Skip to main content

Merdeka Atau Berhenti Ngeblog!

"Merdeka atau Mati!"

Gambar dari https://jurnalperigi.wordpress.com/2014/01/17/kekuatan-tipografi-sebagai-propaganda-partisipatif-yang-membangun-indonesia/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C7743806059

Coretan di dinding-dinding dan di berbagai tempat di masa perang kemerdekaan kala itu mencerminkan tekad yang pasti. Jika tak bisa merdeka, maka maju hingga mati tak dapat ditawar. Untuk apa hidup jika tak memiliki jalan hidup sendiri? Demikian juga dengan menulis. Apa guna ngeblog jika tak bebas? "Merdeka atau berhenti ngeblog" barangkali pilihannya.

Saya mulai ngeblog di tahun 2006 dengan fasilitas yahoo 360 yang kini sudah lama wafat. Tapi ngeblog saya waktu itu tak tentu. Tak terarah dan tak tahu maksud dan gunanya ngeblog. Blog bagi saya waktu itu cuma sekedar nulis curhatan saja. Di tahun 2007 saya buat blog di blogspot. Masih dengan pengetahuan yang sama, blog saya tak pernah jadi blog 'betulan'. Akibat nggrambyang alias nggak jelas, maka blog saya terlantar.
Di tahun 2009 usai melahirkan anak pertama, saya teringat lagi blog saya. Sempat posting dua-tiga tulisan,setelah itu mati suri lagi. Akhirnya di tahun 2013 saya mulai menulis lagi. Membangun blog damarojat ini dan mulai menekuni hari-hari sebagai blogger. Sebetulnya penyebab saya ngeblog lagi saat itu adalah sedang galau. Anak masih kecil-kecil, ART barusan minta berhenti. Mumetlah saya. Cenut-cenut di kepala tak bisa saya buang ke mana-mana. Mau diumbar di facebook jelas nggak baik. Alhamdulillaah saya dipertemukan kembali dengan kegiatan ngeblog. Jadi, bismillaahirrohmaanirrohiim, ngeblog.

Di awal-awal saya mencari komunitas blogger. Terrrnyata buanyak nian! Satu per satu saya ikuti dan belakangan saya bergabung dengan komunitas Blogger Muslimah. Makin banyak teman, tulisan saya pun makin beragam. Mulai dari curhat, ikut trending topic hingga ikutan lomba. Bahkan saya ikutan sok-sok ngereview produk. Trafik pun jadi sasaran tembak saya berikutnya. Belajar SEO sedikit-sedikit, belajar nulis yang bersifat viral sedikit-sedikit hingga akhirnya saya terjebak sendiri pada target yang, tanpa saya sadari, jadi 'kurang saya'. Ke mana saya di tulisan-tulisan saya sendiri?
Ramadhan tiba, masa perenungan dimulai, termasuk untuk blog saya. Hal-hal yang membuat saya merasa 'kurang saya' saya urai satu per satu. Bukan berarti target saya sebelumnya tidak penting. Penting, dong. Trafik, ranking, jumlah tulisan, jumlah komentar, followers. Penting. Tanpa target ngeblog bisa jadi kurang greget. Tapi ada satu yang hilang dari ruh blog ini: kebebasan.
Saya harus kembali ke tujuan semula. Saya ngeblog karena saya butuh menuliskan isi kepala dan hati saya. Saya ngeblog bukan untuk imbalan trafik atau followers atau menang lomba atau apapun. Saya ngeblog karena saya tahu bahwa saya harus ngeblog.
Harapan saya tulisan-tulisan saya bisa berguna, menginspirasi orang lain, memberikan jawaban atas pertanyaan orang lain, memberikan jalan keluar atas permasalahan orang lain dan juga menghibur. Harapan yang tak berlebihan, kan?
Maka, yuk ngeblog yang bermanfaat biar manfaat ngeblog pun kembali ke kita.
Tulisan ini dibuat dalam rangka "BW Spesial Blogger Muslimah" #‎BloggerMuslimah ‬‪#‎GerakanMenujuSholehah


Comments

  1. *manggut-manggut. Begitu ya mbak.... Soal pengalaman ngeblog yang beberapa kali mati suri..tosss...sama. Tekad ngeblognya masih labil juga aku mb. Btw, sukses lombanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ini bukan lomba kok. Ada hadiahnya sih tp intinya biar nulis dan nulis gitu.

      Delete
  2. Iya kalo di target, alexa rank harus sekian misalnya, ngeblognya malah kurang asik, kadang-kadang jadi galau, mending nyantai aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi tetep ngelirik2 ya mbak. Hihi

      Delete
  3. Ngeblog itu harus bikin senang :))

    ReplyDelete
  4. Wah udah lama ya ngeblognya, mbak. Dulu awal-awal ngeblog punya saya isinya geje alias ga jelas. Kadang pengen ketawa juga hehehe.
    Semangat terus dan enjoy ngeblognya ya mbak.

    ReplyDelete
  5. bener mba, suka bagian "Apa guna ngeblog jika tak bebas?"

    ReplyDelete
  6. Saya ngeblog karena saya butuh menuliskan isi kepala dan hati saya. Saya ngeblog bukan untuk imbalan trafik atau followers atau menang lomba atau apapun <----- toss mbak :D

    ReplyDelete
  7. Semakin kesini saya jadi gak rajin posting, tapi yang saya terapkan walaupun jarang posting gimana caranya kalau sekali posting itu bisa bermanfaat dan memberikan ulasan yang baik (menurut saya)...Jadi, ngeblognya lebih nyantai saja sih...memang kalau ditarget dan harus posting setiap hari supaya a, b, c meningkat malah jadinya sayanya yg kurang nyaman hehe...Semangat mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setiap blogger punya cara sendiri.dlm mencari kenyamanan ngeblog ya mbak.

      Delete
  8. Ayo semangat ngeblog lagi mba... Akupun senasib, udah ngeblog dari 2004 di boleh.com tau-tau blognya kehapus bersama segala kontennya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow lama bgt ya mbak sejak zmn boleh.com.dulu sy juga pk email di boleh.

      Delete
  9. Saya setuju banget dengan kalimat ini: Saya ngeblog karena saya butuh menuliskan isi kepala dan hati saya.
    Karena saya percaya menulis bisa mengurangi beban di hati dan kepala. Menulis bisa jadi terapi bagi jiwa. Banyak ide dan gagasan yang perlu dituangkan. Semangat ya mbak Dwi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. makasih atas suntikan semangatnya.

      Delete
  10. Sama, saya ngeblognya mulai tahun 2006, Mbak tapi waktu itu buat diri sendiri saja. Kalo liat tampilan blog sudah senang saja padahal diri sendiri doang yang liat hihihi. Maaf baru BW ke postingan ini Mbak ....

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.