Skip to main content

Tuhan Itu Ada

Sungguh sebuah keajaiban. Keanehan. Tapi sungguh alamiah. Pagi itu, di kala gempa besar mengguncang Jogja dan sekitarnya, saya melihat Tuhan di hati manusia. Di antara jerit tangis dan kepanikan yang luar biasa saya menyaksikan kekuasaan Tuhan yang begitu besar. Tuhan itu ada.

Usai getaran besar pertama, saya berkumpul dengan tetangga-tetangga. Yang satu bercerita ia lari keluar rumah saat ART-nya menyebut-nyebut nama Tuhan. Barangkali saat itu tetangga saya itu terpaku di tempat. Tetangga yang lain bercerita ia berlari ke luar sambil berkata, "Nyuwun ngapura, nyuwun ngapura! (Mohon ampun)". Mohon ampun kepada siapakah dia?

Ada lagi tetangga yang bercerita bahwa tetangga yang lain yang terkenal abangan agamanya mendadak menyebut nama Tuhan. "Gusti Alloh!" katanya.

Tak hanya itu. Saya melihat dan merasakan sendiri ketika itu orang-orang menengadah ke langit. Mencari apa? Sungguh aneh. Ada apa di atas sana? Siapa yang menggerakkan leher-leher itu? Adakah yang pernah melihat sesuatu yang begitu agung di atas sana?

"Beragama adalah fitrah manusia," tulis seorang teman di sosmed. Saya pun mengomentari statusnya itu dengan ringkasan tulisan di paragraf-paragraf awal ini.

"Bertuhan tapi tak beragama jadi trend," kata seorang komentator. Apa? Bertuhan tapi tak beragama? Bagaimana seseorang bisa menganggap Tuhan ada tapi tak mau beragama? Bukankah Tuhan sendiri yang menciptakan agama? Lalu aturan siapa yang ia pakai dalam kehidupannya sehari-hari?

Apa ini tanda akhir zaman? Tentu saja. Kita ini hidup di zaman akhir. Tapi manusia zaman akhir pun tetap manusia. Makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Jika ada yang membantah, silakan saja. Namun saya percaya Tuhan itu ada.

Comments

  1. Jadi ingat kata tmn kantor dulu mb....waktu itu pas ngajak turun untuk ke mushola, kali aja dia mau bareng. Jawabannya apa coba " Tuhan kan baik, jadi kalaupun saya islam tp gak sholat gpp...kan tuhan itu baik".......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh ngeri sedep gt jawabannya Mbak. Semoga skrg sdh dapet hidayah jadi lebih baik ya, aamiin.

      Delete
  2. ah...sungguh mumet itu, lis. semoga temanmu itu sudah dapat hidayah.

    ReplyDelete
  3. Itu sudah biasa di kalangan kampus,Mbak. ITB bagus fasilitas keagamaannya dengan keberadaan Masjid Salman dan Organisasi Kharismanya. Tapi... segitu pun banyak mahasiswa/i ber- Islam saat balik ke rumah ortu saja. Di kampus tak mau melakukan kewajiban sbg muslim, dan dengan bangga bilang bahwa yang terpenting adalah "Baik". Percuma Islam kalau bla...bla..bla.. (Ini yang diceritakan anak saya sejak 4 atau 5 tahun yll) *Prihatin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inna lillaahi. Memperihhatikan banget. Org muda biasanya terjebak pd pola pikir logika. Naudzubillaahi min dzaalik.

      Delete
  4. dan ternayat makin banyak yang begitu ya mbaaa...semoga kita tidak termasuk dalam golongan seperti itu

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.