukan seperti yang bu guru tadi lakukan? Yuk, cerita.

Comments

  1. heheh.. mungkin terbawa suasana medsos, Mak :)

    ReplyDelete
  2. Di sini juga buk manggilnya. Hehe
    Usia tk tujuan utama bersekolah agar bisa bersosialisasi dg sejawat jadi ya sehari dua hari ga masuk Gak masalah. Itu kata kakakku.

    ReplyDelete
  3. Pake "k" ya mbak... Untung bukan pelajaran b.indo mb... * bu guru terbiasa bahasa lisan mngkin mbak..

    ReplyDelete
  4. Ahaaa ternyata sapaan buk nya ya mb dwi, kupikir yg aneh itu knapa bilangnya di buku penghubung, hihi, biasanya guru yg dah senior sukanya mlh ngobrol langsung

    ReplyDelete
  5. terbawabawa ajah..tu..karena terbiasa lisan.., tapi jika dibuku memang mesti sedikit formal..

    ReplyDelete
  6. gurunya alay yahh hehehe...(vina nda syahdu)

    ReplyDelete
  7. wah ternyata kasusnya sama kayak mba dan mbak, mana sekarang ada mb dan mba'. Entah mana yang enak dibaca ya mba.. *_*

    ReplyDelete
  8. yang amazing bagi saya , sekarang komuniaksi dengan guru bisa lewat WA, dulu kita yang harus datang rajin ke guru. Kadang jam kosong gak ngajar aku sempet2in untuk ke sekolah anak untuk tahu perkembangan dia

    ReplyDelete
  9. Kalo yg nulis bukan praktisi pendidikan (guru sekolah) mungkin kesannya biasa aja ya Mbak Diah. Tapi kalo ky kasus di atas, rasanya memang gmn gt. Kalo aku komunikasi sama ortu anal lesku -via HP- berusaha pake EYD yg baik. Soalnya ada ortu yg kalo sms/WA EYD-nya oke banget, meski beliau bukan dr kalangan dunia pendidikan. Beliau sepertinya ingin menghargai guru les anaknya jg. Jadi aku jg berusaha menghargai beliau dan ortu lainnya. Meski hanya guru les, kalo sms/WA harus pake bahasa yg bener biar ga malu2in hihihi! Kalo sama anaknya sih sante aja -lah ini komennya bahasanya juga acak adut huhu

    ReplyDelete
  10. Latar belakang si ibu guru muda tadi mungkin mba yang membuat dia (terbiasa) menulis "buk" untuk kata "bu).

    ReplyDelete
  11. Hehe... ibu gurunya kudu melek eyd :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.