Skip to main content

Horornya Khayalan Anak-anak

Anak-anak berkhayal itu sangat wajar dan normal. Anak yang tidak berkhayal malah sepertinya tidak normal. Khayalan anak-anak pun seringkali liar dan bebas. Sangat murni tanpa ada filter.

Suatu kali seorang teman anak saya yang berusia sekitar 5 tahun berkata kepada anak saya, "Waktu bayi aku dibuang". Wah, saya yang ikut dengar jadi trenyuh sekaligus geli plus khawatir. Trenyuhnya karena anak itu memang 'yatim piatu'. Ayahnya di pulau lain, ibunya jadi buruh migran di negeri lain nan jauh. Sempat terpikir oleh saya, apa ini yang terlintas dalam pikirannya? Dibuang.

Gelinya karena saya membayangkan si anak ini sedang menirukan sinetron atau tontonan lain yang ada narasi seperti itu. Khawatirnya, saya takut ada orang lain yang mengatai dia begitu. Semoga tidak. Semoga anak itu hanya berkhayal murni.

Di kali lain dia datang bermain lagi ke rumah dan berkhayal yang lebih horor lagi. Katanya, "Ayahku jahat. Ibuku dibunuh Ayahku. Sekarang aku nggak punya ibu". Waduh...! Horor betul, deh.

Kali kedua itulah saya merasa perlu prihatin. Dapat dari mana ide cerita itu? Walaupun hanya tetangga, kadang saya merasa harus ikut 'terlibat' dalam mengontrol perilaku anak-anak di sekitar, terutama yang berteman dengan anak saya. Sebuah teguran atau arahan seringkali cukup bagi saya untuk sekedar 'menggugurkan kewajiban'. Ya, mau bagaimana lagi, anak orang lain bukanlah anak saya. Terlalu dalam terlibat juga bisa menimbulkan masalah baru, namun diam saja juga tidak sehat bagi perkembangan si anak dan anak saya.

Comments

  1. kok anak kecil bisa horror gitu ya?

    ReplyDelete
  2. ya itulah mbak. saya aja sampe bergidik. apa lihat dr tv apa gmn ga tau. kasihan anaknya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.