Ke Dokter Gigi Di Puskesmas Saat Pandemi, Ternyata Begini

periksa-gigi-berlubang

Hai, assalamu alaikum.

Pandemi Covid-19 sudah hampir memasuki usia 1 tahun sejak ramai diberitakan tapi belum juga ada tanda mereda. Di beberapa negara seperti New Zealand dan beberapa kota di China memang sudah dinyatakan bebas Covid-19. Tapi di sebagian besar negara lain di dunia belum. Termasuk di Indonesia.

Sakit gigi saat pandemi ini ibarat buah simalakama. Maju kena, mundur kena. Ke dokter gigi di puskesmas saat pandemi, bisa tidak? Jangan-jangan malah ketularan Covid-19 di sana.

Rada takut juga soalnya ada puskesmas yang terpaksa ditutup sementara gara-gara tenaga kesehatannya ada yang positif. Padahal cuma di puskesmaslah masyarakat bisa dapat pelayanan murah bahkan gratis.

Itulah yang dialami suami saya. Sudah ada satu pekan ini gigi gerahamnya sakit. Nyut-nyutan ga karuan. Sampai ga bisa kerja. 

Sebelumnya juga pernah sakit tapi setiap kali minum obat pereda nyeri, sakitnya hilang. Kali ini tidak. Meski sudah diobati, nyerinya ga mau pergi.

Setelah menderita selama satu pekan, akhirnya memutuskan untuk ke dokter gigi. Sudah dicoba dengan aneka cara alami mengobati sakit akibat gigi berlubang tapi belum reda juga nyut-nyutannya. Untung gusinya ga ikut rewel berdarah.

Kalau saya dulu problemnya ada dua: gigi berlubang dan satu lagi gigi geraham bungsu tumbuh miring.

Dokter gigi praktik swasta terdekat hanya buka praktik saat sore sesudah maghrib. Sakit sudah ga ketulungan maka kami mencari dokter gigi yang buka praktik pagi hari.

Menurut adik ipar, di Kota Madiun ada klinik gigi yang buka pagi jam 8 dan ga perlu pesan tempat dulu. Bisa mendadak ditangani gitu.

Pagi-pagi jam 7 kami berangkat dari rumah. Sampa tujuan ternyata diberi tahu penjaga klinik bahwa sekarang dokternya hanya praktik sore. Ya sudah kami balik kanan.

Dari situ kami berikhtiar ke rumah sakit swasta terdekat. Siapa tahu ada dokternya. Ternyata malah sejak pandemi poli gigi tidak buka.

Akhirnya kami putuskan untuk ke puskesmas. Ambil risiko ketemu orang banyak, sih karena selalu ramai. Tapi ya gimana lagi?

Sampai di puskesmas, hari Jumat adalah harinya imunisasi. Banyak bayi dan batita yang mau divaksin, digendong ibu mereka. Serem juga pasti bawa bayi di masa pandemi begini. 

Saya antri ambil nomor. Dapat nomor 18. Belum banyak nih, alhamdulillah. Kira-kira 10 menit, nomor saya dipanggil. Berbekal kartu BPJS Mandiri, saya mendaftarkan suami saya. 

"Poli Gigi, bisa?"

"Bisa."

Periksa-gigi
Gigi sehat itu mahal harganya


Kemudian saya selesaikan prosedur pendaftaran dan segera memulangkan anak-anak yang sedari tadi menunggu di mobil. Lebih baik mereka di rumah aja deh. 

Dari rumah, saya dan suami balik lagi ke puskesmas dengan harapan tinggi. Bisa ditambal. Biar giginya ga sakit lagi.

Sampai di puskesmas lagi, tidak ada 10 menit menunggu, suami saya dipanggil. Sepertinya pandemi ini membuat kerja di puskesmas lebih cepat. Kalau dulu sering menunggu lama, sekarang tidak lagi. 

Btw, saya terakhir ke puskesmas menjelang virus corona dinyatakan masuk Indonesia. Dan kinerja puskesmas saat itu berbeda dengan yang sekarang. Mungkin untuk menghindari risiko nakes terpapar sehingga pemeriksaan lebih cepat.

Masuk ke ruang Poli Gigi, bu dokter menemui kami dengan masker dan face shield. Pakai pakaian hijau di luar pakaiannya. Apakah itu APD level 1? Saya tidak tahu.

Bu dokter menanyakan keluhan dan memeriksa gigi di kursi, bukan di tempat duduk yang khusus untuk tindakan itu. Peralatan itu malah ditutupi kain hijau. Saya kira apa, ternyata...

"Begini, Pak," dokter membuka penjelasannya.

"Berdasar asumsi saya, gigi Bapak bla-bla-bla... dan seharusnya dibla-bla-bla."

"Namun karena pandemi saya tidak bisa melakukan tindakan, karena risiko penularan lewat rongga mulut itu 99,9%." ujar Bu Dokter sambil menunjukkan buku pedoman pemeriksaan di kala pandemi.

Kami berdua melongo.

"Jadi gimana?" tanya kami bingung.

"Ya saya cuma bisa memberikan resep obat pengurang rasa sakit."

Lalu dokter bercerita kalau semua klinik gigi tidak melayani tindakan, baik itu mencabut, menambal ataupun menghilangkan karang gigi. Tindakan hanya bisa dilakukan kalau keadaan mendesak.

Sebetulnya ada dokter di kota yang bersedia melakukan tindakan, tapi syaratnya berat.

Pertama, calon pasien harus menjalani rapid test mandiri. Nilainya bisa sampai 300 ribu sekian rupiah.

Kedua, calon pasien bersedia berbagi biaya APD level 3 yang nanti dikenakan dokter gigi, 50:50. Nilainya bisa mencapai 600 ribu sekian.

Jadi kira-kira dengan biaya hampir 1 juta rupiah baru bisa dilakukan tindakan. Itu belum termasuk biaya perawatan. 

Wow. 

"Ya begitu, Pak. Kami tidak bisa mengambil risiko tertular. Ibaratnya biaya perawatan 400 ribu itu tidak sebanding dengan risikonya."

Kami manggut-manggut. Maklum. Sangat maklum. Harga seorang tenaga kesehatan itu mahal. Jumlah mereka terbatas dan mereka juga punya keluarga. Wajar kalau para nakes berusaha melindungi dirinya sedemikian rupa. 

"Kalau pandemi sudah dinyatakan selesai, saya siap melakukan tindakan," kata Bu Dokter.

Lalu beliau meresepkan obat dan antibiotik serta memberikan saran pencegahan.

Allohu akbar. Sungguh tidak ada sakit dan kesembuhan tanpa izin-Nya. Kami sudah berusaha. Sembuh atau belum, keputusan itu ada dalam genggaman Alloh.

Begitulah cerita kami ke dokter gigi di saat pandemi. Semoga yang sakit gigi segera sembuh. Sabar, ya. Kita doakan, yuk supaya semua tetap sehat dan pandemi segera berlalu.




1 Comments

  1. sama mba..di sini juga gitu. Klinik gigi tidak melayani tindakan.. Ini tambalan gigi, di gigi grahamku juga terkikis...harusnya dibenerin. Tapi tak diemin...lha pie meneh?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan berkomentar dengan baik dan sopan.

Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Komentar yang masuk tidak selalu saya balas.

Terima kasih.