Skip to main content

Wahai Orang Tua, Suruhlah Anak Berbohong Sekali Saja

Hah? Judulnya bener nih? Apa sih, masak suruh anak berbohong?

Wahai orang tua, ini betulan, suruhlah anak berbohong sekali saja dan Anda akan merasakan manfaatnya.

Oke, sebelum makin ga karuan, saya ingin cerita dulu latar belakangnya, ya. Jadi ceritanya pagi ini saya baca status seorang teman di facebook, Mbak Rani Yulianty. Beliau berkisah tentang teman anaknya yang terindikasi bermasalah. Si A, sebut saja begitu, beberapa kali mengatakan kalau anak Mbak Rani menyakitinya. Sampai-sampai bapaknya si A ikut komplain ke Mbak Rani. Ketika dikonfirmasi ke anak, si anak mengatakan bahwa dia tidak melakukan hal yang dituduhkan itu. Jadi, siapa yang berbohong? Si A atau anak Mbak Rani?

Dari beberapa komentar yang masuk ada yang mengatakan bahwa kemungkinan besar si A itu bermasalah. Ada juga yang menyebut bahwa anak-anak itu ada yang tidak polos juga, ada yang sukanya bikin drama karena berbagai faktor.

Saya kok jadi ingat sama teman anak saya dulu yang juga, menurut saya, bermasalah. Miss Drama itu kalau main maunya sama anak saya yang pertama, sedangkan anak saya yang kedua disisihkan. Karena usia keduanya hanya terpaut satu tahun, wajar saja kalau anak saya yang kedua sukanya ikut main kakaknya ke mana-mana. Teman anak saya ini juga suka mengkhayal yang serem-serem. Ceritanya bisa dibaca di sini: Horornya Khayalan Anak-Anak.

Terus, apa hubungannya dengan menyuruh anak berbohong sekali saja?

Suatu kali saya nonton acara di BBC Earth tentang kebohongan. Di situ diadakanlah penelitian kecil-kecilan di jalanan. Sebetulnya itu semacam laboratorium sosial. Seorang pemain trik jalanan (apa ya istilahnya, semacam pesulap gitu) memberikan beberapa tebakan dan penonton diminta menebak. Yang paling menarik perhatian saya adalah ketika si pemain trik meminta seseorang untuk berbohong dan dia nanti akan membongkar kebohongan itu.

Pemain trik memberikan serangkaian kartu dan meminta seorang relawan untuk memilih kartu secara acak tanpa si pemain trik ketahui. "Simpan dalam hati," kata si pemain trik. Relawan melakukan yang diminta dan meletakkan kartu kembali ke tumpukan kartu yang kemudian dikocok oleh pemain trik. Selanjutnya bisa ditebak, pemain trik menemukan kartu yang dipilih relawan.

Uniknya, cara menemukan kartu tersebut adalah dengan membongkar kebohongan si relawan. Sebelum permainan kartu itu, pemain trik meminta relawan untuk berbohong. Iya, memintanya untuk berbohong. Agar apa? Agar pemain trik tahu ekspresi relawan saat berbohong. Ciri-ciri khusus itulah yang dimanfaatkan pemain trik untuk membongkar kebohongan.

Bingung?

Duh, saya nggak bisa runut menjelaskannya, ya?

Jadi gini. Seseorang ketika berbohong pasti akan menunjukkan tanda. Misalnya mata tak bisa fokus, mata berkedip-kedip, gerakan badan tak tenang, mungkin menggosok bibir, menutup mulut sejenak atau apalah. Yang jelas orang yang tak biasa berbohong pasti akan gelisah sehingga membuat dirinya mengekspresikannya dalam gerakan tak wajar.

Anak, yang notabene masih bersih, pasti juga merasa tak nyaman saat berbohong. Nah, inilah kesempatan emas bagi orang tua untuk mengetahui ciri anak berbohong.

Suruh anak berbohong dengan sengaja satu kali saja. Caranya bagaimana? Beri anak pertanyaan yang jelas-jelas dimengerti namun harus dijawab dengan kebohongan. Misal: "Adek tadi belum makan pagi, kan?" Suruh anak menjawab dengan kebohongan. Lihatlah, anak akan menjawab dengan nada aneh, ekspresi tak nyaman, bahasa tubuh gelisah. Catat reaksi itu dalam ingatan. Simpan baik-baik. Ketika nanti dibutuhkan, saat orang tua melakukan cross-check atas satu laporan, misalnya, bisa digunakan. Jadi akan ketahuan, anak bohong atau tidak?

Begitu ya, jadi perihal menyuruh anak berbohong sekali saja ini beneran, bukan judul yang dibikin biar viral.

Gimana, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, ada pengalaman membongkar kebohongan? Cerita dong di kolom komentar. Yuk, yuk!


Comments

  1. Yen anakku seneng bukan bohong mba..tapi ngayem ayemi mbokne, jadi misal habis ulangan, ditanya.."bisa ulangan?" HMpir tak pernah dijawab nggak bisa. Jawaban hanya 2...bisa dan agak.

    Klp dia jawab agak... itu artinya siap2 untuk remidi

    ReplyDelete
  2. Dulu anak saya suka ngomong terbalik. Kalau udah makan bilang belum. Seperti itulah kira-kira. Tapi memang buat seseruan aja meskipun sempat keterusan. Tapi lama-lama brenti sendiri. Dan saya pun bisa lumayan bisa membedakan kapan dia sedang ngomong terbalik atau tidak :)

    ReplyDelete
  3. Hmm.. menurut saya kalau anaknya belum tahu konsep bohong, kalo anaknya tidak tahu kalo bohong itu tidak boleh, salah, dst.. tanda-tanda itu ga akan keluar mbak, karena kan dia kan ga merasa bersalah :D
    Jadi, intinya harus diberi pengertian dulu ke anak.. kalo bohong itu ga boleh, dst..
    Soalnya, saya pernah ketipu sama anaknya.. benar-benar smooth cara dia bohong, tapinya setelah dikasih tau, belum nyoba juga sih, karena anaknya ga bohong lagi..
    Ceritanya disini mbak: http://www.lemonjuicestory.com/2017/07/ganeshas-first-innocence-lie.html

    ReplyDelete
  4. Orang yang gak biasa bohong memang akan terlihat kaku dan memperlihatkan ekspresi atau gerakan tak biasa saat berbohong Mba, jangankan anak yang memang masih polos, orang dewasa aja kadang gitu kok :)

    ReplyDelete
  5. akhirnya saya mengerti, terima kasih mbak ilmunya.. tapi anak bayi belum bisa disuruh bohong ya mbak?

    *kabur*

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Sila berkomentar dengan baik dan sopan. Mohon maaf, segala komentar spam, yang berisi link hidup atau yang menyebabkan broken link serta komentar yang mencantumkan identitas tidak jelas akan dihapus.

Popular posts from this blog

Kegiatan Ibu Rumah Tangga Saat Anak Sudah Beranjak Dewasa

Disclosure: Tulisan ini merupakan artikel bersponsor


“Kamu enak, Dek, masih punya anak kecil. Anakku udah remaja, apa-apa maunya dia lakukan sendiri,” curhat seorang saudara saya.

“Mau apa nanti aku, ya, jadi ibu rumah tangga saat anak sudah beranjak dewasa?”

Saya cuma bisa nyengir saja. Sama deh, saya juga ibu rumah tangga. Beberapa tahun lagi mungkin saya bakalan mengalami hal ini juga. Banyak tuh ibu-ibu yang bercerita, dulunya si anak mau diajak ke mana-mana. Sekarang? Boro-boro diajak, anaknya aja jarang ada di rumah.

Dulu, pas repot-repotnya mengurus anak balita, kita inginnya anak kita cepat besar, biar lebih enteng. Eh, setelah anak benar-benar besar dan mandiri, kita juga kebingungan mau ngapain di rumah seharian. Istighfar.

“Ngurus Posyandu aja, Mbak,” jawab saya iseng.

Saudara saya itu tinggal di perumahan model cluster di wilayah Solo Baru, Jawa Tengah. Kota satelitnya Solo ini termasuk yang cepat berkembang. Maklumlah, Solo memang salah satu kota besar di Jawa Tengah. Pen…

Mengurus Lapor Jual Kendaraan

Siang ini saya mengurus lapor jual kendaraan ke Samsat Polres Kabupaten Madiun. Untuk apa mengurus lapor jual kendaraan? Lapor jual dilakukan saat seseorang menjual kendaraan bermotornya. Mengapa harus dilaporkan? Hal ini berkenaan dengan pajak kendaraan bermotor. Kendaraan yang telah dijual namun belum dilaporkan akan tetap dikenai pajak atas nama pemilik lama. Jika pemilik lama memiliki kendaraan lebih dari satu, sesuai Peraturan Pemerintah dikenai pajak progresif.
Kendaraan yang dikenai pajak progresif adalah mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc. Jika seseorang memiliki kendaraan dua buah, makai dikenai pajak progresif 2% dari Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Jika tiga buah, pajak progresifnya 2,5%; dan seterusnya.

Cara Menonaktifkan Fitur Talkback Pada HP Samsung Galaxy Core Duo

Ini adalah cerita cara menonaktifkan fitur Talkback pada HP Samsung Galaxy Core Duo. Minggu lalu, tiba-tiba anak saya yang kecil lapor ke saya, "Bu, talkback itu gunanya untuk mengunci HP." Naluri saya bekerja, apa maksudnya mengunci? Ternyata betul, si Mas sedang berjuang mengembalikan settingan HP ayahnya yang dia utak-atik. Sejurus kemudian, dengan muka memelas, si Mas meminta bantuan saya.Kejadian ini bukan pertama kalinya. Sudah kesekian kali si Mas bikin kecelakaan pada HP. Kecelakaannya pun bermacam-macam. Anehnya, HP ayahnya pula yang kena, padahal HP itu lebih penting daripada HP saya. Iya sih, HP saya kalah canggih jadi baru dilirik kala HP si Ayah tak ada.