Skip to main content

Laa Ilaha Illallaah Muhammadur Rasulullaah

Kisah lucu dalam keseharian sering berseliweran di hadapan kita. Terkadang kita sebagai subjek kisah, terkadang pula berperan sebagai objek, tak jarang pula sebagai penonton semata. Kisah lucu berikut ini terjadi kira-kira sepuluh tahun yang lalu.

Waktu itu libur Idul Fitri baru saja lewat. Saya dan rekan-rekan kerja saya sudah harus kembali masuk kerja. Tapi ada satu rekan saya, sebut saja namanya Rini, yang belum muncul juga di hari pertama masuk kerja itu. Seorang rekan lain, sebut saja namanya Wawan, merasa penasaran. "Santai sekali si Rini ini", begitu mungkin batin si Wawan. Jangan bayangkan tempat kerja kami sebuah kantor besar, ya. Kantor kami kecil dengan sedikit pekerja tetap. Baru ramai kalau ada event. Jadi, terkadang memang bisa santai sedikit, hehehe...

Ketika sampai pukul 10 pagi Rini belum muncul juga, Wawan berinisiatif menelepon ke ponsel Rini. Demi mendapatkan berita absennya Rini secara 'live', teleponnya disetting dengan  speaker luar. Harapannya tentu saja agar orang sekantor dengar.
Tuuuut...

"Halo", suara seorang perempuan di sana.

"Hei, ke mana aja kamu kok belum masuk?! Yang lain sudah ngantor, lho", cecar Wawan.

"Lagi beli bakso", jawab yang di sana.

Sontak Wawan langsung bertahlil. "Laa Ilaha Illallaah..."

Wawan memang punya kebiasaan bertahlil kalau menghadapi sesuatu yang membuatnya tak habis pikir.

"Muhammadur Rasulullaah...", jawab yang di sana tak mau kalah.

Saya dan seorang rekan yang ada di sana langsung terbahak-bahak. Memang di kantor pun Wawan dan Rini merupakan rekan eyel-eyelan yang 'baik'.

Wawan langsung mencecari Rini dengan pertanyaan lain, tapi jawabannya sepi. Setelah beberapa saat, akhirnya yang ada di ujung telepon berkata, "Anu, Mas, Rininya lagi beliin bakso untuk tamu. Nanti kalau udah pulang saya bilangin suruh ke kantor". Lah??? Jadi ternyata itu tadi adalah ibunya Rini! Rini pergi tanpa membawa ponselnya. Refleks Wawan meminta maaf dengan sopan lalu menutup telepon. Saya dan rekan lain pun kembali terbahak-bahak hingga berurai air mata dan perut sakit.

Sampai kini saya masih suka tertawa sendiri kalau ingat kisah itu. Saya juga yakin kalau Wawan masih mengingatnya juga.

Setiap kisah ada hikmahnya, pun kisah lucu. Jadi, apa hikmah dari kisah ini? Saya kira penting bagi kita untuk membuka percakapan dengan baik di telepon. Jangan langsung tancap gas saja. Siapa tahu salah orang.

Diikutkan dalam "The Silly Moment Giveaway" Nunu el Fasa dan HM Zwan

Comments

  1. Hehe...salah orang ya Mak....untung Ibunya gak galak ya....hehe

    ReplyDelete
  2. Hahaha.... kesian deh mas wawan...
    Rekan eyel eyelan tg baik..jd inget jaman ngantor dlu aku jg punya tmn eyel2an mbak rasanya kl sehari ga geger dan eyel2an tu ga seru bgt :p

    ReplyDelete
  3. mbak Irowati: sebenarnya ya sdh kenal dg ibunya Rini juga. pokoknya dulu itu keluarganya teman2 jg kenal.

    mbak Muna: seru mbak kl ada tim heboh spt itu. kl mereka ga ada jd sepi.

    ReplyDelete
  4. Wah salah sambung yang bikin hikmah brarti ya mbak...serunya pengalaman bersama teman-teman :)

    ReplyDelete
  5. iya mbak, teman2 kerja dl msh pd single semua jd rame. skrg pun msh sambung silaturahmi meski cm lwt sms atau fb.

    ReplyDelete
  6. untungnya ucapan spontannya bagus, ya, Mbak. hihihi... lucu.
    btw saya dulu tempat kerjanya juga kecil gitu, jadi suasananya juga sangat kekeluargaan gitu :)

    ReplyDelete
  7. iya mbak Diah. suasana itu jg yang bikin kangen.

    ReplyDelete
  8. hahahaha..untung bukan bapakanya ya mak xixixi
    terdaftar
    terima asih sduah mengikuti GA silly moment
    salam^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.