Skip to main content

Biarkan Anak-anak Itu Berlomba

Sabtu (30/8) lalu saya mendampingi kedua anak saya mengikuti lomba mewarnai yang diselenggarakan oleh Polres Kota Madiun. Murid kelompok B setengah diwajibkan ikut, sedangkan murid kelompok A tidak wajib ikut. Berhubung anak saya ada di kelompok A dan B, maka mau tak mau si adik pasti ikut kakaknya.

Ini pertama kalinya anak-anak saya ikut lomba mewarnai. Mereka senang bukan kepalang. Apalagi saat saya belikan perlengkapan mewarnai, yakni meja lipat kecil, spidol dan krayon.

Sampai di Polres kurang lebih pukul 8 pagi, ternyata banyak yang sudah datang. Bu guru yang sedari pagi datang ke lokasi segera menunjukkan tempat untuk kedua anak saya. Berbekal tikar sebagai alas duduk, saya tempatkan anak-anak saya lengkap dengan 'peralatan tempur' mereka. Anak saya makin senang ketika ibu guru memberinya kartu nama untuk dikenakan di dada dengan peniti.

Sembari menunggu lomba dimulai, seorang ibu guru memimpin kegiatan menyanyi dan kreasi tepuk. Judul tepuknya tepuk lalu-lintas. Begini tepuknya:

Tepuk lalu-lintas!
Plok, plok, plok.
Merah.
Plok, plok, plok.
Berhenti.
Plok, plok, plok.
Kuning.
Plok, plok, plok.
Hati-hati.
Plok, plok, plok.
Hijau.
Plok, plok, plok.
Jalan terus.

Merah, kuning, hijau
Lampu lalu-lintas.
Oke, oke.
Yes! Yes!

Lomba dimulai 30 menit kemudian. Lembar mewarnai dibagikan ibu guru. Ya, namanya juga anak-anak, belum waktunya mulai tapi sudah ada yang mencuri start. Gambar yang diwarnai adalah gambar pak polisi lalu-lintas yang sedang bertugas di depan sekolah membantu menyeberangkan dua anak sekolah.

Saat lomba dimulai, suasana menjadi sangat meriah. Ada anak yang sibuk mewarnai satu objek saja. Saking terpesonanya barang kali, ya. Sementara anak lain sudah mewarnai seperempat lembar, dia masih sibuk 'mengelus-elus' satu gambar. Ada juga yang sibuk meminta pendampingnya memilihkan warna. Ada yang sibuk contek-contekan dengan teman di sebelahnya. Ada yang mewarnai dengan teknik tertentu, ada juga yang semau gue. Wah, pokoknya lucu-lucu.

Bukan cuma tingkah polah anak-anak saja yang lucu, tapi juga tingkah orang tua dan pendamping. Ada yang sibuk mengarahkan anaknya memilih warna, ada yang sibuk ikut mewarnai pekerjaan anaknya, ada juga yang sibuk mengkritik pilihan warna anaknya. Ini yang ikut lomba anaknya atau orang tuanya, sih? Padahal panitia sudah sibuk mengingatkan terus-menerus agar orang tua tidak berada di dekat anak mereka agar jangan ikut campur. Tapi peringatan tinggal peringatan.

Akhirnya lomba usai sekitar pukul 10. Hasil lomba pun diumumkan seusai penjurian. Ada 10 anak yang diberi hadiah kejuaraan.

Lepas dari lomba itu, ternyata masih ada yang tak berubah dalam budaya kita. Beberapa tahun lalu saya pernah bekerja di sebuah EO yang sering menggelar lomba lukis dan mewarnai. Sama dengan lomba mewarnai ini, para orang tua kerap turut campur dalam lomba. Ada yang secara fisik betul-betul membantu si anak, ada juga yang mendikte hingga mengintimidasi si anak. Intimidasinya bukan cuma soal pilihan warna, tapi juga teknik melukis atau mewarnai. Tak jarang para orang tua sibuk menyatroni panitia bertanya ini-itu seputar penjurian. Bahkan tak hanya sekali para orang tua berusaha mengintip proses penjurian yang tertutup hingga menimbulkan persaingan sengit antarorang tua. Lho, aneh kan? Anaknya tenang-tenang saja ikut lomba, orang tuanya heboh ke sana ke mari.

Yang juga sempat saya catat dari merebaknya lomba melukis dan mewarnai di awal abad ke-21 (baca: tahun 2000 ke atas) adalah fenomena pemenang langganan. Bagaimana tidak langganan kalau pemenangnya itu lagi itu lagi. Lucunya lagi, pemenang langganan ini rata-rata memiliki ekspresi datar saat mereka dinyatakan menang. Sudah terlalu biasa mungkin. Kadang-kadang panitianya kecewa karena itu. Kok seperti tidak bersyukur, gitu. Ya, panitia juga manusia.

Bagaimanapun, alangkah baiknya para orang tua atau pendamping mengikhlaskan anak berlomba. Mengajari teknik, boleh, tapi jangan di saat lomba. Biarkan anak-anak itu berlomba, Bu, Pak. Masa Anda sudah lewat.

Comments

  1. jadi inget dulu, yg menang pasti yg itu2 aja hehehe...tepuknya asik juga ya mbk

    ReplyDelete
  2. sedih ya mbak kl pemenangnya itu itu terus.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.