Skip to main content

Bedanya Lamaran Nikah Di Jogja Dengan Di Jawa Timur

Pas masih single dulu saya beberapa kali ikut acara lamaran nikah. Pernah berada di pihak calon mempelai laki-laki, pernah juga di pihak calon mempelai perempuan. Ternyata, meski sama-sama di Jawa, ada juga lho bedanya lamaran nikah di Jogja dengan di Jawa Timur. Lamaran nikah siapakah itu? Sayaaa... *ngacung*
Iya, saya asli Jogja, suami saya asli Madiun, Jawa Timur. Cerita lucu tentang bedanya lamaran nikah di Jogja dengan di Jawa Timur ini saya dapat justru setelah tujuh tahun kemudian. Lhah, lama amat. Perbedaannya bukan pada hal uba-rampe yang harus dibawa atau yang sejenisnya, ya, tapi ada di urutan basa-basi 'meminta'nya.

Lamaran Tidak Resmi
Sebelum lamaran resmi, pujaan hati saya datang sendiri menghadap orang tua saya untuk melamar saya. Nembung, kalau dalam Bahasa Jawa. Lamaran yang ini tentu saja sifatnya tidak formal, cuma seperti ngobrol biasa antara seorang lelaki dewasa nan bertanggung jawab *cieee* dengan bapak-ibu si gadis. Jadi, hayuuuk...temui bapaknya. Sungguh kamu lelaki dewasa nan bertanggung jawab kalau sanggup. *serius*
Dalam acara lamaran nikah tidak resmi ini tidak ada hantaran khusus segala, ya. Waktu itu suami saya cuma membawa diri, hehehe... Nah, jangan dikira yang dag-dig-dug cuma dia lho, saya juga. Sayanya sih posisi tidak berada di ruangan yang sama karena pas ada murid TPA yang nyariin saya,konsultasi mau ikut lomba anak sholeh. Walaupun bisa ngobrol sama murid, tapi kuping saya mengarah ke ruang tamu. Ada apa ya di sana? Hahaha...
Ternyata orang tua saya menanyakan keseriusan dia, kemampuan finansial juga. Ih, kok vulgar? Oh, iya. Berumah tangga itu juga butuh biaya. Jangan bilang orang tua saya matre, ya, memang begitulah kenyataan hidup. Tak cukup bekal cinta. Tapi jangan khawatir, kebanyakan orang tua yang bijaksana tidak menuntut banyak, hanya meninta kesungguhan si lelaki dewasa nan bertanggung jawab untuk sanggup mengemban amanah. *uhuk*


Di penghujung obrolan, suami saya berkata bahwa keluarganya akan secara resmi melamar saya di belakang hari.
Lamaran Resmi
Suatu hari di bulan Syawwal, bertepatan dengan rangkaian libur lebaran, keluarga dari Madiun datang melamar saya. Berhubung orang tua suami saat itu sudah tidak ada semua, maka lamaran diajukan oleh saudara yang dituakan. Bergabung juga dalam rombongan itu mas-mas, mbak dan bulik serta om dari pihak suami saya. Persisnya berapa orang yang ada dalam rombongan itu saya lupa.
Oya, beberapa hari sebelumnya, suami saya datang lagi ke rumah mengabarkan jadwal kedatangan keluarganya ke Jogja. Kok nggak lewat telepon aja? Biar mantap katanya. Ternyata sebelum itu, mas-mas dan mbak-mbaknya memang memintanya menemui orang tua saya lagi untuk memastikan bahwa lamaran akan diterima. "Jangan sampai sudah tiba di sana berombongan tapi lamaran ditolak,' kata masnya. Iya juga sih. Nggak enak dong sudah jauh-jauh tiba-tiba sampai sana jawabannya digantung.
Untuk mendukung kelancaran acara lamaran resmi, suami saya minta informasi kebiasaan lamaran nikah di Jogja. Saya sampaikan saja bahwa ada acara perkenalan anggota keluarga dan basa-basi sebelum kalimat lamaran diucapkan.
Letak Perbedaannya
Nah, setelah rombongan keluarga suami datang, dimulailah acaranya. Di sinilah letak lucunya. Obrolan dimulai tapi tidak mengerucut juga pada kalimat lamaran. Keluarga suami sempat bingung juga, kok ngobrolnya muter-muter saja. Baru setelah dijamu makan, lamaran pun terucap.
Apa yang terjadi sebetulnya? Beda cara, teman. Kalau di Jogja, tamu akan menyampaikan maksud kedatangan mereka terlebih dulu. Sedangkan di Jawa Timur, tamu akan ditanya lebih dahulu. Ini yang sama-sama tidak diketahui. Keluarga suami bingung kenapa tidak segera ditanya, keluarga saya bertanya-tanya kenapa tidak juga segera menyampaikan maksud. Saling menunggu, gitu. Oooh...
#
Pelajaran berharga banget. Buat yang mau melaksanakan lamaran, khususnya yang beda adat, sok atuh cari tahu kebiasaan-kebiasaan yang ada di kedua pihak. Tujuannya cuma satu: agar lancar. Kalau lancar kan enak untuk kedua belah pihak. Iya, kan?
Ohya, sebagai tambahan, dalam lamaran resmi biasanya dibahas juga:
  • tanggal pernikahan
    mau segera atau diberi jeda
  • adat pernikahan yang dipakai
  • pengurusan surat-surat
    dead line-nya kapan untuk kelengkapan surat-surat dari pihak laki-laki dikirim ke pihak perempuan
  • permintaan khusus
    misal: calon mempelai perempuan diizinkan menyelesaikan kuliahnya walau sudah nikah
  • ada kunjungan balasan dari pihak perempuan atau tidak
  • ada acara ngunduh mantu atau tidak

Itulah bedanya lamaran nikah di Jogja dengan di Jawa Timur. Tentu ini merupakan pengalaman pribadi yang unik, namun bisa juga terjadi secara umum. Bagaimana dengan soal mahar? Ada perbedaan juga tidak? Tunggu di tulisan selanjutnya, ya.

Comments

  1. hehe, ternyata memang ada istilah nembung dulu ya, mak. kalau pas lamaran jadi lebih rame ya, karena bawa keluarga terdekat buat nanya serius.

    ReplyDelete
  2. sepakat sama kata-kata "laki-laki yang dewasa dan bertanggung jawab akan segera menemui ayah dari kekasihnya"

    setiap daerah punya tradisi lamaran yang berbeda yah Mbak, jadi pentng banget untuk mencari tahu adat dan kebiasaan dari calon pasangan agar saat hari H tidak terjadi misskomunikasi :)

    ReplyDelete
  3. Oh..begitu ceritanya mbak.. Pas sesi lamaran itu, mbbak diah juga ikut trus yang bilang "bersedia" gitu siapa mbak...? Ditunggu lnjutan ceritanya...

    ReplyDelete
  4. Indonesia ini beragam ya..bahkan utk perihal lamaran pun banyak perbedaan meski dalam satu pulau

    ReplyDelete
  5. Kalo di Ponorogo yg melakukan lamaran resmi dari pihak perempuan Mbak. Sebelum itu, si lelaki datang ke rumah pihak perempuan menyampaikan tujuannya. Nah kalo oke, baru nanti menentukan hari kapan keluarga pihak perempuan sowan ke pihak lelaki. Ada si yg melamar dulu (bawa rombongan) pihak laki2, tapi itu jarang ato beda kota.
    Tapi kalo aku nanti ketemu jodoh, pengennya dilamar bukan melamar hahahaha *ups :D

    ReplyDelete
  6. saya ngga pakai lamaran waktu itu mbaaa...hanya kenalan keluarga..ngobrol-ngobrol, lalu ketemu lagi pas akad nikah hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.