Skip to main content

Mlipir Biar Tidak Mubazir

Ini adalah masalah yang dihadapi warga perumahan tempat saya tinggal dan warga yang tinggal di desa seberang jalan.

Perumahan kami ini terletak di Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Kami memiliki akses langsung ke Jalan Raya Ponorogo. Jalan raya ini sangat ramai. Kendaraan besar pun melintas di sini. Ya, namanya juga jalan raya antarkota. Akibatnya, kami kesulitan untuk menyeberang jalan. Terutama di jam sibuk, yakni pagi saat jam berangkat sekolah dan kerja, serta sore menjelang maghrib. Sangat sering sekali saya harus menunggu lama untuk menyeberang sewaktu mengantar anak ke sekolah. Memang sih, ada polisi yang membantu proses penyeberangan, tapi itu hanya ada di pagi hari sampai kurang lebih pukul 7.00, sedangkan saya berangkat sekitar pukul 7.30.

Jalur luar kota ini dikenal juga sebagai 'Jalur Gaza'. Pengendara di jalur ini jarang yang melaju pelan. Hampir semua menggeber kendaraan secepat-cepatnya. Ya motor bebek, motor matic, mobil, bis kecil, bis besar, truk, bahkan truk tangki.

https://monster-bego.blogspot.co.id/2013/05/kecelakaan-motor-di-indonesia-yang.html?m=1

Sudah begitu, etika berkendaraan pun kurang. Kebanyakan sepeda motor tidak mau memberi jalan kepada penyeberang meski sudah diberi kode. Hajar ajah!

Nah, dengan alasan itulah banyak pengendara sepeda dan sepeda motor yang ambil jalan pintas: mlipir alias melawan arus lewat pinggir jalan.  Bahkan, ssst... kadang saya pun mlipir hampir sepanjang 1 km sampai lampu lalu lintas terdekat. Lumayan kan biar bensinnya tak mubazir karena menunggu terlalu lama.

Awalnya ketika baru jadi penduduk di sini saya sempat protes saat diajak mlipir oleh suami. Tapi setelah pegang sepeda motor sendiri plus memboncengkan dua anak kecil, saya pun maklum dan ikut-ikutan.

Acara mlipir-melipir ini pun sudah jadi semacam konsensus bersama. Asal pelan-pelan, sah-sah saja. Tahu sama tahu lah antara pemlipir dengan pengendara yang datang dari arah berlawanan. Tapi kendaraan roda empat tidak boleh mlipir, lho, ya.

Dan 'anehnya', sepertinya kebiasaan mlipir ini sudah 'direstui' dari sononya, sebab sepanjang jalan raya ini disisakan ruang untuk mlipir. Yaitu lapisan aspal lama yang kalau ada proyek pengaspalan ulang tak pernah ikut diaspal. Jadilah jalan rayanya makin tebal sementara bagian tepinya makin 'kemripik' saja. Surga bagi para pemlipir.

Walaupun enak, mlipir tetap mengandung resiko, seperti kecelakaan karena bertabrakan dengan kendaraan yang datang dari depan. Menurut saya agar kegiatan mlipir-melipir ini berakhir, ada baiknya ditambah lampu pengatur lalu lintas sehingga laju kendaraan dapat terkendali.

Comments

  1. loh tggl di madiun to mbk....saya suka mlipirrr aplgi kl macet.fiuhhh...

    ReplyDelete
  2. iya mbak HM. kl macet 'wajar' ya, hehehe...

    ReplyDelete
  3. Wajar kenceng...jalan sepi ga macet...coba kalau macet seperti jakarta...yo ra iso...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.