Susahnya Punya Anak Laki-laki

Punya anak lelaki konon menghabiskan tenaga. Nakal, tak bisa duduk diam, itu yang kerap menjadi keluhan orang tua. Kakak saya sendiri juga mengalami 'kekagetan' saat punya anak laki-laki setelah menikmati nyamannya punya anak perempuan.
Saya yang punya dua anak laki-laki yang jarak umurnya hanya satu tahun dua bulan tak sempat merasa terkaget-kaget, tapi langsung pusing tujuh puluh keliling. Mungkin ada benarnya yang dikatakan orang-orang. Anak-anak saya sungguh menghabiskan energi.

Kreativitas mereka seringkali bertabrakan dengan saya. Tak jarang saya bertengkar dengan mereka gara-gara salah paham. Waduh, ini saja anak-anak saya masih balita, bagaimana nanti kalau mereka lebih besar lagi. Semoga ketika masanya tiba, mereka dan saya sudah bisa saling memahami.
Meskipun demikian cara pandang dan minat yang berbeda sering membuat saya terhibur dengan tingkah laku dan ide mereka. Ada juga yang membuat saya geleng-geleng kepala tak habis pikir.
Seperti kegirangan mereka saat sedang bepergian sekeluarga dengan sepeda motor. Tiba-tiba si sepeda motor mogok berjalan karena kehabisan bahan bakar. Sungguh aneh bagi saya. Kenapa bisa anak-anak saya itu justru senang sekali saat harus mendorong motor sampai tempat penjual bensin. Saya yang uring-uringan pada awalnya akhirnya menjadi tenang dan dapat menikmati 'petualangan' ini.
Juga di saat si bungsu menjadikan kaca spion mobil sebagai tempat tempat ayunan, walhasil patahlah spion itu. Bukannya bersedih, mereka malah gembira. Barangkali mereka berpikir bahwa ini saatnya mereka bisa melihat proses perbaikan atau penggantian spion.
Belum lagi kesukaan mereka main air, main pasir dan tanah, membongkar mainan, mengejar-ngejar kucing dan ayam tetangga, lonjak-lonjak di kasur sungguh membuat jengkel. Terkadang ingin rasanya punya anak yang bisa main yang bersih-bersih saja, yang kalem-kalem saja.
Namun, ternyata tingkah-laku 'laki-laki' yang sering membuat saya jengkel itu menenangkan. Bagaimana bisa? Terkadang mereka pun bermain mainan anak perempuan seperti masak-masakan dan bermain boneka! Bahkan si sulung lebih suka dengan tokoh Minnie Mouse daripada Mickey Mouse! Duh, bagaimana dong? Baiklah Nak, Ibu berubah pikiran, silakan main yang seru-seruan saja. Berantakan pun boleh daripada kalian main yang lembut-lembutan.
Barangkali ada juga ibu yang punya pengalaman serupa?

Comments

  1. anak saya juga dua cowok semua mak. tiap hari kayaknya ga afdol bagi mereka kalo belum denger saya ngomel2. kalo orang denger mungkin saya dibilang ibu tiri kali saking tiada hari tanpa ngomel ke mereka hehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi...senasib ya mak! Tp biarpun bgitu pasti waktu mereka tidur pingin kita ciumi habis-habisan sambil bilang, "maafkan ibu ya. I love you".

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular Posts