Skip to main content

Magic Book

Punya anak usia pra-sekolah itu menyenangkan, sebab bahan belajarnya adalah mainannya! Seperti yang ini: Magic Book Pintar Matematika terbitan Wahyu Media.

Lucu

Buku ini mengenalkan penjumlahan dan pengurangan untuk anak usia 3-5 tahun. Selain lucu, buku ini aman sebab ujung-ujungnya tumpul mengikuti bentuk kepala si harimau. Buku ini pun hemat sebab kertasnya tebal dan kuat sehingga tak mudah sobek dan halamannya licin. Untuk apa licin? Supaya bisa ditulisi dengan spidol nonpermanen yang disediakan sebagai bonus di dalam kemasannya dan bisa dihapus, ditulisi lagi, dihapus lagi dan seterusnya. Sayangnya saat kami beli buku ini, spidolnya sudah kering - ya mungkin masalah teknis saja - jadi diganti dengan spidol nonpermanen lainnya. Tak apalah.

Di halaman 1-4, anak-anak diajak mengenal angka 1-20. Kemudian di halaman-halaman selanjutnya anak-anak diajak menghitung jumlah benda dan menghubungkannya dengan bilangan yang tepat.

Mulai halaman 10 anak-anak diajak belajar menghitung. Ada penambahan dan pengurangan. Tentu saja dengan aneka gambar menarik dan berwarna cerah.

Ada pula selingan mengisi angka yang hilang pada jam dan pada gambar jagung dot-to-dot. Di halaman terakhir, halaman 26, barulah anak diajak berhitung 'betulan' alias dengan notasi bilangan saja tanpa menghitung gambar.

Anak saya yang berusia hampir 4 tahun sangat menikmati buku ini. Meski belum paham betul, tapi yang penting adalah ia tertarik belajar dengan buku.

Yang kurang pas di buku ini menurut saya adalah adanya tampilan gambar benda yang kurang akrab dengan anak-anak, seperti gambar cutter dan rautan di halaman 18 serta di halaman 23. Cutter, jelas bukan mainan anak-anak, sedangkan gambar rautannya kurang jelas. Kemudian penjumlahan dengan angka-angka 'besar', yaitu di atas 10, cukup menyulitkan, terutama bagi anak saya.

Selebihnya, buku ini asyik dipakai belajar anak. Belajar sambil bermain tentunya.

Comments

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.