Skip to main content

Mengenali Minat Dan Bakat Anak

Orang Jawa punya cara tersendiri untuk mengenali minat dan bakat anak sejak dini. Prosesinya terangkum dalam acara tedhak siten, yaitu upacara yang diadakan saat seorang anak diajar berjalan untuk pertama kalinya, di usia kira-kira 7-8 bulan. Tedhak berarti menginjak, siten berasal dari kata siti yang berarti tanah. Dalam upacara itu si anak dititah untuk menginjak jenang abang-putih (merah-putih). Ada juga yang pakai tujuh warna. Entah kenapa kok bukan tanah yang diinjak. Lebih lengkapnya bisa dicari sendiri dengan kata kunci 'tedak siten' ya.

Nah, sebelum prosesi itu ada pula prosesi dikurung. Si anak dikurung dalam kurungan ayam yang dihias cantik. Tentu saja kurungan baru lho ya...bukan kurungan bekas ayam. Di dalam kurungan itu disediakan beberapa benda. Benda yang pertama kali dipegang oleh anak itulah yang kemudian dianggap bakal menjadi profesi atau minat sang anak di masa depan. Hmm...berasa nonton film kartun Avatar Aang itu ya.

Yang dulu dapat jatah upacara beginian ini mbakyu saya sebagai anak pertama. Sedangkan saya dan adik saya tidak. Ada itu fotonya mbak saya di dalam kurungan. Lucu. Kapan-kapan kalau saya pulang ke Jogja saya cariin fotonya dan saya upload ke sini, insya Alloh.

Update: ternyata foto-fotonya disimpan di rumah mbak saya. Nggak jadi diupload deh ya. Maafkan...

Waktu itu mbak saya diberi pilihan padi, pensil atau uang. Mbak saya pilih padi. Konon, kelak mbak saya bakal dekat dengan padi yang saat itu diidentifikasi sebagai bakal jadi sarjana pertanian.

Tahun-tahun pun berlalu dan mbak saya ternyata betul jadi sarjana, tapi sarjana komunikasi bukan pertanian. Nggak ada agro-agronya sama sekali deh. Malah saya yang nyerempet eh keserempet agro. Jadi,upacara dulu itu sia-sia kah? Wallohu a'lam. Barangkali mbak saya memang berminat ke pertanian tapi bukan dengan menjadi sarjana pertanian. Yang jelas saat itu bapak, ibu dan eyang mendoakan begitu.

Nah, itu tadi soal minat. Sedangkan soal bakat, kalau saya amati, bakat seorang anak itu bisa dilihat dari kecil. Yang mencolok saya amati adalah diri saya dan mbak saya. Sewaktu masih SD, mbak saya itu tulisannya bagus. Rapi, rajin gitu. Bahkan dia pernah dapat juara di lomba menulis halus pakai huruf latin. Bukan bahasa Latin lho ya. Itu lho huruf yang sambung menyambung.

Tak heran sekarang mbak saya punya usaha di bidang rajut-merajut. Mbakat seni dia.

Ini salah satu hasil karyanya.

Sedangkan saya? Dari kecil sudah random. Nulis tidak rapi. Kaku jejeg ga ada seninya. Terus kalau disuruh nulis satu halaman satu kalimat berulang-ulang gitu, misalnya "ini ibu budi", saya nulisnys "ini" ke bawah sampai selesai. Lalu "ibu" ke bawaaah, terus "budi" juga ke bawaaah gitu. Setelah ingat itu saya jadi paham, pantesan saya ini suka nulis random. Cocoknya saya memang pegang komputer ya, tinggal copy paste, gitu. Halah.

Tapi kalau melihat masa kecil saya, saya juga paham kenapa saya ngeblog sekarang. Dulu pas masih SD saya pernah bikin surat kabar (meski cuma bertahan dua hari :-D ). Isinya berita seputar ayam dan kucing peliharaan di rumah. Jadi, berita hari ini siapa berkelahi dengan siapa, si anu makan apa, si itu telurnya menetas berapa. Memang semua kucing dan ayam di rumah dulu dikasih nama. Bahkan sempat ayam-ayam saya kasih nama keluarga. Kalau anaknya si betina A namanya pakai 'swiwi', anaknya betina B pakai 'wani'. Ih, seru kan?

Agak gedean sedikit, kelas 5-6, saya nulis novel detektip-detektipan sama teman saya. Maklum, waktu itu lagi suka Trio Detektif. Punya teman saya sudah selesai dia tulis. Pakai bolpoin lho, satu buku tulis dia selesaikan. Sedangkan saya tidak selesai. Hehe...ketahuan ya? Pantesan sekarang saya...

#

Sebetulnya mudah mengenali bakat dan minat anak sejak dini. Amati saja apa yang paling disukai anak dan yang paling mahir dilakukan anak. Bisa jadi keduanya hal yang sama, bisa jadi berbeda. Kalau sudah ketahuan, arahkan, fasilitasi dan beri target.

Misalnya anak suka membaca, beri buku yang bagus. Arahkan ke mana ia mau mempelajari ilmu apa. Berikan kepadanya target. Bukan hanya target membacanya tapi juga target kelak ia mau apakan ilmu yang diperolehnya itu. Kalau anak suka main tanah, ajari bercocok tanam sekalian. Kalau anak suka menyanyi, beri saja bacaan kitab suci biar ditirukan dan dihapalkan. Kalau anak suka menulis random, waspadalah! Segera beri dia komputer dan target untuk menyelesaikan karyanya!

Comments

  1. Novel karyanya msh ada mb? Di re-write, aja...penasaran ma isinya :-) Raka senangnya IPa ma otak-atik game mb...entahlah, msh kls 2 juga...kyaknya msh bisa berubah-ubah pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah udah ilang entah ke mana itu draftnya. Raka suka gambar apa? Semoga jadi arsitek nantinya.

      Delete
  2. Aku dari kecil punya diary sendiri, Mbak.. Sekarang uda gede rada malesan buat nulis, jadi bikin blog aja. Mueheheh :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Diary zaman SD kukasih nama. SMP-kuliah suka surat-suratan sama temen pake kertas folio empat halaman bolak-balik. Ini surat apa surat kabar? :-)

      Delete
    2. Hahah.. Hebat banget bisa nulis sampek 4 halaman gitu :D

      Delete
    3. Emang super aneh jaman muda dulu. :-D

      Delete
  3. Kadang pengin mengulang masa kecil anak2 spy bisa menjalani acara2 adat gini dg lengkap heheee....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau yang masih pegang teguh tradisi biasanya gitu ya mbak. Kalau mbak Lusi sendiri dulu pake gitu nggak?

      Delete
  4. Bntr mbak. Saya tanya mama saya dl. Dulu pilih apa ya sayanya. Enak mbak kalau dah tahu bakat minat dari kecil. Febriyanlukito.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Ryan dulu jg pake dikurung gitu mas? Weh, bisa dibagi tuh ceritanya.

      Delete
    2. Gak dikurung Mbak seinget saya. Cuma ditaruh aja bbrp barang di depan. Masalahnya saya gak ingat.
      Febriyanlukito.com

      Delete
  5. Saya dulu milih apa ya...Emak nggak pernah cerita.
    Jangan2 jaman itu yang ada hanya onde, cermin sisir, dan uang thok
    Yang jelas saya jadi Jenderal, blogger, dan bisa menerbitkan buku
    Terima kasih atas sajian artikel yang inspiratif
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilih koin emas kayaknya Pakde. Hehe...

      Delete
  6. mengenali bakat anak memang gampang-gampang susah ya mbak, apalagi kalau si anak suka bosenan, seperti anak saya misalnya, seneng nggambar sy masukkan sanggar lukis sampai pernah ikut pameran, habis itu gak mau les lukis lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi masih mau melukis atau menggambar kan mbak?

      Delete
  7. mmm anakku sukanya ganti-ganti mak, suka ikut-ikutan juga, kalo dia lihat aku lagi gambar, dia gambar juga, ntar aku baca dia baca juga hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah minatnya banyak tuh. Ditunggu dulu kali ya mak. Lama-lama kelihatan nanti.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.