Skip to main content

Ngeblog Untuk Membantu Orang Lain



Wow...apa lagi ini? Ngeblog untuk berbagi informasi dan pengalaman, ngeblog untuk terapi pribadi, ngeblog untuk dapat 'me-time', ngeblog agar eksis, ngeblog untuk dapat dollar, mungkin sudah pada familiar. Nah ini ngeblog untuk membantu orang lain. Apa coba?
Oh ya, sudah pada tahu ngeblog itu apaan, kan? Ngeblog adalah kegiatan membangun blog (web log) dengan cara menulis yang dilakukan di dunia maya. Dalam bahasa Indonesia bakunya apa, ya, ngeblog itu? Belum ada kayaknya. Cmiiw.
Dalam ngeblog, proses kreatif menulis menjadi begitu hiruk-pikuk. Ada proses mencari data, menganalisis, menyimpulkan, menjabarkan, hingga urusan sharing ke media sosial dan desain tampilan. Rumit amat? Rumit-rumit sederhana sih. Toh proses menulis itu sebetulnya
sama dengan proses berpikir, hanya saja diakhiri dengan perwujudannya secara fisik dalam bentuk huruf dan angka.
Kembali lagi ke soal ngeblog untuk membantu orang lain. Ceritanya, semalam saya baca artikel Bunda Yati berjudul Lansia Koq Ngeblog, Sih! Di artikel itu Bunda Yati menulis begini:

"Mentang-mentang aku Lansia, ya, kalian tidak mengizinkan aku melakukan sesuatu yang membuat segumpal daging di dadaku tersentuh perasaan senang. Aku tahu kalian menyayangiku dan ingin memanjakan aku dengan memintaku untuk duduk manis."

Menyentuh sekali curhatan Bunda Yati ini. Bahkan beliau mendoakan anak-anaknya di paragraf selanjutnya. Doa yang membuat saya termangu-mangu. Betapa seorang anak bisa berbakti dengan cara yang 'salah'. Maksudnya mungkin baik, tapi bisa jadi tidak sesuai dengan harapan orang tuanya.
#
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Pagi tadi seorang tetangga curhat ke saya dengan kasus yang berkaitan dengan tulisan Bunda Yati tadi. Beliau ini seorang nenek berusia 61 tahun yang menderita sakit diabetes plus jantung koroner. Badannya jadi melemah. Sang anak pun memproteksi sang ibu dengan caranya, yang ternyata menurut sang ibu malah 'memenjarakannya'. Tak boleh ini, tak boleh itu. Bahkan untuk perkara sepele seperti menyapu rumah saja tak boleh. Maunya si anak agar ibunya tidak kelelahan, sebab bisa kumat sakitnya, tapi si ibu merasa pekerjaan seperti itu sama sekali tidak melelahkan, malah kegiatan itu dianggapnya sebagai gerak badan semata.
Tak hanya itu, sang ibu tak jarang dimarahi sang anak gara-gara tak becus lagi melakukan sesuatu. Tak bisa pakai kaos kaki, misalnya, atau minta diantar ke apotek. Rupanya sang ibu ini sudah kembali jadi 'anak kecil' lagi sehingga membuat 'repot'.
Si ibu menderita batin. Mau protes, tak sampai hati karena merasa sudah 'merepotkan' sang anak. Tidak protes, makan hati. Jadilah beliau curhat sama saya. Dalam anggapan saya, tetangga saya ini sedang tak berniat meminta bantuan untuk mengungkapkannya kepada si anak. Sekedar curhat saja, membuang unek-unek.
Tapiii...malah saya yang resah gelisah mendengarnya. Pingiiin mengatakan curhatan ini kepada si anak. Haha...memangnya siapa saya? Padahal sebetulnya si anak pun perlu diingatkan agar tetap menjadi anak yang berbakti.
Lalu siapa yang bisa mengingatkan? Saya, Anda, kamu, siapapun di sana yang merasa hal-hal seperti ini patut disuarakan, ayo tulis di blog agar bisa dibaca banyak orang. Mana tahu banyak orang tua yang mengalami hal seperti ini, mana tahu tulisan kita dishare banyak orang lalu menginspirasi. Siapa tahu ada yang merasa terwakili perasaannya.
Tentunya penyampaiannya harus secara baik. Poles-poles kalimatlah. Seperti kata Mbak Uniek:
"Kekuatan kita kan ada pada tulisan. Tulisan yang 'ditajamkan' dengan tampilan yang memukau maupun gaya bahasa yang khas blog kita sendiri."

Nah, kalau sudah begini, insya Alloh tulisan kita bisa menyentuh relung hati terdalam.
Tak usahlah dulu berpikir soal viral atau kepikiran jadi agent of change segala macam, ya. Yang penting niat kita lurus untuk membantu orang lain menyuarakan suara hati mereka. Ini perkara sepele tapi mulia banget, kan.
#
Nulis tentang curhatan orang lain mudah dong, tinggal ketik-ketik aja? Ternyata tidak! Beneran. Mau nulis itu rasanya maju-mundur. Tulis, nggak, tulis, nggak *hitung kancing baju*
Yang paling sering menjadi alasan untuk tidak jadi menuliskan curhatan orang lain itu setidaknya ada empat perkara.
Pertama, ada perasaan seperti ikut campur urusan orang lain. Ini bener nggak ya, langkah saya nulis tentang curhatan si A, misalnya.
Kedua, ada perasaan takut dibilang sok bijak, takut dibilang provokator dan lain-lain.
Ketiga, ada perasaan takut akan jadi tulisan bersemangat 'NATO': no action, talk only. Kenapa? Karena yang mengalami bukan kita sendiri. Mungkin pembaca ada yang berkomentar, "Iya, lo bisa ngomong gitu karena nggak ngelakuin. Coba kalo lo jadi gue!" *krik-krik*
Keempat, ada perasaan tulisan kurang berbobot. Secara, ini cuman curhat, gitu loh! Curhat mah sama tetangga aja atuh, ga perlu diumbar ke seluruh jagad maya! Apalagi diikutin lomba segala macem! *uhuk-uhuk*
#
Benarkah keempat alasan tadi? Tergantung kepada niat sih. Seorang guru ngaji saya pernah menasihati, bahwa jika ketika dalam beramal baik timbul perasaan ragu atau takut dicap sok ini sok itu, itu pertanda kita telah terjatuh pada lubang riya'. Lhoh kok bisa? Iya. Soalnya kita kepedean. Nggak ada yang ngomongin kita sok ini sok itu kok kita merasa ada yang ngomongin? Memangnya kita semulia itu?
Nah, kalau setelah berniat untuk menuliskan curhatan orang lain lalu timbul keraguan, tepis saja keraguan itu, luruskan kembali niat dan teruskan menulisnya.
#
Curhat itu memang hal sepele (sepertinya), tapi penting alasannya. Untuk bisa curhat itu tak mudah. Tak sembarang orang bisa dicurhati. Maka jadilah pendengar curhat yang baik. Seperti saat melihat kemungkaran, jika tak bisa menolong si pencurhat dengan tindakan, bantulah dengan lisan. Jika lisan pun tak sanggup, bantulah dengan tulisan. Siapa tahu Alloh membukakan pintu pertolongan kepada si pencurhat melalui tulisan kita. Amal baik juga, kan. Yuk, ngeblog secara positif!

Comments

  1. Ngeblog untuk menyuarakan pendapat ya, mak. Semoga ada yang terinspirasi untuk berbuat kebaikan sekecil apa pun lewat blog. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barangkali memang jalan amal kita di sini ya, Mbak.

      Delete
  2. Ngeblog itu curhatan yg bisa dibaca semua orang hehehe!
    Ngomong2 soal si Ibu tadi, kasian juga beliau ya. Kita aja yg muda kalo lagi sakit ga bisa ngapai2n dan ga berkegiatan rasanya gimana gitu. Overproteksi kadang memang menyiksa *ekh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang niat baik saja ga cukup, Mbak. Harus disertai usaha yg tepat.

      Delete
  3. Ngeblog positif...smg bisa mengikuti dirimu mb.....:-)

    ReplyDelete
  4. Hihihi iya juga yaaa.. kadang kitanya aja yang kegeeran di cap ini itu :D

    ReplyDelete
  5. Soal curhat, aku sering dicurhatin teman2 lho mba. Malah kepikiran, jadi tau si A ngomongin si B, begitu juga sebaliknya, masing2 curhat ke aku. Waduuuhh.... :)
    Terima kasih ya sudah ikutan giveawayku, keep blogging.....

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.

Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo.

Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP."

Naluri saya bekerja, apa maksudnya 'mengunci'? Ternyata betul dugaan saya, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.

Pernah si Ayah usul supaya si Mas diberi HP saja biar tidak mengusili HP orang tuanya, tapi saya tolak. Begini saja sudah bikin yang aneh-aneh, apalagi kalau punya sendiri. Lagipula bahayanya sangat besar kalau anak yang umurnya saja belum ada 7 tahun sudah punya HP sendiri.

Baca jug…